Malam telah larut… Di salah satu ruangan dalam rumah sakit, dua orang anak sedang berdiam diri dalam keheningannya masing-masing. “Aku takut mati, Ik…” ucap seorang dari dua anak tersebut. Ia biarkan tubuh lemahnya terbaring di atas tempat tidur. Ia tutup matanya perlahan. Mengulas memori-memori indah dalam kehidupannya.
Oik menatap anak itu lekat-lekat. Air matanya bergulir jatuh tanpa diminta.
“Masih banyak yang belum aku lakuin… Bahkan aku belum minta maaf padanya.” ucap anak itu seraya membuka matanya kembali.
………………………………..
Mungkin kau bertanya-tanya
Arti perhatianku terhadapmu
…………………………………….
Oik terdiam. Ia seka air matanya dengan punggung tangannya. “Apa karena ego kakak lagi?”
Anak laki-laki itu tersenyum pahit. “Mungkin.” Ia menolehkan kepalanya pada anak perempuan yang duduk di kursi, samping tempat tidurnya. “Aku takut, permintaan maafku gag sebanding dengan apa yang udah aku lakuin selama ini… Aku takut, dia gag maafin aku.”
-
Oik menghentikan langkahnya, saat melihat Debo sedang duduk termangu di taman Rumah Sakit. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa Debo bisa berada di sana, tengah malam begini. Perlahan, ia mendekati Debo, dan duduk di bangku kayu yang berada di sebelah tempat Debo sedang duduk di kursi rodanya.
Debo menoleh, dan mendapati Oik sedang tersenyum padanya. Ia membalasnya dengan senyuman tipis. “Kenapa kamu bisa ada disini?”
“Seharusnya aku yang tanya begitu.” protes Oik, yang disambut dengan cengiran Debo. “Sama siapa, De?” tanya Oik penasaran.
“Cakka.” jawab Debo. “Dia lagi beli minuman di kantin.” lanjutnya ketika menyadari Oik sedang mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Cakka.
Oik pun menengadahkan kepalanya, menatap taburan bintang di langit malam. “Apa begitu susah, untuk memaafkan seseorang?” tanyanya lirih.
Debo terhenyak. Alisnya bertaut satu sama lain, “Maksudmu?”
Oik menatap anak laki-laki di sampingnya, kembali. “Aku boleh cerita sesuatu?” pinta Oik, yang diikuti dengan anggukan Debo. “Mungkin kamu belum tau ini… Obiet adalah kakak kembarku… Aku sengaja merahasiakannya pada orang lain. Aku gag mau orang lain mengenaliku dengan status ‘bersaudara’ dengan salah satu anggota geng berandalan itu. Kamu tau? Aku juga benci sama dia. Aku sama sekali gag akan pernah memaafkan dia jika dia tetap memutuskan gag akan keluar dari geng itu. Tapi beberapa hari yang lalu… Aku mendengar keputusan yang tegas dari dia. Di depan mataku sendiri… Dia keluar dari geng itu. Dia mau memulainya dari awal. Dia gag mau membuat orang lain tersakiti lagi karena sikapnya. Karena itulah, aku menekan perasaan benciku darinya. Dan perlahan… rasa benci itu, terbayarkan dengan kata maafnya…” Kalimat demi kalimat tersebut akhirnya meluncur dari bibir mungil Oik.
Debo tercengang.
Oik tertegun. “Maaf Debo… Mungkin permintaanku ini terlalu egois… Tapi aku mohon, maafkanlah Obiet…” pinta Oik memelas.
-
Cakka mengambil beberapa lembar uang ribuan dari saku celananya, kemudian menyerahkannya kepada penjual minuman di kantin. Setelah itu, ia pun melangkahkan kakinya menuju taman Rumah Sakit, tempat Debo menunggunya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dokter dan perawat-perawat kalang kabut─berlari menuju salah satu kamar yang sedang dilewati Cakka.
DEG !
Cakka terkesiap. Bungkusan tas plastik berisi minuman botol yang dibelinya tadi, terlepas begitu saja dari genggaman tangannya. Dan sejurus kemudian, ia berbalik dan mengambil langkah cepat beranjak dari tempat itu.
-
Debo tak bergeming. Oik semakin putus asa dibuatnya. “Aku tau, itu sulit. Tapi yang perlu kamu tau, kesalahan Obiet padamu, sama sepertiku. Kesalahannya hanya satu, kan? Beda dengan kak Zahra… Dia sudah berkali-kali sakit hati karena sikap Obiet. Namun, dia selalu membuka pintu maafnya pada Obiet.” Oik terdiam sesaat, memperhatikan raut wajah Debo yang mulai melunak. “Jadi… kamu mau maafin Obiet, kan?”
…………………………………..
Pasti kau menerka-nerka
Apa yang tersirat dalam gerakku
……………………………………….
Debo menatap gadis di sampingnya─tak percaya, “Mengapa justru kamu yang bersikeras minta aku maafin dia? Kenapa dia gag datang sendiri untuk minta maaf?”
Oik tertegun. “Debo… Tolong pahami keadaannya…” Debo mengerutkan keningnya─tak mengerti. Belum sempat Oik menjawab, tiba-tiba suara panggilan keras terdengar di belakang mereka. Mereka berdua menoleh dan mendapati Cakka sedang berlari ke arah mereka.
Dengan nafas yang masih terengah-engah, Cakka berusaha memberitau sesuatu pada Oik. “Obiet─” Dan hanya dengan satu kata yang sempat terucap dari mulut Cakka, Oik pun segera tau maksud Cakka. Ia langsung berlari dari tempat itu. Cakka segera mendorong kursi roda Debo, dan mengikuti langkah Oik dari belakang.
-
Debo menatap kosong ke depan. Bayangan Obiet saat ia melihatnya dari celah jendela, terputar berulang kali dalam benaknya. Debo menundukkan kepalanya dalam diam. Satu hal yang membuatnya tak mengerti adalah, mengapa Obiet mengeluarkan banyak darah dari mulutnya?? Ia terus berdebat dengan pikirannya, atas ketidak mengertiannya saat ini.
Oik mendudukkan dirinya di samping tempat Debo duduk di kursi rodanya. Ia menutup wajahnya, dengan telapak tangannya. Perlahan, isak tangis terdengar dari balik tutupan tangannya tersebut.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Obiet?” tanya Debo lirih, yang diikuti dengan gelengan kepala Cakka, yang bermaksud menjelaskan bahwa tak ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Obiet.
………………………………………
Akulah serpihan kisah masa lalumu
Yang sekedar ingin tahu keadaanmu
……………………………………….
“Kita harus memberitahunya, Cak!” sergah Oik tegas. Air mata terus mengalir dari matanya yang sipit.
Cakka menatap Oik, tak percaya, “Ik, kamu masih ingat kan, apa janjimu pada Obiet?”
“Tapi kita gag bisa nyembunyiin ini terlalu lama! Debo juga harus tau semua ini!” seru Oik, sesenggukan. Cakka melenguh dan akhirnya ia pun menyerah. Oik mengalihkan pandangannya pada Debo, “Debo, dengar aku…”
Debo memandang mata Oik yang sembab. Tampak keraguan yang terpancar dari raut wajahnya. “katakan…” ucapnya pelan.
“Obiet terkena ‘sirosis’… Kanker hati…”
-
Debo mengerutkan keningnya, saat mamanya masuk ke dalam kamar perawatannya dengan tergesa-gesa. Dan yang membuatnya lebih heran lagi, mamanya hanya diam saat dirinya bertanya, “Ada apa?”.
Perlahan, air mata mulai menetes dari mata sang mama. “Ma? Mama kenapa?” seru Debo panik. Mama Debo tetap menangis, namun beberapa saat kemudian ia menatap mata Debo, dalam. “Dede’...” Perlahan jemarinya memegang kedua pipi Debo, lembut. Debo sama sekali tak mengerti.
“Barusan, mama diberitau ayah Cakka… Dia bilang… Dia─dia bilang…” Mama Debo tampak sulit meneruskan perkataannya. Di satu sisi, ia merasa tak tega harus mengatakannya. Namun, di sisi lain, ia berpendapat bahwa Debo harus tau hal ini.
“Ma?”
Mama Nur memandang Debo, nanar. Kemudian perlahan ia membuka mulutnya kembali. “Saat kamu dilarikan ke rumah sakit beberapa hari yang lalu… Dokter mengatakan sesuatu pada ayah Cakka. Dokter bilang… kaki kamu harus diamputasi…”
-
Debo menghentikan kursi rodanya sesampainya di taman RS. Satu hal yang menjadi rutinitas Debo beberapa hari ini.
Merenung.
Sejak semua ketidak mengertiannya terungkap, kenyataan-kenyataan pahit terlihat jelas di hadapannya. Dalam hati, ia terus-terusan merutuk takdirnya! Ia bahkan sempat protes pada Tuhan, yang selalu memberikan cobaan yang tiada henti terhadapnya.
“Dokter bilang… kaki kamu harus diamputasi…”
Debo tersenyum kecut ketika perkataan mamanya tempo hari, terngiang kembali dalam benaknya. Ia beranggapan, ‘buat apa aku hidup tanpa sepasang kaki? hanya akan menambah beban orang-orang disekitarku!’
Debo memejamkan matanya perlahan. Menghirup udara sore yang beraroma sejuk sehabis hujan. Tiba-tiba, entah dari mana asalnya, bayangan Obiet terlintas begitu saja dalam benaknya.
“Jarak bukanlah alasan untuk memutuskan persahabatan…”
“Persahabatan kita tetap terjaga…”
“Brothers On 3… Geng berandalan…”
“Meskipun kamu yang benar dalam masalah ini.. Yang perlu kamu tau, guru-guru gag akan campur tangan.. Gag ada yang bisa menentang mereka..”
“Aku tau.. Permintaan maaf ini gag sebanding dengan apa yang udah aku lakuin tadi siang.. Tapi.. jika bisa.. Jika bisa.. Tolong maafin aku..”
“DEBOOOO……!!!!!!”
“Aku mendengar keputusan yang tegas dari dia. Di depan mataku sendiri… Dia keluar dari geng itu. Dia mau memulainya dari awal. Dia gag mau membuat orang lain tersakiti lagi karena sikapnya.”
“Maaf Debo… Mungkin permintaanku ini terlalu egois… Tapi aku mohon, maafkanlah Obiet…”
“Obiet terkena ‘sirosis’… Kanker hati…”
Satu tetes air mendarat di punggung tangan Debo. Ia mengusapnya. Kemudian, ia menempelkan telapak tangannya di matanya yang basah. Air mata? Aku menangis?, batinnya. Debo menyeka air matanya, peralahan. Lalu, mulutnya menggumam kecil, “Sirosis?” Ia tundukkan kepalanya dalam-dalam. Air kembali membasahi matanya…
Tuhan… apa aku harus melakukan ini?
-
Debo memutar roda kursinya menuju kamar perawatan Obiet. Ia menarik nafas terlebih dahulu sebelum membuka kenop pintu. Dan tampak seorang anak laki-laki yang sedang duduk di tempat tidurnya, serta seorang anak perempuan yang sedang duduk di sofa, dalam kamar itu.
Anak perempuan itu berdiri, memandang Debo takjub. Dan lalu sedetik kemudian, ia tersenyum lebar. Ia berharap, Debo datang kesini dengan niat untuk memaafkan Obiet. Dengan riang, ia menghampiri Debo dan mendorong kursi roda Debo mendekat pada Obiet.
……………………………………………
Tak pernah aku bermaksud mengusikmu
Mengganggu setiap ketentraman hidupmu
…………………………………………….
Obiet menatap Debo, canggung. ‘Mungkin ini waktu yang tepat untuk meminta maaf’, batin Obiet. Namun, sebelum ia mengutarakan kata maafnya, tiba-tiba ucapannya terpotong oleh Debo.
“Maaf…” ucap Debo dengan kepala tertunduk. Obiet terkejut. Begitu pula dengan Oik. Debo pun mengangkat kepalanya, dan menatap wajah Obiet yang agak pucat. “Selama ini, aku yang terlalu jahat. Karena gag pernah sekali pun maafin kamu. Jadi, tolong maafin aku ya, Biet…” ujarnya sembari menyunggingkan senyum lebarnya.
Obiet tercengang. Namun, sejurus kemudian, ia tersenyum. “Maafin aku juga ya, Debo.” Debo mengangguk pasti. Oik menghela nafas lega. Akhirnya, mereka bertiga pun asyik berbincang. Menceritakan kisah seru mereka selama terpisah. Hingga beberapa jam berlalu. Matahari telah kembali di peraduannya.
Debo terdiam sesaat, lalu menatap kedua mata Obiet, tajam. “Biet… Boleh aku minta satu permohonan.” Obiet mengangguk. “…Jika aku sudah gag ada lagi, tolong tetap jaga persahabatan ini…”
……………………………………….
Hanya tak mudah bagiku lupakanmu
Dan pergi menjauh
……………………………………….
Obiet terhenyak. Dalam hati, ia bertanya-tanya sekaligus tersenyum hambar. ‘Seharusnya aku yang mengatakan ini’, batinnya. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia sudah bertekad tak ingin memberitahu Debo masalah penyakitnya, sampai waktu menjemputnya.
Debo pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Obiet mengiyakan. Meskipun ia masih ingin mengobrol dengan Debo. Namun, ia juga semestinya sadar kondisi Debo saat ini. Oik pun juga pamit untuk mengantar Debo menuju kamarnya. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena Debo mau memaafkan kakak kembarnya tersebut.
Oik terus mendorong kursi roda Debo, melintasi koridor-koridor rumah sakit. Hingga langkahnya terhenti saat Debo menggumam sesuatu. “Aku mau bicara sesuatu.”
Oik pun mendorong kursi roda Debo menepi, dan duduk di kursi kayu di samping kursi roda Debo. Ia terhenyak saat melihat raut wajah Debo lebih jelas. Raut kekhawatiran, keraguan, ketakutan, kesedihan, kebimbangan, seakan bercampur menjadi satu dalam dirinya. “Debo?”
Debo pun menceritakan segala niat yang telah ia pikirkan sedari tadi pada gadis di sampingnya tersebut.
Mulut Oik ternganga lebar. Perlahan, air mata yang mulai dibendungnya sedari tadi menetes. Ia menggeleng kuat. Ia benar-benar tak setuju pada ide Debo saat ini. Meski ini demi kebaikannya dan kebaikan orang-orang di sekitarnya. Namun, ia sama sekali tak setuju… Tak setuju…
…………………………………….
Beri sedikit waktu
Agar ku terbiasa bernafas tanpamu
……………………………………..
--to be continued--
Kamis, 03 Juni 2010
FRIENDSHIP NEVER END [MUSICAL ADV] --> Chapter 6 : Kusesali untuk Dirimu
Semua anak menunggu di ruang tunggu rumah sakit dengan gelisah bercampur cemas. Obiet terdiam. Matanya sudah terlalu bengkak untuk terus menangis. Diliriknya jam tangan biru langitnya. ‘3 jam…’ pikirnya. Sudah 3 jam berlalu, namun dokter sama sekali belum menampakkan batang hidungnya sejak masuk dari ruangan UGD. Ia begitu tak sabar menanti penjelasan dokter mengenai keadaan Debo saat ini. Kemudian, pandangannya beralih ke arah Cakka yang sedari tadi menunduk. Di sampingnya, tampak ayah Cakka yang tak henti-henti menegurnya.
Hingga beberapa saat kemudian, penantian mereka pun berakhir. Pintu ruang UGD terbuka, dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Obiet beserta anak-anak yang lain segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan Debo. Dokter itu menarik nafas pelan. Tampak keraguan dalam raut wajahnya. Dokter itu pun meminta seseorang untuk menemuinya di ruangannya. Ia mengatakan jika ada satu hal penting yang harus ia katakan. Setelah itu, Ia pun memperbolehkan beberapa orang untuk masuk menemui Debo, sebelum dirinya berlalu bersama ayah Cakka.
Obiet dan yang lain masuk ke dalam ruangan Debo. Dan di ruangan itu tampak seorang Debo sedang duduk terpaku menatap kosong pada kakinya. “Kakiku kenapa?” ucapnya lirih, namun semua orang yang ada di tempat itu masih dapat mendengarnya. Obiet menutup mulutnya, tak percaya. Cakka tercengang. Semua anak yang ada di tempat itu, diam terpaku.
“Kenapa gag bisa digerakin?” Air mata Debo mulai menetes satu persatu. “KENAPA?! KENAPAA?!” Debo pun mulai berontak. Ia memukul kakinya berkali-kali. Perawat-perawat akhirnya turun tangan. Mereka menyuntikkan obat penenang pada Debo. Sesaat, Debo mulai tenang. Dan setelah itu, matanya menutup.
Perawat menyuruh Obiet dkk untuk membiarkan Debo istirahat. Dengan langkah gontai, serta perasaan kacau, mereka pun keluar dari ruang UGD.
“Debo…… lumpuh?” ucap Patton pelan. Shock…
Obiet terhenyak. Seketika, secuil kejadian saat Debo tertabrak mobil terputar kembali dalam otaknya. Ia pun menoleh ke arah Cakka dan menatapnya tajam. Perlahan, ia beringsut dari tempatnya berdiri, dan melangkah menghampiri Cakka. Dalam hitungan detik, Obiet telah berada di hadapan Cakka. “Ini semua gara-gara lo!” Cakka tak berkutik. Ia sama sekali tak melakukan perlawanan sedikit pun terhadap sikap Obiet kali ini.
Agni pun mencoba melerai mereka berdua. Bagaimana pun juga mereka sedang berada di rumah sakit. Tidak sopan bila mereka membuat keributan di tempat ini.
Cakka terus menunduk, namun sejurus kemudian ia mengangkat wajahnya─memperlihatkan wajah sendunya. Obiet terdiam. Ia berdebat dalam pikirannya. Ia sadar, jika Cakka merasa bersalah atas semua kejadian ini. Namun, terlambat. Rasa bersalahnya tak akan bisa mengembalikan kaki Debo.
“Mulai detik ini, gue keluar dari ‘Brothers on 3’.” ucap Obiet tegas dengan penekanan di kata terakhir.
Cakka melenguh. Irsyad mengangkat wajahnya, terkejut, menatap Obiet. Begitu pula dengan Oik. “Biet, lo serius?” tanya Irsyad seraya melangkah mendekati Obiet.
“Aku benci hidup dalam bayang-bayang kalian… Aku ingin jadi diri sendiri.” ucapnya perlahan.
Itu tandanya.. Kakak cuma mau menuruti ego kakak aja.. Kakak gag pernah mikirin orang lain yang sakit hati gara-gara ego kakak!
Perkataan Oik tempo hari terngiang kembali dalam benak Obiet. “Aku selalu menuruti egoku, tanpa pernah mikirin orang lain yang sakit hati gara-gara ini…”
Oik terhenyak. Namun, seketika ia tersenyum lembut. Obiet telah kembali…
“Selama ini… aku takut. Jika aku keluar dari geng ini, aku bakalan di-DO! Gimana pun juga, aku gag ingin itu terjadi. Sekolah ini merupakan salah satu impianku. Tapi sekarang aku menyadari satu hal. Bahwa persahabatan lebih dari apa pun. Persahabatan gag akan pernah bisa ditukar dengan apa pun, termasuk dengan sekolah ini.” ujar Obiet.
----------------------------------------------------------------
Sudah kuakui kesalahan yang pernah kubuka saat itu
Setulus hatiku kepadamu.
-----------------------------------------------------------------
Cakka dan Irsyad terdiam.
Obiet menarik nafas perlahan, kemudian menatap Cakka tajam. “Dan detik ini juga, gue siap untuk angkat kaki dari ICJHS.”
Cakka tercengang. Ia terus terdiam dan menunduk, tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Hingga tiba-tiba, ia mendengar suara erangan Obiet. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Obiet mengerang kesakitan sembari memegang kuat perutnya. “Biet…?”
-
Debo membuka matanya perlahan. Sinar matahari yang menembus jendela, membuatnya menyipitkan mata. Kemudian, ia bangkit dari baringannya. “Debo…? Kamu udah bangun?” Debo menoleh ke arah sumber suara. Gabriel mendekat ke arah tempat tidur Debo.
“Aku sudah telepon tante nur. Mungkin nanti malam dia sudah sampai disini…” ucapnya kemudian.
Debo tersenyum tipis. “Apa mama tau tentang kakiku?”
Gabriel terdiam. Ia menatap Debo, prihatin. “Aku belum memberitahunya. Lebih baik, kamu yang memberitahunya sendiri.”
kreeek…
Pintu ruang perawatan Debo terbuka, dan muncullah seorang gadis berambut panjang dengan keranjang buah di tangannya. “Sivia? Lo datang?” Gabriel tersenyum lebar melihat kehadiran gadis itu.
Sivia tertawa renyah, “Bukannya lo yang maksa gue untuk kesini?” kemudian, ia menaruh keranjang buahnya di atas meja. Lalu mendekat ke arah tempat tidur Debo, “Hai Debo… Udah agak baikan, kan?”
Debo tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
-------------------------------------
Kusesali lagi diri ini
yang tidak pantas untuk hidup.
-------------------------------------
Sivia menarik nafas pelan. Ia sudah mendengar mengenai kondisi Debo saat ini dari Gabriel. “Aku tau ini berat… Cobalah untuk tetap semangat.”
Gabriel menatap Sivia dalam diam. Perlahan, ia menarik bibirnya─tersenyum. Senyum yang lain dari biasanya. Senyum yang penuh kekaguman…
“Kenapa lo nglihatin gue?” protes Sivia saat menyadari gelagat aneh Gabriel. Gabriel tersadar. Seketika, ia tak bisa menyembunyikan kesaltingan-nya.
“mm… gu..gue mau cari perawat dulu.. mm… itu.. makanan buat Debo dari tadi belum diantar.” Tanpa pikir panjang, Gabriel langsung beranjak dari tempat itu, meninggalkan Debo yang tersenyum geli dan Sivia yang masih terbengong-bengong.
“Aku rasa… Kak Iel suka deh sama kak Via.” celutuk Debo. Ia mulai rileks. Sekuat mungkin, ia mencoba melupakan masalah kakinya. Tanpa diduga, pipi Sivia memerah. Ia mencoba mengelak. Namun, Debo tetap tertawa geli saat pipi Sivia semakin merona.
Ponsel Sivia berdering. Ia pun mengangkatnya dan menjauh dari Debo selama ia berbincang dengan orang di seberang telepon. Lalu, ia kembali ke tempat tidur Debo setelah memutus sambungan teleponnya dengan orang tersebut. “…kak Zahra. Dia tanya keadaanmu.” ucapnya pada Debo.
“Bicara mengenai Zahra, aku jadi ingat sesuatu…” Sivia terdiam sejenak─memperbaiki raut wajahnya yang mulai memerah kembali. “Setelah cerita masalahku dengan kak Zahra ke kamu, gag tau mengapa, sikap Gabriel berubah. Ia menjadi lebih perhatian padaku.”
Debo berdeham, dan tertawa geli. “Cieee…”
Sivia pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Hubunganku sama kak Zahra juga semakin baik. Bahkan, kak Zahra gag jadi operasi mata buat nungguin aku.”
“Operasi mata, kak?”
“Iya… Saat itu, aku kena thypus. Dan harus diopname selama beberapa hari. Bertepatan dengan itu, sebuah rumah sakit dari Singapore mengabarkan kalau ada donor kornea mata disana. Padahal, aku sudah maksa kak Zahra buat cepat-cepat kesana. Tapi kak Zahra tetap keuhkeuh buat nungguin aku.”
Debo mangut-mangut. Ia memperhatikannya dengan seksama.
“Dan… aku sadar, itu merupakan bentuk kasih sayang kak Zahra buat aku. Dia rela buat ngorbanin impiannya, demi aku. Semenjak itu, aku bersusah payah buat ngilangin rasa iriku padanya. Kau tau? Karena aku ingat semua nasihatmu saat itu. Terima kasih ya…” ucap Sivia tulus.
Debo tersenyum. “Sama-sama, kak.”
-
Sudah beberapa hari, Debo terbaring di rumah sakit. Dan ia merasa jenuh. Ia rindu saat-saat menyenangkan bersama teman-temannya. Memang, setiap hari teman-temannya menyempatkan diri datang ke rumah sakit, demi menengoknya. Namun bagi Debo, itu semua terasa berbeda…
Debo tersadar dalam lamunannya saat pintu ruang perawatannya terbuka. Empat orang anak laki-laki, masuk ke dalam. “Siang tante…” sapa mereka.
Mama Nurhalimah yang sedang membaca majalah di sofa, bangkit dan balik menyapa keempat anak tersebut, “…mau nengok Debo yaa?” Mereka serentak mengangguk. Mama Nurhalimah pun mengiyakan dan meminta ijin untuk keluar sebentar.
“Hai, Debo…” sapa Cakka. Debo tersenyum. Cakka yang sekarang sungguh berbeda dengan yang dulu. Ia berubah seratus delapan puluh derajat. Dan kini, hubungannya dengan Cakka pun mulai membaik.
“Debo. Mushroom band lolos audisi!” seru Patton. Debo terhenyak. “Aku ikut senang…” ucapnya sembari tersenyum pahit.
Patton kecewa melihat respon Debo. Padahal, saat ia diberitahu bahwa Mushroom band menang, ia begitu gembira. Bahkan tanpa sadar mempermalukan dirinya sendiri─di hadapan seluruh penjuru sekolah, saat ia melompat-lompat dengan girangnya di koridor sekolah. “Tapi, kamu kelihatan gag senang?” protes Abner.
“Sekarang aku lumpuh…” jawab Debo pelan.
“Lantas? Apa orang lumpuh gag berhak untuk nge-band?” ucap Cakka tajam.
Debo terhenyak. Kemudian, sedetik kemudian, ia tersenyum lebar. “Baiklah… Tunggu aku di duel BO3, Cak.”
Cakka melenguh. Irsyad terdiam. “Brother On 3 sudah gag ada lagi.” ucap Irsyad sedih. Debo mengerutkan keningnya─bingung. Irsyad pun menceritakan kejadian saat Obiet memutuskan keluar dari Brothers On 3.
Debo tercengang. Ia kembali teringat pada Obiet. Semenjak kejadian di pesta ulang tahun Cakka, ia sama sekali belum bertemu Obiet. “Lalu… Sekarang Obiet dimana?”
Hening.
Cakka, Irsyad, Patton, dan Abner tak mengeluarkan satu suara pun untuk menjawabnya. Debo hanya terdiam, menyimpan rasa penasarannya dalam hati.
-------------------------------------
Tapi apa yang kuterima
kau hancurkan penyesalan itu
--------------------------------------
--to be continued--
Apa yang dokter jelaskan kepada ayah Cakka?
Apa yang terjadi pada Obiet?
nantikan di…
FRIENDSHIP NEVER END chapter 7
*domo arigatou*
Hingga beberapa saat kemudian, penantian mereka pun berakhir. Pintu ruang UGD terbuka, dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Obiet beserta anak-anak yang lain segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan Debo. Dokter itu menarik nafas pelan. Tampak keraguan dalam raut wajahnya. Dokter itu pun meminta seseorang untuk menemuinya di ruangannya. Ia mengatakan jika ada satu hal penting yang harus ia katakan. Setelah itu, Ia pun memperbolehkan beberapa orang untuk masuk menemui Debo, sebelum dirinya berlalu bersama ayah Cakka.
Obiet dan yang lain masuk ke dalam ruangan Debo. Dan di ruangan itu tampak seorang Debo sedang duduk terpaku menatap kosong pada kakinya. “Kakiku kenapa?” ucapnya lirih, namun semua orang yang ada di tempat itu masih dapat mendengarnya. Obiet menutup mulutnya, tak percaya. Cakka tercengang. Semua anak yang ada di tempat itu, diam terpaku.
“Kenapa gag bisa digerakin?” Air mata Debo mulai menetes satu persatu. “KENAPA?! KENAPAA?!” Debo pun mulai berontak. Ia memukul kakinya berkali-kali. Perawat-perawat akhirnya turun tangan. Mereka menyuntikkan obat penenang pada Debo. Sesaat, Debo mulai tenang. Dan setelah itu, matanya menutup.
Perawat menyuruh Obiet dkk untuk membiarkan Debo istirahat. Dengan langkah gontai, serta perasaan kacau, mereka pun keluar dari ruang UGD.
“Debo…… lumpuh?” ucap Patton pelan. Shock…
Obiet terhenyak. Seketika, secuil kejadian saat Debo tertabrak mobil terputar kembali dalam otaknya. Ia pun menoleh ke arah Cakka dan menatapnya tajam. Perlahan, ia beringsut dari tempatnya berdiri, dan melangkah menghampiri Cakka. Dalam hitungan detik, Obiet telah berada di hadapan Cakka. “Ini semua gara-gara lo!” Cakka tak berkutik. Ia sama sekali tak melakukan perlawanan sedikit pun terhadap sikap Obiet kali ini.
Agni pun mencoba melerai mereka berdua. Bagaimana pun juga mereka sedang berada di rumah sakit. Tidak sopan bila mereka membuat keributan di tempat ini.
Cakka terus menunduk, namun sejurus kemudian ia mengangkat wajahnya─memperlihatkan wajah sendunya. Obiet terdiam. Ia berdebat dalam pikirannya. Ia sadar, jika Cakka merasa bersalah atas semua kejadian ini. Namun, terlambat. Rasa bersalahnya tak akan bisa mengembalikan kaki Debo.
“Mulai detik ini, gue keluar dari ‘Brothers on 3’.” ucap Obiet tegas dengan penekanan di kata terakhir.
Cakka melenguh. Irsyad mengangkat wajahnya, terkejut, menatap Obiet. Begitu pula dengan Oik. “Biet, lo serius?” tanya Irsyad seraya melangkah mendekati Obiet.
“Aku benci hidup dalam bayang-bayang kalian… Aku ingin jadi diri sendiri.” ucapnya perlahan.
Itu tandanya.. Kakak cuma mau menuruti ego kakak aja.. Kakak gag pernah mikirin orang lain yang sakit hati gara-gara ego kakak!
Perkataan Oik tempo hari terngiang kembali dalam benak Obiet. “Aku selalu menuruti egoku, tanpa pernah mikirin orang lain yang sakit hati gara-gara ini…”
Oik terhenyak. Namun, seketika ia tersenyum lembut. Obiet telah kembali…
“Selama ini… aku takut. Jika aku keluar dari geng ini, aku bakalan di-DO! Gimana pun juga, aku gag ingin itu terjadi. Sekolah ini merupakan salah satu impianku. Tapi sekarang aku menyadari satu hal. Bahwa persahabatan lebih dari apa pun. Persahabatan gag akan pernah bisa ditukar dengan apa pun, termasuk dengan sekolah ini.” ujar Obiet.
----------------------------------------------------------------
Sudah kuakui kesalahan yang pernah kubuka saat itu
Setulus hatiku kepadamu.
-----------------------------------------------------------------
Cakka dan Irsyad terdiam.
Obiet menarik nafas perlahan, kemudian menatap Cakka tajam. “Dan detik ini juga, gue siap untuk angkat kaki dari ICJHS.”
Cakka tercengang. Ia terus terdiam dan menunduk, tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Hingga tiba-tiba, ia mendengar suara erangan Obiet. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Obiet mengerang kesakitan sembari memegang kuat perutnya. “Biet…?”
-
Debo membuka matanya perlahan. Sinar matahari yang menembus jendela, membuatnya menyipitkan mata. Kemudian, ia bangkit dari baringannya. “Debo…? Kamu udah bangun?” Debo menoleh ke arah sumber suara. Gabriel mendekat ke arah tempat tidur Debo.
“Aku sudah telepon tante nur. Mungkin nanti malam dia sudah sampai disini…” ucapnya kemudian.
Debo tersenyum tipis. “Apa mama tau tentang kakiku?”
Gabriel terdiam. Ia menatap Debo, prihatin. “Aku belum memberitahunya. Lebih baik, kamu yang memberitahunya sendiri.”
kreeek…
Pintu ruang perawatan Debo terbuka, dan muncullah seorang gadis berambut panjang dengan keranjang buah di tangannya. “Sivia? Lo datang?” Gabriel tersenyum lebar melihat kehadiran gadis itu.
Sivia tertawa renyah, “Bukannya lo yang maksa gue untuk kesini?” kemudian, ia menaruh keranjang buahnya di atas meja. Lalu mendekat ke arah tempat tidur Debo, “Hai Debo… Udah agak baikan, kan?”
Debo tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
-------------------------------------
Kusesali lagi diri ini
yang tidak pantas untuk hidup.
-------------------------------------
Sivia menarik nafas pelan. Ia sudah mendengar mengenai kondisi Debo saat ini dari Gabriel. “Aku tau ini berat… Cobalah untuk tetap semangat.”
Gabriel menatap Sivia dalam diam. Perlahan, ia menarik bibirnya─tersenyum. Senyum yang lain dari biasanya. Senyum yang penuh kekaguman…
“Kenapa lo nglihatin gue?” protes Sivia saat menyadari gelagat aneh Gabriel. Gabriel tersadar. Seketika, ia tak bisa menyembunyikan kesaltingan-nya.
“mm… gu..gue mau cari perawat dulu.. mm… itu.. makanan buat Debo dari tadi belum diantar.” Tanpa pikir panjang, Gabriel langsung beranjak dari tempat itu, meninggalkan Debo yang tersenyum geli dan Sivia yang masih terbengong-bengong.
“Aku rasa… Kak Iel suka deh sama kak Via.” celutuk Debo. Ia mulai rileks. Sekuat mungkin, ia mencoba melupakan masalah kakinya. Tanpa diduga, pipi Sivia memerah. Ia mencoba mengelak. Namun, Debo tetap tertawa geli saat pipi Sivia semakin merona.
Ponsel Sivia berdering. Ia pun mengangkatnya dan menjauh dari Debo selama ia berbincang dengan orang di seberang telepon. Lalu, ia kembali ke tempat tidur Debo setelah memutus sambungan teleponnya dengan orang tersebut. “…kak Zahra. Dia tanya keadaanmu.” ucapnya pada Debo.
“Bicara mengenai Zahra, aku jadi ingat sesuatu…” Sivia terdiam sejenak─memperbaiki raut wajahnya yang mulai memerah kembali. “Setelah cerita masalahku dengan kak Zahra ke kamu, gag tau mengapa, sikap Gabriel berubah. Ia menjadi lebih perhatian padaku.”
Debo berdeham, dan tertawa geli. “Cieee…”
Sivia pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Hubunganku sama kak Zahra juga semakin baik. Bahkan, kak Zahra gag jadi operasi mata buat nungguin aku.”
“Operasi mata, kak?”
“Iya… Saat itu, aku kena thypus. Dan harus diopname selama beberapa hari. Bertepatan dengan itu, sebuah rumah sakit dari Singapore mengabarkan kalau ada donor kornea mata disana. Padahal, aku sudah maksa kak Zahra buat cepat-cepat kesana. Tapi kak Zahra tetap keuhkeuh buat nungguin aku.”
Debo mangut-mangut. Ia memperhatikannya dengan seksama.
“Dan… aku sadar, itu merupakan bentuk kasih sayang kak Zahra buat aku. Dia rela buat ngorbanin impiannya, demi aku. Semenjak itu, aku bersusah payah buat ngilangin rasa iriku padanya. Kau tau? Karena aku ingat semua nasihatmu saat itu. Terima kasih ya…” ucap Sivia tulus.
Debo tersenyum. “Sama-sama, kak.”
-
Sudah beberapa hari, Debo terbaring di rumah sakit. Dan ia merasa jenuh. Ia rindu saat-saat menyenangkan bersama teman-temannya. Memang, setiap hari teman-temannya menyempatkan diri datang ke rumah sakit, demi menengoknya. Namun bagi Debo, itu semua terasa berbeda…
Debo tersadar dalam lamunannya saat pintu ruang perawatannya terbuka. Empat orang anak laki-laki, masuk ke dalam. “Siang tante…” sapa mereka.
Mama Nurhalimah yang sedang membaca majalah di sofa, bangkit dan balik menyapa keempat anak tersebut, “…mau nengok Debo yaa?” Mereka serentak mengangguk. Mama Nurhalimah pun mengiyakan dan meminta ijin untuk keluar sebentar.
“Hai, Debo…” sapa Cakka. Debo tersenyum. Cakka yang sekarang sungguh berbeda dengan yang dulu. Ia berubah seratus delapan puluh derajat. Dan kini, hubungannya dengan Cakka pun mulai membaik.
“Debo. Mushroom band lolos audisi!” seru Patton. Debo terhenyak. “Aku ikut senang…” ucapnya sembari tersenyum pahit.
Patton kecewa melihat respon Debo. Padahal, saat ia diberitahu bahwa Mushroom band menang, ia begitu gembira. Bahkan tanpa sadar mempermalukan dirinya sendiri─di hadapan seluruh penjuru sekolah, saat ia melompat-lompat dengan girangnya di koridor sekolah. “Tapi, kamu kelihatan gag senang?” protes Abner.
“Sekarang aku lumpuh…” jawab Debo pelan.
“Lantas? Apa orang lumpuh gag berhak untuk nge-band?” ucap Cakka tajam.
Debo terhenyak. Kemudian, sedetik kemudian, ia tersenyum lebar. “Baiklah… Tunggu aku di duel BO3, Cak.”
Cakka melenguh. Irsyad terdiam. “Brother On 3 sudah gag ada lagi.” ucap Irsyad sedih. Debo mengerutkan keningnya─bingung. Irsyad pun menceritakan kejadian saat Obiet memutuskan keluar dari Brothers On 3.
Debo tercengang. Ia kembali teringat pada Obiet. Semenjak kejadian di pesta ulang tahun Cakka, ia sama sekali belum bertemu Obiet. “Lalu… Sekarang Obiet dimana?”
Hening.
Cakka, Irsyad, Patton, dan Abner tak mengeluarkan satu suara pun untuk menjawabnya. Debo hanya terdiam, menyimpan rasa penasarannya dalam hati.
-------------------------------------
Tapi apa yang kuterima
kau hancurkan penyesalan itu
--------------------------------------
--to be continued--
Apa yang dokter jelaskan kepada ayah Cakka?
Apa yang terjadi pada Obiet?
nantikan di…
FRIENDSHIP NEVER END chapter 7
*domo arigatou*
FRIENDSHIP NEVER END [MUSICAL ADV] --> Chapter 5 : Pelangi di Tengah Bintang
Lagu “Jika kami bersama” milik S.I.D, mengalun keras di aula. Puluhan anak, yang rata-rata berasal dari kaum hawa, melompat-lompat di bawah panggung mengikuti irama lagu. Tak heran. Memang beginilah suasana yang tercipta ketika Brothers On 3 sedang unjuk kebolehan dalam band. Irsyad di posisi drummer. Cakka, gitaris. Dan Obiet vokalis. Mereka bertiga seakan mampu menyihir semua orang untuk terkagum-kagum pada mereka. Namun, tidak bagi Debo. Debo memilih untuk menyendiri daripada berada di kerumunan massa yang seakan begitu memuja mereka. Ia dudukkan dirinya di kursi taman ICJHS. Ia merenung. Mungkin rasa kebenciannya pada mereka yang membuatnya sama sekali tak berminat menonton perform mereka. Ya… Kebencian… Namun, bukan kebencian karena mereka telah membuatnya babak belur. Melainkan karena mereka telah membuatnya semakin jauh dengan Obiet, sahabat kecilnya..
“Hai…” sapa seseorang.
Debo mendongak, dan mendapati seorang perempuan sedang berdiri di hadapannya.
“Boleh aku duduk?” pintanya.
Debo mengangguk, dan menggeser badannya ke samping. Gadis itu pun duduk di samping Debo. Lalu, ia mengulurkan tangannya, mengenalkan diri, “Sivia…”
Debo menyambut jabatan tangan Sivia, “Debo..”
“Uhm.. Kamu yang nganterin kakak aku pulang, kan?” tanya Sivia.
Debo mengerutkan keningnya.
“Zahra..” tambah Sivia.
“Ohh.. Kak Zahra. Iyup. Bareng Patton.” jawab Debo.
“makasih ya..” ucap Sivia tulus. Kemudian, kedua mata hitamnya menerawang langit. Memori otaknya kembali teringat pada saat Gabriel membentak Obiet hanya untuk membela Zahra.
Ku ingat kau dan senyummu,
tatapan dalam matamu.
“Hanya karena keadaannya, yang tak bisa melihat, semua orang begitu peduli sama dia..” Tanpa sadar, kata-kata itu melayang dari mulut Sivia. Ia tak tau dorongan apa yang membuatnya berkata seperti itu. Yang ia tau, ia ingin menumpahkan semua yang selama ini ia pendam pada seseorang. Tak ada salahnya, jika ia menceritakan semuanya pada Debo. Mungkin hatinya akan sedikit ringan, jika ia membaginya pada orang lain. Lagipula, tak mungkin ia menceritakannya pada sobat-sobat dekatnya. Terlebih Gabriel… Pasti mereka akan semakin mengomeliku, batin Sivia.
Debo menoleh ke arah Sivia.
Sivia tersenyum pahit, “Ya... Dia rebut semua perhatian orang. Ortuku.. bahkan sahabat-sahabat aku. Gabriel, Shilla, Riko, Sion, Angel. Mereka lebih sayang pada dia, dibandingin aku. Terdengar konyol memang.. tapi aku begitu iri padanya.” Meski Gabriel lah yang terlihat amat sangat begitu perhatian pada Zahra, namun Sivia sengaja tak hanya menyebutkan nama Gabriel saja. Ia tak mau orang lain curiga.
Debo terdiam sesaat. Sivia menunduk, menahan pedih.
“Apa kak Via gag pernah kepikiran kalau sebenarnya kak Zahra juga punya perasaan yang sama seperti kak Via? perasaan iri…” ucap Debo.
Sivia tercengang. Kedua alisnya bertaut satu sama lain.
“Kak Via yang bisa melihat… Kak Via yang bisa sekolah… Sedangkan kak Zahra?” lanjut Debo.
Sivia tertegun.
“Kalau aku bilang sih, semua orang lebih peduli pada kak Zahra, itu wajar. kak Zahra gag bisa melihat. Sudah semestinya dia butuh perhatian ekstra. Sekarang coba kalau kak Via berada di posisi kak Zahra saat ini. Hidup dalam kegelapan. Tanpa ada setitik cahaya satu pun. Kak Via pasti butuh kepedulian yang lebih dari orang lain, kan? Terlebih jika kak Via mempunyai seorang saudara yang berbeda dari dirinya. Seorang saudara yang bisa melihat... Apa kak Via juga bakal punya suatu perasaan iri?” ucap Debo bijak.
Sivia tercengang. Air mulai menumpuk di pelupuk matanya.
“Kak Via gag boleh negative thinking. Tuhan sayang sama kak Via. Buktinya, Tuhan membiarkan kak Via hidup normal di dunia ini. Begitu pula dengan ortu dan sobat-sobat kak Via. Mereka selalu ada di samping kak Via, kan? Seharusnya kak Via bersyukur…” lanjut Debo.
Pertahanan Sivia pecah. Ia telungkupkan kedua telapak tangannya di wajah. ia pun menangis terisak. Ia merasa selama ini telah begitu jahat pada Zahra, kakaknya sendiri. Debo pun menepuk-nepuk pelan bahu Sivia.
Sementara itu, ternyata Gabriel telah melihat dan mencuri dengar pembicaraan mereka berdua sedari tadi…
-
“Via! Darimana aja sih lo?” tanya Riko, saat dirinya berkumpul bersama Angel, Shilla, dan Sion di lapangan basket.
Sivia hanya tersenyum tipis, kemudian, mendudukkan dirinya di bangku hijau, di samping Sion. Bertepatan dengan itu, Gabriel datang menghampiri mereka.
“Tunggu deh. Lo habis nangis ya?” tebak Shilla saat melihat mata Sivia yang sembab.
Gabriel terhenyak. Ia menatap canggung pada Sivia. Sivia diam. Otaknya masih mencari alasan yang pas untuk menjawabnya.
“Vi, kalau lo ada masalah, lo cerita aja sama kita…” ujar Angel cemas.
Sivia menatap wajah khawatir teman-temannya satu persatu. “mmm… Gue…”
“Maafin gue, Vi.” potong Gabriel tiba-tiba.
Semua menoleh pada Gabriel, termasuk Sivia. “Maaf? Buat apa?” tanya Sivia bingung.
“Mungkin selama ini lo pikir, gue gag peduli sama lo…” ucap Gabriel.
DEG! Sivia tersentak. Mungkinkah Gabriel mendengar percakapannya dengan Debo, pikirnya.
“Tapi… Jujur, gue gag pernah bermaksud gitu. Gue sayang sama lo, Vi. Gue, Riko, Shilla, Angel, Sion.. Semua sayang sama lo. Kita gag pernah punya niat gag peduli sama lo…” lanjut Gabriel seraya menghampiri Sivia, dan duduk jongkok di lantai, dekat Sivia duduk.
Ketika kau mengucapkan,
yang tak pernah kuharapkan.
Sivia tercengang. Sekuat mungkin, ia menahan air matanya tak jatuh. Dan akhirnya, tangisnya pun pecah. Semua kalang kabut melihat Sivia menangis, terkecuali Gabriel.
Sion menepuk pundak Sivia, panik, “Vi, lo napa nangis? Vi?”
Gabriel memberi kode mata pada Sion supaya ia membiarkan Sivia menangis. Mungkin, dengan menangis akan membuatnya sedikit merasa lega.
“Maafin gue… Maafin gue…” ujar Sivia lirih, di tengah isaknya.
Gabriel tersenyum penuh arti. Sementara teman-temannya yang lain, sibuk mengerlingkan mata pada Gabriel, agar ia sesegera mungkin menjelaskan inti permasalahannya, untuk menghapus ketidak mengertian mereka saat ini.
-
Patton, dan Abner berkumpul di rumah Debo. Mereka mengatakan pada Debo, bahwa mereka ingin mengikuti duel BO3. Debo pun menjadi sangat bersemangat. Mereka mulai mendiskusikan masalah pembagian alat musik, nama band, studio sementara yang akan mereka pakai latihan, dan sebagainya. Dan setelah melewati berbagai macam perdebatan yang sangat panjang, terbentuklah sebuah band yang bernama “MUSHROOM”, dengan personil debo di posisi vokalis sekaligus bassist. Patton, gitaris & backing vocal. Abner di drummer. Dan mereka akan memakai studio band milik Debo, yang letaknya memang dekat dengan sekolah mereka. Dulunya, studio band ini milik kakek Debo. Dan Debo sendiri juga berniat suatu saat akan mendirikan sebuah studio band di kota kelahirannya sana, Bandung.
Nama Mushroom Band berawal dari suatu usul yang diajukan Debo. Ia mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sebuah lagu yg berjudul Castol. Mungkin nama itu terdegar unik, namun asal mula terbentuknya nama itu, begitu konyol. Jika kita membaca kata ‘Mush’, maka kata itu akan terbaca menjadi ‘Mas..’. Dan kata ‘room’ dalam bahasa Indonesia, berartikan ‘ruangan’. Sehingga, jika kata-kata itu digabung menjadi suatu kalimat, berarti ‘mas-mas dalam ruangan.’ Cocok dengan kondisi mereka yang memang sedang berada dalam sebuah ruangan sederhana, kamar Debo. Awalnya, Patton dan Abner tertawa terbahak-bahak mendengar ide konyol Debo. Namun, karena Debo berhasil meyakinkan mereka, mereka pun akhirnya menyerah. Toh, nama itu keren juga…
Setelah itu, mereka latihan. Mereka begitu antusias untuk memenangkan audisi ini, dan mengalahkan Brothers On 3. Tiap pulang sekolah, mereka mampir ke studio Debo untuk latihan beberapa jam, dan kemudian, kembali lagi ke asrama.
Walau ku tak rela menghadapi hari - hari,
yang terlewatkan tanpa kamu di sampingku.
Dan… Hingga hari itu pun tiba. Audisi Duel Brothers On 3…
Mereka mendapatkan nomor urut ketiga. Angka yang lumayan untuk mempersiapkan mental mereka terlebih dahulu. Tak bisa dipungkiri, bahwa mereka begitu grogi saat ini. Band dengan nomor urut kedua keluar dari tempat audisi. Kini, giliran mereka. Debo mengajak mereka untuk berdoa. Mereka melingkar membentuk lingkaran kecil, dan tenggelam dalam doa. Harapan mereka hanya satu. Mereka ingin menampilkan yang terbaik dalam audisi ini…
Setelah itu, mereka masuk ke ruang audisi. Seorang anak perempuan, dan dua orang laki-laki tampak duduk di meja guru.
Anak perempuan itu pun berdiri, dan memperkenalkan dirinya beserta teman-temannya. “Nama saya Gita. Di samping kanan saya, Dayat. Dan disamping kiri saya, Gabriel.”
“Kami bertugas menjadi juri dalam audisi ini. Tampilkan yang terbaik…” tambah Dayat.
“Baiklah Mushroom Band… Tolong perkenalkan personil kalian.” pinta Gabriel.
Debo pun memperkenalkan Patton, Abner, dan dirinya. Sesaat saat Debo memperkenalkan dirinya, Gabriel sedikit tersentak. Ia berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Akhirnya, Dayat kembali mempersilahkan Mushroom Band untuk segera memulai proses penilaian. Debo dkk menyanyikan lagu Masih Ada yang pernah dipopulerkan oleh Ello. Perlahan, mereka dapat melihat raut wajah kagum dari ketiga juri. Mereka pun tersenyum puas melihat pemandangan itu. Mereka sangat berharap jerih payah mereka selama ini, tak akan sia-sia.
Ada satu yang bisa menghiburku,
ku 'kan terus menunggumu.
-
Debo menatap undangan pesta ulang tahun Cakka di tangannya. Entah mengapa, ia merasakan suatu firasat buruk yang akan terjadi di pesta tersebut.
“Kenapa, De?” tanya Patton heran.
Debo hanya menggeleng, “Gag… cuma agak bingung aja. Kenapa Cakka bisa ngundang aku ke ultahnya. Secara, aku pernah berantem sama dia…”
Patton terkekeh, “Udah… Gag usah dipikirin… mungkin dianya udah sadar kali.”
Debo hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki menghampiri Debo. Debo mencoba mengingat siapa orang ini.
“Gabriel… Ingat?” ucap anak laki-laki itu.
Debo mengangguk cepat, saat berhasil mengingatnya. Dalam hati, ia mengeluh mengapa daya ingatnya begitu lemah. Padahal, baru saja kemarin ia bertemu dengannya di audisi duel BO3.
“mmm… panggilan lo Debo?” tanya Gabriel. Debo mengangguk. Gabriel melanjutkan, “Apa benar lo anak Ibu Nurhalimah?”
Debo mengerutkan keningnya, heran. Ia bertanya-tanya mengapa Gabriel bisa mengetahuinya. Debo pun mengangguk ragu.
Seketika, raut wajah Gabriel berubah cerah. “Akhirnya gue nemuin lo!”
Gabriel pun menjelaskan secara rinci dan padat bahwa ia adalah anak dari kakak Ibu kandung Debo. Debo terkejut. Memang, Mamang Adi pernah berkata hal demikian. Mamang bahkan pernah menyebut nama Gabriel. Namun, Mamang tak berkata jika Gabriel bersekolah di sekolah yang sama dengan Debo saat ini.
-
Debo mematut dirinya di cermin. Entah mengapa, firasat itu muncul kembali. Sebuah firasat buruk, yang selalu menghantuinya setiap saat.
“De, udah siap?” Patton muncul dari belakang. Debo mengangguk. Patton memberitahu bahwa ia telah menelpon sopir pribadinya untuk menjemput. dan ia juga mengatakan, bahwa Abner dan Bastian akan berangkat agak terlambat karena mereka harus menyelesaikan hukuman membersihkan toilet dari Bu Winda, terlebih dahulu. Patton tertawa terbahak-bahak ketika mengatakannya, “…Salah sendiri, tidur kompakan di sela pelajaran..” Debo tertawa kecil.
Sekitar beberapa menit kemudian, Patton menerima telepon bahwa sopirnya telah berada di luar asrama. Patton segera bergegas mengajak Debo keluar. “Oya… ntar Rahmi dkk bakal nebeng juga sama kita.” Debo tergelak. “Ntar aku duduk di depan. Kamu duduk di belakang, bareng anak-anak cewek yang lain, yak?” lanjut Patton sembari tertawa jahil. Debo merengut. Rasanya ia ingin sekali menjitak kepala Patton.
Di luar Asrama, Rahmi, Oik, Agni, dan Ify telah berkumpul. Gaun-gaun cantik melekat di badan mereka masing-masing. Agni tampak tampil berbeda dari biasanya. Ia mencoba menutupi ketomboiannya dengan balutan baju baby doll nya. Terlihat begitu feminim. Rahmi dengan gaun orange cerah berpadu dengan kerudung hias putih tampak terlihat begitu anggun. Ify dengan bandana hitam dan gaun biru tua selututnya, mampu merubah dirinya menjadi lebih manis dibandingkan kesehariannya. Begitu pula dengan Oik. Ia tampil sangat berbeda dari biasanya. Kaca mata yang selama ini dipakainya, ia ganti dengan contact lens berwarna ungu. Rambutnya terurai sebahu. Dan gaun pink yang dipakainya, membuatnya begitu terlihat imut. Patton dan Debo sempat terkesima terhadap penampilan mereka berempat yang terlihat begitu nice…
“Jadi berangkat gag nih?” tanya Agni gag sabaran.
Patton dan Debo segera tersadar dari kebengongan mereka. Patton pun membuka pintu belakang mobilnya.
Oik, Ify, Debo, Rahmi, dan Agni masuk ke dalam mobil. patton menutup pintu belakang, dan masuk mendudukkan dirinya di kursi depan. Dalam hati ia tertawa geli melihat kemanyunan Debo saat diapit oleh anak-anak perempuan…
-
Pesta yang dilangsungkan di halaman rumah Cakka tampak begitu meriah. Taburan bintang-bintang di langit, seakan menjadi saksi kepuasan para undangan pesta dalam menikmati acara ini. Hingga di tengah acara, musik tiba-tiba berhenti.
“Tolong tenang. Gue disini cuma mau memberikan suatu pengumuman.” ucap Cakka. Semua anak berbisik heran. Termasuk Obiet dan Irsyad yang sepertinya juga tak tau apa yang sedang direncanakan Cakka.
“Barusan bokap gue telepon. Dan beliau mengatakan, bahwa ia telah men_DO seorang murid yang dianggapnya telah melanggar peraturan di sekolah ini. Dan murid itu adalah salah satu diantara kalian.” lanjutnya.
Debo terdiam. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ia merasakan firasat buruk hadir kembali di benaknya.
Cakka berjalan menghampiri Debo. “Andryos Ariyanto… Mulai detik ini, lo bukan lagi member dari ICJHS.”
Semua anak yang berada di tempat itu tercengang.
“Kenapa?” tanya Debo pelan.
Cakka tertawa. “Tentu saja karena lo telah melanggar peraturan untuk tidak berkelahi di sekolah.”
Debo mencoba meredam emosinya. “Lo yang mulai duluan…”
“Gue? Bukannya lo yang mukul gue duluan?” ujar Cakka. Debo mencoba mengelak sekali lagi. Namun, Cakka memotongnya, dan mengusirnya.
“Lo keterlaluan, Cak…” ucap Debo tertahan.
“Terserah lo mau bilang gue apa! Yang jelas, lo keluar dari sini sekarang juga!” bentak Cakka keras. Bertepatan dengan itu, Debo melayangkan kepalan tangannya ke pipi Cakka. Kesabarannya telah habis, dalam menghadapi keegoisan anak laki-laki di depannya tersebut. Perkelahian pun terjadi. Cakka dan Debo saling memukul satu sama lain. Irsyad dan Obiet berlari mendekat, mencoba untuk melerai. Sementara anak-anak yang lain mematung diri tak berani berbuat apapun.
Irsyad dan Obiet mencoba memegang Cakka yang masih memberontak. Debo mulai tenang. Ia sadar, bahwa ia telah berada di pinggir jalan raya. Ia pikir, cukup berbahaya berkelahi di tempat ini. Dan ketika, ia mencoba untuk mengalah dan merelakan diri keluar dari ICJHS, Cakka berhasil melepaskan diri dari cengkraman Obiet dan Irsyad dan berjalan tertatih menghampiri Debo. Satu pukulan keras mendarat di pipi Debo. Debo pun jatuh tersungkur.
Kuingat kau mengatakan,
kau 'kan kembali untukku,
“Diiinnnnn……!!” Dan bagaikan suatu reklame singkat, sebuah mobil melaju kencang ke arah Debo. Mobil itu pun menabrak Debo, membuatnya terpental beberapa meter.
“DEBOOOO……!!!!!!” Sesaat, Debo dapat mendengar suara teriakan teman-temannya. Seseorang menghampirinya dan menangis keras. Di antara penglihatannya yang terbatas, ia dapat melihat siapa orang tersebut. Ya… Dia yakin bahwa orang itu adalah Obiet… Debo tersenyum dalam hati. Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.
Di saat pelangi terlukis,
di tengah taburan bintang.
--to be continued--
Apakah Mushroom band akan lolos audisi?
Apa yang akan terjadi pada Debo selanjutnya?
nantikan di
FRIENDSHIP NEVER END chapter 6..
____
kauaand..
hari menuju UTS semakin dekat.. dan mungkin, ak agak susah buat nglanjutin.. jadi harap dimaklumi, kalau chappi selanjutnya akan semakin lama dibandingin sebelum-sebelumnya.. T.T gomen nasai…
mmm… ngomong”… lagu di chappi ini mungkin agak gag nyambung *manksebelum2nyanyambung?* maaf… bingung cari lagu apa yang pas. Mungkin ada usul?
oyaa..
FRIENDSHIP NEVER END mungkin bakal slese beberapa chappi lagi.. mohon review dan kritiknya supaya tidaa bosan membacanya sampai akhir..
tingkyuu :)
*domo arigatou*
“Hai…” sapa seseorang.
Debo mendongak, dan mendapati seorang perempuan sedang berdiri di hadapannya.
“Boleh aku duduk?” pintanya.
Debo mengangguk, dan menggeser badannya ke samping. Gadis itu pun duduk di samping Debo. Lalu, ia mengulurkan tangannya, mengenalkan diri, “Sivia…”
Debo menyambut jabatan tangan Sivia, “Debo..”
“Uhm.. Kamu yang nganterin kakak aku pulang, kan?” tanya Sivia.
Debo mengerutkan keningnya.
“Zahra..” tambah Sivia.
“Ohh.. Kak Zahra. Iyup. Bareng Patton.” jawab Debo.
“makasih ya..” ucap Sivia tulus. Kemudian, kedua mata hitamnya menerawang langit. Memori otaknya kembali teringat pada saat Gabriel membentak Obiet hanya untuk membela Zahra.
Ku ingat kau dan senyummu,
tatapan dalam matamu.
“Hanya karena keadaannya, yang tak bisa melihat, semua orang begitu peduli sama dia..” Tanpa sadar, kata-kata itu melayang dari mulut Sivia. Ia tak tau dorongan apa yang membuatnya berkata seperti itu. Yang ia tau, ia ingin menumpahkan semua yang selama ini ia pendam pada seseorang. Tak ada salahnya, jika ia menceritakan semuanya pada Debo. Mungkin hatinya akan sedikit ringan, jika ia membaginya pada orang lain. Lagipula, tak mungkin ia menceritakannya pada sobat-sobat dekatnya. Terlebih Gabriel… Pasti mereka akan semakin mengomeliku, batin Sivia.
Debo menoleh ke arah Sivia.
Sivia tersenyum pahit, “Ya... Dia rebut semua perhatian orang. Ortuku.. bahkan sahabat-sahabat aku. Gabriel, Shilla, Riko, Sion, Angel. Mereka lebih sayang pada dia, dibandingin aku. Terdengar konyol memang.. tapi aku begitu iri padanya.” Meski Gabriel lah yang terlihat amat sangat begitu perhatian pada Zahra, namun Sivia sengaja tak hanya menyebutkan nama Gabriel saja. Ia tak mau orang lain curiga.
Debo terdiam sesaat. Sivia menunduk, menahan pedih.
“Apa kak Via gag pernah kepikiran kalau sebenarnya kak Zahra juga punya perasaan yang sama seperti kak Via? perasaan iri…” ucap Debo.
Sivia tercengang. Kedua alisnya bertaut satu sama lain.
“Kak Via yang bisa melihat… Kak Via yang bisa sekolah… Sedangkan kak Zahra?” lanjut Debo.
Sivia tertegun.
“Kalau aku bilang sih, semua orang lebih peduli pada kak Zahra, itu wajar. kak Zahra gag bisa melihat. Sudah semestinya dia butuh perhatian ekstra. Sekarang coba kalau kak Via berada di posisi kak Zahra saat ini. Hidup dalam kegelapan. Tanpa ada setitik cahaya satu pun. Kak Via pasti butuh kepedulian yang lebih dari orang lain, kan? Terlebih jika kak Via mempunyai seorang saudara yang berbeda dari dirinya. Seorang saudara yang bisa melihat... Apa kak Via juga bakal punya suatu perasaan iri?” ucap Debo bijak.
Sivia tercengang. Air mulai menumpuk di pelupuk matanya.
“Kak Via gag boleh negative thinking. Tuhan sayang sama kak Via. Buktinya, Tuhan membiarkan kak Via hidup normal di dunia ini. Begitu pula dengan ortu dan sobat-sobat kak Via. Mereka selalu ada di samping kak Via, kan? Seharusnya kak Via bersyukur…” lanjut Debo.
Pertahanan Sivia pecah. Ia telungkupkan kedua telapak tangannya di wajah. ia pun menangis terisak. Ia merasa selama ini telah begitu jahat pada Zahra, kakaknya sendiri. Debo pun menepuk-nepuk pelan bahu Sivia.
Sementara itu, ternyata Gabriel telah melihat dan mencuri dengar pembicaraan mereka berdua sedari tadi…
-
“Via! Darimana aja sih lo?” tanya Riko, saat dirinya berkumpul bersama Angel, Shilla, dan Sion di lapangan basket.
Sivia hanya tersenyum tipis, kemudian, mendudukkan dirinya di bangku hijau, di samping Sion. Bertepatan dengan itu, Gabriel datang menghampiri mereka.
“Tunggu deh. Lo habis nangis ya?” tebak Shilla saat melihat mata Sivia yang sembab.
Gabriel terhenyak. Ia menatap canggung pada Sivia. Sivia diam. Otaknya masih mencari alasan yang pas untuk menjawabnya.
“Vi, kalau lo ada masalah, lo cerita aja sama kita…” ujar Angel cemas.
Sivia menatap wajah khawatir teman-temannya satu persatu. “mmm… Gue…”
“Maafin gue, Vi.” potong Gabriel tiba-tiba.
Semua menoleh pada Gabriel, termasuk Sivia. “Maaf? Buat apa?” tanya Sivia bingung.
“Mungkin selama ini lo pikir, gue gag peduli sama lo…” ucap Gabriel.
DEG! Sivia tersentak. Mungkinkah Gabriel mendengar percakapannya dengan Debo, pikirnya.
“Tapi… Jujur, gue gag pernah bermaksud gitu. Gue sayang sama lo, Vi. Gue, Riko, Shilla, Angel, Sion.. Semua sayang sama lo. Kita gag pernah punya niat gag peduli sama lo…” lanjut Gabriel seraya menghampiri Sivia, dan duduk jongkok di lantai, dekat Sivia duduk.
Ketika kau mengucapkan,
yang tak pernah kuharapkan.
Sivia tercengang. Sekuat mungkin, ia menahan air matanya tak jatuh. Dan akhirnya, tangisnya pun pecah. Semua kalang kabut melihat Sivia menangis, terkecuali Gabriel.
Sion menepuk pundak Sivia, panik, “Vi, lo napa nangis? Vi?”
Gabriel memberi kode mata pada Sion supaya ia membiarkan Sivia menangis. Mungkin, dengan menangis akan membuatnya sedikit merasa lega.
“Maafin gue… Maafin gue…” ujar Sivia lirih, di tengah isaknya.
Gabriel tersenyum penuh arti. Sementara teman-temannya yang lain, sibuk mengerlingkan mata pada Gabriel, agar ia sesegera mungkin menjelaskan inti permasalahannya, untuk menghapus ketidak mengertian mereka saat ini.
-
Patton, dan Abner berkumpul di rumah Debo. Mereka mengatakan pada Debo, bahwa mereka ingin mengikuti duel BO3. Debo pun menjadi sangat bersemangat. Mereka mulai mendiskusikan masalah pembagian alat musik, nama band, studio sementara yang akan mereka pakai latihan, dan sebagainya. Dan setelah melewati berbagai macam perdebatan yang sangat panjang, terbentuklah sebuah band yang bernama “MUSHROOM”, dengan personil debo di posisi vokalis sekaligus bassist. Patton, gitaris & backing vocal. Abner di drummer. Dan mereka akan memakai studio band milik Debo, yang letaknya memang dekat dengan sekolah mereka. Dulunya, studio band ini milik kakek Debo. Dan Debo sendiri juga berniat suatu saat akan mendirikan sebuah studio band di kota kelahirannya sana, Bandung.
Nama Mushroom Band berawal dari suatu usul yang diajukan Debo. Ia mengatakan bahwa ia terinspirasi dari sebuah lagu yg berjudul Castol. Mungkin nama itu terdegar unik, namun asal mula terbentuknya nama itu, begitu konyol. Jika kita membaca kata ‘Mush’, maka kata itu akan terbaca menjadi ‘Mas..’. Dan kata ‘room’ dalam bahasa Indonesia, berartikan ‘ruangan’. Sehingga, jika kata-kata itu digabung menjadi suatu kalimat, berarti ‘mas-mas dalam ruangan.’ Cocok dengan kondisi mereka yang memang sedang berada dalam sebuah ruangan sederhana, kamar Debo. Awalnya, Patton dan Abner tertawa terbahak-bahak mendengar ide konyol Debo. Namun, karena Debo berhasil meyakinkan mereka, mereka pun akhirnya menyerah. Toh, nama itu keren juga…
Setelah itu, mereka latihan. Mereka begitu antusias untuk memenangkan audisi ini, dan mengalahkan Brothers On 3. Tiap pulang sekolah, mereka mampir ke studio Debo untuk latihan beberapa jam, dan kemudian, kembali lagi ke asrama.
Walau ku tak rela menghadapi hari - hari,
yang terlewatkan tanpa kamu di sampingku.
Dan… Hingga hari itu pun tiba. Audisi Duel Brothers On 3…
Mereka mendapatkan nomor urut ketiga. Angka yang lumayan untuk mempersiapkan mental mereka terlebih dahulu. Tak bisa dipungkiri, bahwa mereka begitu grogi saat ini. Band dengan nomor urut kedua keluar dari tempat audisi. Kini, giliran mereka. Debo mengajak mereka untuk berdoa. Mereka melingkar membentuk lingkaran kecil, dan tenggelam dalam doa. Harapan mereka hanya satu. Mereka ingin menampilkan yang terbaik dalam audisi ini…
Setelah itu, mereka masuk ke ruang audisi. Seorang anak perempuan, dan dua orang laki-laki tampak duduk di meja guru.
Anak perempuan itu pun berdiri, dan memperkenalkan dirinya beserta teman-temannya. “Nama saya Gita. Di samping kanan saya, Dayat. Dan disamping kiri saya, Gabriel.”
“Kami bertugas menjadi juri dalam audisi ini. Tampilkan yang terbaik…” tambah Dayat.
“Baiklah Mushroom Band… Tolong perkenalkan personil kalian.” pinta Gabriel.
Debo pun memperkenalkan Patton, Abner, dan dirinya. Sesaat saat Debo memperkenalkan dirinya, Gabriel sedikit tersentak. Ia berusaha mengingat-ingat sesuatu.
Akhirnya, Dayat kembali mempersilahkan Mushroom Band untuk segera memulai proses penilaian. Debo dkk menyanyikan lagu Masih Ada yang pernah dipopulerkan oleh Ello. Perlahan, mereka dapat melihat raut wajah kagum dari ketiga juri. Mereka pun tersenyum puas melihat pemandangan itu. Mereka sangat berharap jerih payah mereka selama ini, tak akan sia-sia.
Ada satu yang bisa menghiburku,
ku 'kan terus menunggumu.
-
Debo menatap undangan pesta ulang tahun Cakka di tangannya. Entah mengapa, ia merasakan suatu firasat buruk yang akan terjadi di pesta tersebut.
“Kenapa, De?” tanya Patton heran.
Debo hanya menggeleng, “Gag… cuma agak bingung aja. Kenapa Cakka bisa ngundang aku ke ultahnya. Secara, aku pernah berantem sama dia…”
Patton terkekeh, “Udah… Gag usah dipikirin… mungkin dianya udah sadar kali.”
Debo hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki menghampiri Debo. Debo mencoba mengingat siapa orang ini.
“Gabriel… Ingat?” ucap anak laki-laki itu.
Debo mengangguk cepat, saat berhasil mengingatnya. Dalam hati, ia mengeluh mengapa daya ingatnya begitu lemah. Padahal, baru saja kemarin ia bertemu dengannya di audisi duel BO3.
“mmm… panggilan lo Debo?” tanya Gabriel. Debo mengangguk. Gabriel melanjutkan, “Apa benar lo anak Ibu Nurhalimah?”
Debo mengerutkan keningnya, heran. Ia bertanya-tanya mengapa Gabriel bisa mengetahuinya. Debo pun mengangguk ragu.
Seketika, raut wajah Gabriel berubah cerah. “Akhirnya gue nemuin lo!”
Gabriel pun menjelaskan secara rinci dan padat bahwa ia adalah anak dari kakak Ibu kandung Debo. Debo terkejut. Memang, Mamang Adi pernah berkata hal demikian. Mamang bahkan pernah menyebut nama Gabriel. Namun, Mamang tak berkata jika Gabriel bersekolah di sekolah yang sama dengan Debo saat ini.
-
Debo mematut dirinya di cermin. Entah mengapa, firasat itu muncul kembali. Sebuah firasat buruk, yang selalu menghantuinya setiap saat.
“De, udah siap?” Patton muncul dari belakang. Debo mengangguk. Patton memberitahu bahwa ia telah menelpon sopir pribadinya untuk menjemput. dan ia juga mengatakan, bahwa Abner dan Bastian akan berangkat agak terlambat karena mereka harus menyelesaikan hukuman membersihkan toilet dari Bu Winda, terlebih dahulu. Patton tertawa terbahak-bahak ketika mengatakannya, “…Salah sendiri, tidur kompakan di sela pelajaran..” Debo tertawa kecil.
Sekitar beberapa menit kemudian, Patton menerima telepon bahwa sopirnya telah berada di luar asrama. Patton segera bergegas mengajak Debo keluar. “Oya… ntar Rahmi dkk bakal nebeng juga sama kita.” Debo tergelak. “Ntar aku duduk di depan. Kamu duduk di belakang, bareng anak-anak cewek yang lain, yak?” lanjut Patton sembari tertawa jahil. Debo merengut. Rasanya ia ingin sekali menjitak kepala Patton.
Di luar Asrama, Rahmi, Oik, Agni, dan Ify telah berkumpul. Gaun-gaun cantik melekat di badan mereka masing-masing. Agni tampak tampil berbeda dari biasanya. Ia mencoba menutupi ketomboiannya dengan balutan baju baby doll nya. Terlihat begitu feminim. Rahmi dengan gaun orange cerah berpadu dengan kerudung hias putih tampak terlihat begitu anggun. Ify dengan bandana hitam dan gaun biru tua selututnya, mampu merubah dirinya menjadi lebih manis dibandingkan kesehariannya. Begitu pula dengan Oik. Ia tampil sangat berbeda dari biasanya. Kaca mata yang selama ini dipakainya, ia ganti dengan contact lens berwarna ungu. Rambutnya terurai sebahu. Dan gaun pink yang dipakainya, membuatnya begitu terlihat imut. Patton dan Debo sempat terkesima terhadap penampilan mereka berempat yang terlihat begitu nice…
“Jadi berangkat gag nih?” tanya Agni gag sabaran.
Patton dan Debo segera tersadar dari kebengongan mereka. Patton pun membuka pintu belakang mobilnya.
Oik, Ify, Debo, Rahmi, dan Agni masuk ke dalam mobil. patton menutup pintu belakang, dan masuk mendudukkan dirinya di kursi depan. Dalam hati ia tertawa geli melihat kemanyunan Debo saat diapit oleh anak-anak perempuan…
-
Pesta yang dilangsungkan di halaman rumah Cakka tampak begitu meriah. Taburan bintang-bintang di langit, seakan menjadi saksi kepuasan para undangan pesta dalam menikmati acara ini. Hingga di tengah acara, musik tiba-tiba berhenti.
“Tolong tenang. Gue disini cuma mau memberikan suatu pengumuman.” ucap Cakka. Semua anak berbisik heran. Termasuk Obiet dan Irsyad yang sepertinya juga tak tau apa yang sedang direncanakan Cakka.
“Barusan bokap gue telepon. Dan beliau mengatakan, bahwa ia telah men_DO seorang murid yang dianggapnya telah melanggar peraturan di sekolah ini. Dan murid itu adalah salah satu diantara kalian.” lanjutnya.
Debo terdiam. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ia merasakan firasat buruk hadir kembali di benaknya.
Cakka berjalan menghampiri Debo. “Andryos Ariyanto… Mulai detik ini, lo bukan lagi member dari ICJHS.”
Semua anak yang berada di tempat itu tercengang.
“Kenapa?” tanya Debo pelan.
Cakka tertawa. “Tentu saja karena lo telah melanggar peraturan untuk tidak berkelahi di sekolah.”
Debo mencoba meredam emosinya. “Lo yang mulai duluan…”
“Gue? Bukannya lo yang mukul gue duluan?” ujar Cakka. Debo mencoba mengelak sekali lagi. Namun, Cakka memotongnya, dan mengusirnya.
“Lo keterlaluan, Cak…” ucap Debo tertahan.
“Terserah lo mau bilang gue apa! Yang jelas, lo keluar dari sini sekarang juga!” bentak Cakka keras. Bertepatan dengan itu, Debo melayangkan kepalan tangannya ke pipi Cakka. Kesabarannya telah habis, dalam menghadapi keegoisan anak laki-laki di depannya tersebut. Perkelahian pun terjadi. Cakka dan Debo saling memukul satu sama lain. Irsyad dan Obiet berlari mendekat, mencoba untuk melerai. Sementara anak-anak yang lain mematung diri tak berani berbuat apapun.
Irsyad dan Obiet mencoba memegang Cakka yang masih memberontak. Debo mulai tenang. Ia sadar, bahwa ia telah berada di pinggir jalan raya. Ia pikir, cukup berbahaya berkelahi di tempat ini. Dan ketika, ia mencoba untuk mengalah dan merelakan diri keluar dari ICJHS, Cakka berhasil melepaskan diri dari cengkraman Obiet dan Irsyad dan berjalan tertatih menghampiri Debo. Satu pukulan keras mendarat di pipi Debo. Debo pun jatuh tersungkur.
Kuingat kau mengatakan,
kau 'kan kembali untukku,
“Diiinnnnn……!!” Dan bagaikan suatu reklame singkat, sebuah mobil melaju kencang ke arah Debo. Mobil itu pun menabrak Debo, membuatnya terpental beberapa meter.
“DEBOOOO……!!!!!!” Sesaat, Debo dapat mendengar suara teriakan teman-temannya. Seseorang menghampirinya dan menangis keras. Di antara penglihatannya yang terbatas, ia dapat melihat siapa orang tersebut. Ya… Dia yakin bahwa orang itu adalah Obiet… Debo tersenyum dalam hati. Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.
Di saat pelangi terlukis,
di tengah taburan bintang.
--to be continued--
Apakah Mushroom band akan lolos audisi?
Apa yang akan terjadi pada Debo selanjutnya?
nantikan di
FRIENDSHIP NEVER END chapter 6..
____
kauaand..
hari menuju UTS semakin dekat.. dan mungkin, ak agak susah buat nglanjutin.. jadi harap dimaklumi, kalau chappi selanjutnya akan semakin lama dibandingin sebelum-sebelumnya.. T.T gomen nasai…
mmm… ngomong”… lagu di chappi ini mungkin agak gag nyambung *manksebelum2nyanyambung?* maaf… bingung cari lagu apa yang pas. Mungkin ada usul?
oyaa..
FRIENDSHIP NEVER END mungkin bakal slese beberapa chappi lagi.. mohon review dan kritiknya supaya tidaa bosan membacanya sampai akhir..
tingkyuu :)
*domo arigatou*
FRIENDSHIP NEVER END [MUSICAL ADV] --> Chapter 4 : Berhenti Berharap
Satu hal yang ada di benak Obiet kali ini hanyalah kata ‘menyesal’. Apa yang ia lakukan saat sosok seseorang yang sangat ia rindukan selama ini, justru babak belur karena perbuatannya? Obiet sungguh menyesal telah menuruti egonya, dengan mempertahankan diri untuk sekolah disini. Namun, ICJHS adalah sekolah impian Obiet sejak dulu! Apa kata orang tuanya jika ia dikeluarkan dari sekolah ini hanya karena Obiet berani menentang Cakka?
“Berani banget tuh anak..” keluh Cakka geram.
Irsyad menepuk pundak Cakka, “Tenang, Bro.. Yang penting, dia udah kita beri pelajaran. Ntar juga kapok sendiri.”
Cakka mendesah, “Tapi ini pertama kalinya gue dipukul, Syad! Nyokap bokap gue aja gag pernah mukul gue! Sedangkan dia?!”
Irsyad melipat tangannya di dada, “Trus? Mau lo?”
Cakka tersenyum penuh kemenangan, “Gue gag mau liat muka dia lagi di sekolah ini..”
Deg!
Obiet tersentak. Ia tau maksud Cakka. Cakka berniat mengeluarkan Debo dari sekolah ini.. “Cak! Maksud lo?”
“Gue bakalan minta bokap gue, supaya dia Get Out dari sini!” jawab Cakka tajam.
“Apa belum cukup lo buat dia babak belur sampai seperti itu?!” bela Obiet mati-matian. Ia tak bisa terima jika Cakka berbuat sekejam itu pada Debo. Bagaimana pun juga Debo adalah sahabatnya.
“Itu gag seberapa, Biet, daripada perbuatan dia yang sok berani itu..” ucap Cakka.
“Tapi Cak.. Apa lo gag punya rasa kasian sedikit pun?” Obiet terus mencoba membela Debo.
Cakka mengerling heran, “Perasaan gue aja.. Atau lo berusaha belain dia?”
Obiet terhenyak.
Irsyad menatap curiga pada Obiet, “Jadi lo lebih belain dia daripada kita, temen lo sendiri?”
Obiet terdiam. Ia merasa tersudut. Ia pun mengalihkan mukanya dari tatapan curiga Cakka dan Irsyad, “Gag.. Gue gag sedang membela siapapun. Gue cuman mau meluruskan aja. Gue rasa, dengan buat dia babak belur seperti tadi, itu sudah cukup! Percaya sama gue, dia gag bakalan berani lagi sama kita!” Obiet bersusah payah merangkai kata. Dengan tujuan, seakan tetap berpihak pada Cakka dan Irsyad, namun juga menjauhkan Debo dari bahaya kekejaman kedua temannya.
Cakka terdiam. Ia merenungi kata-kata yang diucapkan Obiet. Sesaat kemudian, ia pun menyanggupi usul Obiet. Namun dengan syarat, jika Debo berbuat suatu hal lagi yang tak ia sukai, maka ia tak akan segan-segan untuk mengeluarkannya dari sekolah ini.
Aku tak percaya lagi
dengan apa yang kau beri
Tiba-tiba, seseorang menarik kerah baju Obiet. “Kak Iel? Kenapa kak?”
Gabriel menatap Obiet penuh emosi, “Lo masih tanya kenapa?! Lo pikir lo siapa?! Hanya karena lo berkuasa, lo sampai tega biarin Zahra nunggu lo dengan sia-sia?!”
Obiet tersentak. Zahra? Ia baru ingat jika ia mempunyai janji untuk bertemu Zahra kemarin..
Irsyad berusaha menolong Obiet. Ia coba melepaskan cengkraman tangan Gabriel dari kerah Obiet. Namun, Gabriel tak berkutik. Ia tetap mencengkeram kerah baju Obiet.
“Lo keterlaluan! Lo anggap Zahra apa?! hah?! Lo gag mikir keadaan dia gimana?!” seru Gabriel.
Obiet terhenyak. Hari ini, ia sungguh merasa dihantui rasa bersalah. Pada Debo.. Pada Oik.. Juga pada Zahra..
Sementara Gabriel terus melampiaskan seluruh kekecewaannya pada Obiet, Sivia melihat mereka nanar. Entah mengapa hatinya terasa pedih..
-
Debo terus terdiam sementara Ify, petugas UKS, mengobati luka di kedua pipinya. Sesekali, ia mengaduh saat lukanya terasa perih. Ify memeras handuk basah di air hangat. Lalu, mengusapkannya kembali di pipi Debo. “Lain kali, jangan cari masalah lagi dengan mereka..” sarannya.
Debo terdiam.
“Meskipun kamu yang benar dalam masalah ini.. Yang perlu kamu tau, guru-guru gag akan campur tangan.. Gag ada yang bisa menentang mereka..” lanjutnya.
Aku terdampar disini
tersudut menunggu mati
Debo menunduk. Kemudian, ia menjauhkan handuk basah yang dipegang Ify, dari pipinya. “Sudah cukup.” ujarnya lirih.
Ify pun menurut. Ia berhenti mengobati luka Debo. Beberapa detik, ia menatap muka Debo yang masih tertunduk. Ia mengerti bagaimana perasaan Debo. Brothers On 3 memang sangat keterlaluan.. “Uhm.. Kalau kamu merasa udah baikan.. Kamu boleh kembali ke asrama..”
Debo tetap terdiam.
Kemudian, Ify menatap ke arah Patton. “Ton.. Jaga Debo, ya..”
Patton mengangguk.
Ify pun beranjak pergi dari tempat itu.
Saat ini, hanya Patton dan Debo yang berada di dalam ruang UKS. Rahmi, Oik, dan Agni, telah kembali ke asrama. Mereka bertiga merasa sangat bersalah terhadap Debo. Terlebih Oik. Ia merasa telah menjadi biang kerok dalam masalah ini. Rahmi menangis karena tak bisa berbuat apapun untuk menolong teman-temannya. Sementara Agni, berulang kali ia mengeluarkan kata-kata dendam kepada BO3, karena mereka telah membuat Oik menangis, dan Debo babak belur. Debo pun meyakinkan mereka, tak ada yang patut disalahkan dalam masalah ini.
Guru-guru yang dipanggil Patton pun hanya bisa memberi nasihat agar tak mencari masalah lagi dengan Brothers On 3. Mereka meminta maaf karena tak bisa membela anak didiknya tersebut. Debo menerimanya. Meskipun otaknya memprotes, mengapa guru-guru angkat tangan dalam menghadapi anak-anak seperti mereka.
Selama beberapa menit, suasana tetap sunyi. Hanya bunyi ranting-rantingan yang jatuh tertiup angin menerpa kaca jendela UKS. Patton pun tak berani memulai pembicaraan. Ia beranggapan, lebih baik Debo menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
“Ton…” panggil Debo pelan. Patton menoleh ke arah Debo yang masih menunduk.
“Apa pendapatmu tentang Obiet?” tanya Debo lirih.
Patton terdiam sesaat. Terbesit sedikit pertanyaan, mengapa Debo hanya menanyakan Obiet? Mengapa tak sekalian Cakka maupun Irsyad? “Uhm.. gag jauh beda sama tanggapan orang lain tentang dia dan geng-nya mungkin.. Egois.. Merasa berkuasa..”
Debo melenguh.
“Tapi.. kalau aku bilang sih, dia yang paling agak mendingan gitu daripada dua anggota BO3 yang lain..” ucap Patton menambahkan.
Debo diam.. Ia merasa sudah waktunya untuk menceritakannya pada orang lain, bahwa Obiet teman masa kecilnya dulu. Ia pun menceritakan semuanya pada Patton, secara mendetail.
Patton tercengang. Sekarang, ia semakin memahami perasaan Debo yang campur aduk saat ini. Bagaimana tidak? Seseorang yang pernah dekat dengan kita, tega berbuat hal sekeji itu pada kita.
Debo terus menunduk. Sekuat mungkin, ia menahan air matanya tak jatuh. “Dia benar-benar berubah..”
-
Debo membaringkan tubuhnya lemah di atas tempat tidur. Dipandangi 3 teman kamarnya sedang asyik melakukan kegiatannya masing-masing. Abner sibuk dengan ponselnya.. entah sedang sms-an dengan siapa. Patton tetap berkutat pada PSP nya. dan Bastian telah tidur pulas sedari tadi..
Tok.. Tok.. Tok..
Debo melirik ke arah jam dindingnya yang telah menunjukkan pukul 9 malam. Patton beranjak bangkit dari posisi awalnya. Debo mencegahnya. Biar ia yang membukakan. Sekalian ia ingin menggerakkan kembali otot-ototnya yang sempat kaku, karena lama berdiam diri.
Ia langkahkan kakinya ke arah pintu, dan memutar kenop. Betapa terkejutnya dia, saat menemukan sosok Obiet di depan pintu. Namun, dengan cepat ia segera memperbaiki raut wajah terkejutnya.
Aku tak percaya lagi
akan guna matahari
“Hai Debo..” sapa Obiet canggung. Sepertinya, ia masih merasa tidak enak pada kejadian tadi siang. Dilihatnya kedua pipi Debo yang lebam. Dalam hati, ia mengutuk dirinya karena telah melakukan hal sekejam itu.
Debo terdiam. Ia alihkan pandangannya dari muka Obiet. Melihat Obiet yang telah berubah total seperti ini, hanya akan membuatnya semakin sakit.
Melihat reaksi Debo yang tak membalas sapaannya, membuatnya semakin gugup. Otaknya berfikir keras harus berkata apa lagi dalam menghadapi Debo yang terlanjur marah padanya. “A-apa kaba..ar?”
“Walaupun gag gue jawab lu juga bisa jawab sendiri kan?” jawab Debo pelan namun tajam.
Obiet semakin merasa bersalah.. Sekali lagi, ia menatap plester yang menempel di pelipis Debo. Ya.. Itu gara-gara aku.. batin Obiet. “Maaf..”
Debo terhenyak. Namun, matanya tetap tertuju pada arah lain. Entah karena apa, ia merasa sulit melihat wajah Obiet kali ini.
“Aku udah benar-benar jahat ya?” ujar Obiet pahit.
Debo tersenyum kecut.
“Aku tau.. Permintaan maaf ini gag sebanding dengan apa yang udah aku lakuin tadi siang.. Tapi.. jika bisa..” ucap Obiet menggantung.
Mau tak mau Debo tergerak untuk menatap wajah Obiet saat ini. Dan detik itu pun juga.. Ia menyadari mata Obiet yang telah basah.
Obiet berusaha mengendalikan emosinya. “Jika bisa.. Tolong maafin aku..”
Debo terdiam. Sesaat kemudian, ia menunduk..
Yang dulu mampu terangi
sudut gelap hati ini
Selama beberapa menit, mereka tak mengeluarkan suara apapun lagi.. Mereka berdebat dengan pikirannya masing-masing.
Hingga Debo membuka suara. “Aku mau tidur..”
Obiet tercengang. Sama sekali tak terpikir olehnya, jika permintaan maafnya harus menggantung seperti ini.
Debo pun mundur selangkah, dan menutup pintu kamarnya tersebut. Lalu, ia melangkah menuju tempat tidurnya.
“Ada apa?” tanya Patton.
Debo tak menghiraukannya. Ia segera menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya.
Patton mengangkat bahu saat menangkap kode mata Abner, yang seakan ikut mewakili pertanyaan Patton tadi.
Dan tanpa disadari oleh mereka berdua, Debo menangis tanpa suara di balik selimutnya..
Aku berhenti berharap…
-
Ponsel Oik berdering. Oik segera mengambilnya dan melihat nama seseorang di layar ponselnya.
Obiet is calling ..
Dengan ragu, ia mengangkatnya..
“Oik.. aku minta maaf soal yang tadi..” ucap Obiet.
Oik menghela nafas pelan, kemudian menjawabnya, “Aku mau maafin kakak, kalau kakak keluar dari BO3!”
“Tapi..”
“Tapi apa?!” potong Oik.
Obiet tersudut. Ia merasa dihadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit. “Aku gag bisa, Ik.”
Tentu saja Oik kecewa dengan jawaban Obiet tersebut. “Kenapa gag bisa?”
“Karena…”
“Karena kakak gag mau keluar dari sekolah ini?” potong Oik.
Obiet terdiam. Dalam hati, ia mengangguk. Memang itulah alasan mengapa ia tak berani menentang Cakka. Cakka anak dari pemilik sekolah ini. Dan ia mampu melakukan apa saja, jika ada seseorang yang berani menentangnya. Termasuk mengeluarkan seseorang dari sekolah ini.
“Itu tandanya.. Kakak cuma mau menuruti ego kakak aja.. Kakak gag pernah mikirin orang lain yang sakit hati gara-gara ego kakak.” ujar Oik tajam.
Obiet terhenyak.
“Pokoknya aku gag bakal maafin kakak, sebelum kakak keluar dari BO3!” ancam Oik seraya memutuskan hubungan teleponnya dengan Obiet.
“Obiet?” tanya Rahmi sembari menutup buku pelajaran yang tadi dibacanya.
Oik mengangguk. Ia pun menyandarkan tubuhnya di tepi tempat tidur. “Aku gag tau harus nglakuin gimana lagi, supaya dia keluar dari BO3..”
“Sepertinya memang susah ngebuat dia keluar dari BO3.. Yach.. secara, lo tau sendiri kan, sekolah ini berarti banget buat dia. Dan kalau dia keluar dari BO3, itu sama aja, dia ngebuang semua yang udah dia dapetin saat ini.” sahut Agni yang disambut dengan helaan nafas Oik.
-
“Ngapain sih lo pake acara minta maaf segala sama Oik?” tanya Irsyad heran.
Obiet tak menyahut pertanyaan Irsyad. Ia amat sangat gelisah saat ini. Permintaan maafnya pada Debo dan Oik, tak diterima. Ia tak tau lagi harus berbuat apa, supaya mereka bisa memaafkannya. Tiba-tiba, ia teringat pada satu orang. Ya… Zahra. Kemarin, Obiet sempat lupa bahwa ia ada janji untuk bertemu Zahra.
Obiet pun meraih ponselnya kembali, dan mencari nomor Zahra di phone book ponselnya. Kemudian, ia menekan tombol call.
“Halo..” sapa seseorang di seberang.
“Zahra.. Aku minta maaf..”
--to be continued--
Apakah Zahra akan memaafkan Obiet?
Apa sebenarnya hubungan antara Oik dan Obiet?
Dan..
apa yang akan terjadi pada persahabatan Debo dan Obiet selanjutnya?
nantikan di
FRIENDSHIP NEVER END chapter 5 ..
*domo arigatou*
“Berani banget tuh anak..” keluh Cakka geram.
Irsyad menepuk pundak Cakka, “Tenang, Bro.. Yang penting, dia udah kita beri pelajaran. Ntar juga kapok sendiri.”
Cakka mendesah, “Tapi ini pertama kalinya gue dipukul, Syad! Nyokap bokap gue aja gag pernah mukul gue! Sedangkan dia?!”
Irsyad melipat tangannya di dada, “Trus? Mau lo?”
Cakka tersenyum penuh kemenangan, “Gue gag mau liat muka dia lagi di sekolah ini..”
Deg!
Obiet tersentak. Ia tau maksud Cakka. Cakka berniat mengeluarkan Debo dari sekolah ini.. “Cak! Maksud lo?”
“Gue bakalan minta bokap gue, supaya dia Get Out dari sini!” jawab Cakka tajam.
“Apa belum cukup lo buat dia babak belur sampai seperti itu?!” bela Obiet mati-matian. Ia tak bisa terima jika Cakka berbuat sekejam itu pada Debo. Bagaimana pun juga Debo adalah sahabatnya.
“Itu gag seberapa, Biet, daripada perbuatan dia yang sok berani itu..” ucap Cakka.
“Tapi Cak.. Apa lo gag punya rasa kasian sedikit pun?” Obiet terus mencoba membela Debo.
Cakka mengerling heran, “Perasaan gue aja.. Atau lo berusaha belain dia?”
Obiet terhenyak.
Irsyad menatap curiga pada Obiet, “Jadi lo lebih belain dia daripada kita, temen lo sendiri?”
Obiet terdiam. Ia merasa tersudut. Ia pun mengalihkan mukanya dari tatapan curiga Cakka dan Irsyad, “Gag.. Gue gag sedang membela siapapun. Gue cuman mau meluruskan aja. Gue rasa, dengan buat dia babak belur seperti tadi, itu sudah cukup! Percaya sama gue, dia gag bakalan berani lagi sama kita!” Obiet bersusah payah merangkai kata. Dengan tujuan, seakan tetap berpihak pada Cakka dan Irsyad, namun juga menjauhkan Debo dari bahaya kekejaman kedua temannya.
Cakka terdiam. Ia merenungi kata-kata yang diucapkan Obiet. Sesaat kemudian, ia pun menyanggupi usul Obiet. Namun dengan syarat, jika Debo berbuat suatu hal lagi yang tak ia sukai, maka ia tak akan segan-segan untuk mengeluarkannya dari sekolah ini.
Aku tak percaya lagi
dengan apa yang kau beri
Tiba-tiba, seseorang menarik kerah baju Obiet. “Kak Iel? Kenapa kak?”
Gabriel menatap Obiet penuh emosi, “Lo masih tanya kenapa?! Lo pikir lo siapa?! Hanya karena lo berkuasa, lo sampai tega biarin Zahra nunggu lo dengan sia-sia?!”
Obiet tersentak. Zahra? Ia baru ingat jika ia mempunyai janji untuk bertemu Zahra kemarin..
Irsyad berusaha menolong Obiet. Ia coba melepaskan cengkraman tangan Gabriel dari kerah Obiet. Namun, Gabriel tak berkutik. Ia tetap mencengkeram kerah baju Obiet.
“Lo keterlaluan! Lo anggap Zahra apa?! hah?! Lo gag mikir keadaan dia gimana?!” seru Gabriel.
Obiet terhenyak. Hari ini, ia sungguh merasa dihantui rasa bersalah. Pada Debo.. Pada Oik.. Juga pada Zahra..
Sementara Gabriel terus melampiaskan seluruh kekecewaannya pada Obiet, Sivia melihat mereka nanar. Entah mengapa hatinya terasa pedih..
-
Debo terus terdiam sementara Ify, petugas UKS, mengobati luka di kedua pipinya. Sesekali, ia mengaduh saat lukanya terasa perih. Ify memeras handuk basah di air hangat. Lalu, mengusapkannya kembali di pipi Debo. “Lain kali, jangan cari masalah lagi dengan mereka..” sarannya.
Debo terdiam.
“Meskipun kamu yang benar dalam masalah ini.. Yang perlu kamu tau, guru-guru gag akan campur tangan.. Gag ada yang bisa menentang mereka..” lanjutnya.
Aku terdampar disini
tersudut menunggu mati
Debo menunduk. Kemudian, ia menjauhkan handuk basah yang dipegang Ify, dari pipinya. “Sudah cukup.” ujarnya lirih.
Ify pun menurut. Ia berhenti mengobati luka Debo. Beberapa detik, ia menatap muka Debo yang masih tertunduk. Ia mengerti bagaimana perasaan Debo. Brothers On 3 memang sangat keterlaluan.. “Uhm.. Kalau kamu merasa udah baikan.. Kamu boleh kembali ke asrama..”
Debo tetap terdiam.
Kemudian, Ify menatap ke arah Patton. “Ton.. Jaga Debo, ya..”
Patton mengangguk.
Ify pun beranjak pergi dari tempat itu.
Saat ini, hanya Patton dan Debo yang berada di dalam ruang UKS. Rahmi, Oik, dan Agni, telah kembali ke asrama. Mereka bertiga merasa sangat bersalah terhadap Debo. Terlebih Oik. Ia merasa telah menjadi biang kerok dalam masalah ini. Rahmi menangis karena tak bisa berbuat apapun untuk menolong teman-temannya. Sementara Agni, berulang kali ia mengeluarkan kata-kata dendam kepada BO3, karena mereka telah membuat Oik menangis, dan Debo babak belur. Debo pun meyakinkan mereka, tak ada yang patut disalahkan dalam masalah ini.
Guru-guru yang dipanggil Patton pun hanya bisa memberi nasihat agar tak mencari masalah lagi dengan Brothers On 3. Mereka meminta maaf karena tak bisa membela anak didiknya tersebut. Debo menerimanya. Meskipun otaknya memprotes, mengapa guru-guru angkat tangan dalam menghadapi anak-anak seperti mereka.
Selama beberapa menit, suasana tetap sunyi. Hanya bunyi ranting-rantingan yang jatuh tertiup angin menerpa kaca jendela UKS. Patton pun tak berani memulai pembicaraan. Ia beranggapan, lebih baik Debo menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
“Ton…” panggil Debo pelan. Patton menoleh ke arah Debo yang masih menunduk.
“Apa pendapatmu tentang Obiet?” tanya Debo lirih.
Patton terdiam sesaat. Terbesit sedikit pertanyaan, mengapa Debo hanya menanyakan Obiet? Mengapa tak sekalian Cakka maupun Irsyad? “Uhm.. gag jauh beda sama tanggapan orang lain tentang dia dan geng-nya mungkin.. Egois.. Merasa berkuasa..”
Debo melenguh.
“Tapi.. kalau aku bilang sih, dia yang paling agak mendingan gitu daripada dua anggota BO3 yang lain..” ucap Patton menambahkan.
Debo diam.. Ia merasa sudah waktunya untuk menceritakannya pada orang lain, bahwa Obiet teman masa kecilnya dulu. Ia pun menceritakan semuanya pada Patton, secara mendetail.
Patton tercengang. Sekarang, ia semakin memahami perasaan Debo yang campur aduk saat ini. Bagaimana tidak? Seseorang yang pernah dekat dengan kita, tega berbuat hal sekeji itu pada kita.
Debo terus menunduk. Sekuat mungkin, ia menahan air matanya tak jatuh. “Dia benar-benar berubah..”
-
Debo membaringkan tubuhnya lemah di atas tempat tidur. Dipandangi 3 teman kamarnya sedang asyik melakukan kegiatannya masing-masing. Abner sibuk dengan ponselnya.. entah sedang sms-an dengan siapa. Patton tetap berkutat pada PSP nya. dan Bastian telah tidur pulas sedari tadi..
Tok.. Tok.. Tok..
Debo melirik ke arah jam dindingnya yang telah menunjukkan pukul 9 malam. Patton beranjak bangkit dari posisi awalnya. Debo mencegahnya. Biar ia yang membukakan. Sekalian ia ingin menggerakkan kembali otot-ototnya yang sempat kaku, karena lama berdiam diri.
Ia langkahkan kakinya ke arah pintu, dan memutar kenop. Betapa terkejutnya dia, saat menemukan sosok Obiet di depan pintu. Namun, dengan cepat ia segera memperbaiki raut wajah terkejutnya.
Aku tak percaya lagi
akan guna matahari
“Hai Debo..” sapa Obiet canggung. Sepertinya, ia masih merasa tidak enak pada kejadian tadi siang. Dilihatnya kedua pipi Debo yang lebam. Dalam hati, ia mengutuk dirinya karena telah melakukan hal sekejam itu.
Debo terdiam. Ia alihkan pandangannya dari muka Obiet. Melihat Obiet yang telah berubah total seperti ini, hanya akan membuatnya semakin sakit.
Melihat reaksi Debo yang tak membalas sapaannya, membuatnya semakin gugup. Otaknya berfikir keras harus berkata apa lagi dalam menghadapi Debo yang terlanjur marah padanya. “A-apa kaba..ar?”
“Walaupun gag gue jawab lu juga bisa jawab sendiri kan?” jawab Debo pelan namun tajam.
Obiet semakin merasa bersalah.. Sekali lagi, ia menatap plester yang menempel di pelipis Debo. Ya.. Itu gara-gara aku.. batin Obiet. “Maaf..”
Debo terhenyak. Namun, matanya tetap tertuju pada arah lain. Entah karena apa, ia merasa sulit melihat wajah Obiet kali ini.
“Aku udah benar-benar jahat ya?” ujar Obiet pahit.
Debo tersenyum kecut.
“Aku tau.. Permintaan maaf ini gag sebanding dengan apa yang udah aku lakuin tadi siang.. Tapi.. jika bisa..” ucap Obiet menggantung.
Mau tak mau Debo tergerak untuk menatap wajah Obiet saat ini. Dan detik itu pun juga.. Ia menyadari mata Obiet yang telah basah.
Obiet berusaha mengendalikan emosinya. “Jika bisa.. Tolong maafin aku..”
Debo terdiam. Sesaat kemudian, ia menunduk..
Yang dulu mampu terangi
sudut gelap hati ini
Selama beberapa menit, mereka tak mengeluarkan suara apapun lagi.. Mereka berdebat dengan pikirannya masing-masing.
Hingga Debo membuka suara. “Aku mau tidur..”
Obiet tercengang. Sama sekali tak terpikir olehnya, jika permintaan maafnya harus menggantung seperti ini.
Debo pun mundur selangkah, dan menutup pintu kamarnya tersebut. Lalu, ia melangkah menuju tempat tidurnya.
“Ada apa?” tanya Patton.
Debo tak menghiraukannya. Ia segera menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya.
Patton mengangkat bahu saat menangkap kode mata Abner, yang seakan ikut mewakili pertanyaan Patton tadi.
Dan tanpa disadari oleh mereka berdua, Debo menangis tanpa suara di balik selimutnya..
Aku berhenti berharap…
-
Ponsel Oik berdering. Oik segera mengambilnya dan melihat nama seseorang di layar ponselnya.
Obiet is calling ..
Dengan ragu, ia mengangkatnya..
“Oik.. aku minta maaf soal yang tadi..” ucap Obiet.
Oik menghela nafas pelan, kemudian menjawabnya, “Aku mau maafin kakak, kalau kakak keluar dari BO3!”
“Tapi..”
“Tapi apa?!” potong Oik.
Obiet tersudut. Ia merasa dihadapkan oleh dua pilihan yang sangat sulit. “Aku gag bisa, Ik.”
Tentu saja Oik kecewa dengan jawaban Obiet tersebut. “Kenapa gag bisa?”
“Karena…”
“Karena kakak gag mau keluar dari sekolah ini?” potong Oik.
Obiet terdiam. Dalam hati, ia mengangguk. Memang itulah alasan mengapa ia tak berani menentang Cakka. Cakka anak dari pemilik sekolah ini. Dan ia mampu melakukan apa saja, jika ada seseorang yang berani menentangnya. Termasuk mengeluarkan seseorang dari sekolah ini.
“Itu tandanya.. Kakak cuma mau menuruti ego kakak aja.. Kakak gag pernah mikirin orang lain yang sakit hati gara-gara ego kakak.” ujar Oik tajam.
Obiet terhenyak.
“Pokoknya aku gag bakal maafin kakak, sebelum kakak keluar dari BO3!” ancam Oik seraya memutuskan hubungan teleponnya dengan Obiet.
“Obiet?” tanya Rahmi sembari menutup buku pelajaran yang tadi dibacanya.
Oik mengangguk. Ia pun menyandarkan tubuhnya di tepi tempat tidur. “Aku gag tau harus nglakuin gimana lagi, supaya dia keluar dari BO3..”
“Sepertinya memang susah ngebuat dia keluar dari BO3.. Yach.. secara, lo tau sendiri kan, sekolah ini berarti banget buat dia. Dan kalau dia keluar dari BO3, itu sama aja, dia ngebuang semua yang udah dia dapetin saat ini.” sahut Agni yang disambut dengan helaan nafas Oik.
-
“Ngapain sih lo pake acara minta maaf segala sama Oik?” tanya Irsyad heran.
Obiet tak menyahut pertanyaan Irsyad. Ia amat sangat gelisah saat ini. Permintaan maafnya pada Debo dan Oik, tak diterima. Ia tak tau lagi harus berbuat apa, supaya mereka bisa memaafkannya. Tiba-tiba, ia teringat pada satu orang. Ya… Zahra. Kemarin, Obiet sempat lupa bahwa ia ada janji untuk bertemu Zahra.
Obiet pun meraih ponselnya kembali, dan mencari nomor Zahra di phone book ponselnya. Kemudian, ia menekan tombol call.
“Halo..” sapa seseorang di seberang.
“Zahra.. Aku minta maaf..”
--to be continued--
Apakah Zahra akan memaafkan Obiet?
Apa sebenarnya hubungan antara Oik dan Obiet?
Dan..
apa yang akan terjadi pada persahabatan Debo dan Obiet selanjutnya?
nantikan di
FRIENDSHIP NEVER END chapter 5 ..
*domo arigatou*
FRIENDSHIP NEVER END [MUSICAL ADV] --> Chapter 3 : Jangan Pernah Berubah
mohon maaf lahir & batin buadd SD smuaa ..
maaf kalau selama ini q punya salah ..
met menunaikan ibadah puasa ..
RnR yap .. tingkyu .. ^^
______________________________________________________________________________________________________
Waktu terasa berjalan begitu lambat.. Itulah yang ada di benak Gita saat ini. Berulang kali Gita melirik jam tangannya. Rasanya sangat bosan harus mengikuti rapat Osis kali ini. Terlebih, mendengarkan ceramah dari sang ketua OSIS yang tak tau kapan akan berhenti.
“Gita, lo ada usul?” tanya Dayat. Rupanya, sedari tadi ia sadar, bahwa Gita sama sekali tak menyimak perkataannya.
Gita tergagap. “Hah?”
Dayat menghela nafas berat, “Lo gag dengerin gue kan, tadi?”
“Maaf deh, kak..” ucap Gita dengan tampang sememelas mungkin.
Dayat menghela nafas pelan, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh anggota OSIS, “Jadi, ada yang punya usul, acara apa yang sekiranya menarik, untuk pensi tahun ini?”
Irva mengangkat tangan. Dayat mempersilahkannya bicara. “Kan acara utama kita, duel Brothers On 3, yang tentu saja berhubungan dengan musik. Jadi, gimana kalau kita ngambil suatu acara sampingan yang identik dengan musik juga?”
Dayat mengangguk-angguk setuju.
Cahya menambahkan, “Kita bisa menampilkan berbagai jenis aliran musik. Mulai dari jazz, sampai rock.”
Gita mengangkat tangannya cepat. Setelah sedari tadi ia diam karena tak mengerti topik. “Lalu setelah kita menampilkan berbagai jenis musik, di akhir acara, kita bisa menggabungkan musik itu menjadi satu kesatuan lagu.”
“Ide bagus.” ucap Abner.
“Yap.. Gue juga setuju..” sahut Kiki.
Dayat mengangguk-angguk.
“Baiklah.. Deal!” ujar Dayat kemudian.
-
Debo menghentikan langkahnya. Ia memandang poster yang tertempel pada dinding di depannya. Ya.. Poster yang ia lihat di hari pertamanya sekolah disini. Ternyata memang wajah Obiet terpampang jelas di poster itu. Bersama dengan dua orang anggota Brother On 3 yang lain.
Biarkan watu teruslah berputar
Berteman denganmu penuh rasa sabar
“De?” panggil Patton.
Debo menoleh ke arah Patton.
Patton melihat sekilas poster itu, “Oh ini.. BO3 bakal perform besok..”
Debo memandang kembali poster itu, dan mendapati tulisan Brothers On 3, beserta info yang mengatakan bahwa mereka akan perform besok. Kemudian, Debo memasang tampang bertanya-tanya pada Patton. Ia tak mengerti.
“Mereka punya band legendaris. Banyak orang yang kagum akan kedahsyatan mereka waktu nge-band. Hhm .. Seandainya aku bisa mengalahkan mereka di duel BO3 tahun ini, aku gag akan sungkan-sungkan buat mempermalukan mereka.” ucap Patton berapi-api.
“Duel BO3?” tanya Debo.
Patton mengangguk, “Setiap tahun, sekolah ini mengadakan suatu.. yaagh.. bisa dibilang semacam lomba band yang akan diaudisi untuk mendapatkan satu band terbaik. Lalu, satu band yang terpilih akan melawan band BO3 di pensi nanti..”
Debo mangut-mangut. “Kamu gag tertarik?”
Patton terdiam. Sebenarnya ia tertarik juga. Sangat tertarik.. “Tertarik sih.. Tapi ya mana mungkin bisa..”
“Gag ada salahnya dicoba, kan?” tanya Debo.
Patton terhenyak. Ia mengerti maksud Debo. Lalu, sekejap kemudian, ia mengangguk pasti. “Oke! Kita berjuang bersama!”
Debo mengangguk, dan tersenyum. Lalu, ia menatap gambar Obiet pada poster. “Biet.. Tunggu aku..” ucapnya dalam hati.
-
“Sial!” seru Cakka keras sembari mendudukkan dirinya kasar diatas kursi.
“Hei! Lo kenapa, Bro?” tanya Irsyad yang heran melihat gelagat Cakka, yang tiba-tiba datang, lalu marah-marah tak jelas.
Cakka menatap tajam ke arah Irsyad dan Obiet, “Oik! Dia aduin kita colut ke Bu Ira!”
Obiet tersentak.
Irsyad menghela nafas pelan, “Kirain apa, Cak. Tenang aja.. Perkataan Oik gag bakal ditanggapi sama Bu Ira. Dijamin deh, Bu Ira gag bakal pernah berani ngasih hukuman atau apa ke kita.”
“Bukan itu, Syad. Yang gue gag habis pikir! Kenapa dia berani banget sama kita?!” ucap Cakka emosi.
Obiet panik. Ia takut Cakka akan melakukan suatu hal yang buruk pada Oik. “Udahlah Cak.. Masalah kecil aja lo besar-besarin..” ucapnya dengan maksud menyurutkan masalah.
“Masalah kecil, lo bilang? Ini menyangkut nama baik kita, Biet!” ucap Cakka keras.
Dalam hati, Obiet menyesal telah mengucapkan kata-kata itu. Bukannya menyurutkan masalah, justru malah menambah masalah.
“Kita harus buat perhitungan sama dia..” putus Cakka selanjutnya.
-
Shilla dan Angel berulang kali menoleh heran ke arah Sivia yang sedari tadi tampak murung. “Via, lo napa sih?” tanya Shilla.
Sivia mendesah, lalu menceritakan kejadian kemarin pada kedua sohibnya.
“Mendingan lo suruh kakak lo gag usah deketan lagi deh sama tu anak..” saran Angel.
“Yaagh.. Lo tau sendiri kan, kakak gue gimana? Dia tu keras kepala!” ujar Sivia.
“Tapi.. Demi kebaikan dia.. Kenapa gag? Lo pasti bisa vi, maksa kakak lo. Lo kan jago maksa!” ucap Shilla memberi semangat.
Sivia melotot ke arah Shilla, “Lo muji apa ngeledek?”
Gabriel, Sion, dan Riko berlari mendekati mereka bertiga, untuk melepas lelah seusai berlatih basket. Sion duduk di sebelah Sivia, kemudian meluruskan kakinya. Gabriel mengambil air mineral dari dalam tas dan meneguknya. Sementara Riko, duduk di depan Sivia, dan bertanya, “Ada apaan nih?”
Sivia mendengus, dan berujar, “Itu.. Kakak gue.. Kemarin pulang-pulang, gue liat mata dia sembap. Terus gue tanyain.. Dia bilang Obiet gag nepati janjinya buat ketemu dia..”
Gabriel tersedak.
“Aduuh ieel.. Makanya kalau minum pelan-pelan..” omel Angel sembari menepuk-nepuk keras punggung Gabriel.
Sivia melirik sekilas ke arah Gabriel yang masih terbatuk-batuk.
“Terus? Habis itu.. Zahra-nya cerita sesuatu gag, tentang Obiet, ke lo?” tanya Sion.
Sivia mengangguk, dan berkata, “Dia cuma bilang, kalau dia kecewa..”
Gabriel terdiam.. Lalu sejurus kemudian, ia beranjak dari tempat itu.. Ada suatu niat yang harus ia lakukan..
“Iel? Lo mau kemana?” teriak Angel.
Sivia pun beranjak berdiri, dan mengikuti Gabriel.
-
Oik tersudut saat Cakka, Obiet, dan Irsyad mendatanginya. Sementara Rahmi dan Agni, yang semula sedang bersama Oik di halaman sekolah, segera pergi untuk mencari bantuan.
“Apa lo gag tau konsekuensi yang bakal lo dapet, kalau lo berani sama kita?” tanya Cakka tajam.
Oik menatap Cakka, kesal. Dia sudah keterlaluan dan gag bisa dibiarin! “Kamu pikir, aku bakalan takut, gitu?”
Obiet terkejut melihat Oik berkata seperti itu. Ia sungguh takut jika masalah ini akan bertambah runyam.
“ee .. Lo berani banget ya?” bentak Irsyad seraya mendorong Oik hingga gadis itu terjatuh di tanah.
Lagi-lagi, Obiet terkejut melihat sikap Irsyad terhadap Oik, “Syad! Gag usah pake kasar kali!”
“Cewek kayak dia harus dikasarin, Biet..” jawab Irsyad enteng.
Cakka jongkok di depan Oik dan menatap muka Oik yang telah basah karena air mata. Lalu, ia menyunggingkan senyum sinisnya. Diambilnya kaca mata Oik, dan ia lemparkan asal ke belakang.
Oik meraba-raba sekitarnya. Ia tak bisa melihat tanpa kaca matanya. Air matanya pun keluar semakin deras.
Obiet tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tak mungkin membantu mengambilkannya. Ini sama saja, terlihat seperti memihak kepada Oik.
“Ini konsekuensinya.. Sekali lagi lo berani sama kita.. Gue gag segan-segan buat ngeluarin lo dari sekolah ini..” ucap Cakka tajam. Kemudian, ia kembali berdiri, dan berbalik beranjak dari tempat itu. Irsyad dan Obiet ikut berbalik.
Tiba-tiba, langkah Cakka terhenti. Obiet melihat ke arah Cakka dan penasaran mengapa ia berhenti. Kemudian, perhatiannya terpusat pada beberapa orang yang berdiri di depannya. Agni.. Rahmi.. Patton.. dan.. DEG! Obiet sempat tak mempercayai penglihatannya. “De..Debo?” serunya pelan, tak percaya.
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan
“Minta maaf padanya..” ucap Debo tajam.
Rahmi dan Agni segera menghambur ke arah Oik, dan mengambil kaca mata Oik yang tergeletak di tanah, lalu memberikannya kembali pada Oik.
Cakka mendesah lalu melipat tangannya di dada. “hah?”
“Minta maaf padanya..” ulang Debo tajam. Tangannya mengepal kuat.
Cakka tertawa sinis, “Apa? Gue gag denger!”
“MINTA MAAF PADANYA!” seru Debo. Sedetik kemudian, kepalan tangannya mendarat di pipi Cakka.
Obiet dan Irsyad terkejut. Begitu pula dengan Patton. Patton pun segera berbalik untuk memanggil guru-guru yang sekiranya bisa membantu melerai mereka.
Cakka terhenyak. Pipinya berdenyut hebat. Seketika emosinya naik, Ia menatap Debo penuh amarah.
Irsyad segera melayangkan pukulan di pipi Debo, “Lo gag tau siapa kita?!”
Debo hendak membalas, namun tangan Irsyad mendorongnya hingga ia terpojok di dinding. Tangan kiri Debo pun telah tercengkeram kuat oleh Irsyad.
Cakka berjalan mendekati Debo, dan memukul keras pipi kanan Debo.
Obiet tersentak. Dadanya sesak. Ia tak tega melihat sahabat kecilnya diperlakukan sekejam itu oleh Cakka dan Irsyad. Di satu sisi, ia ingin menolong Debo. Namun, di sisi lain, ia tak bisa berbuat itu, kalau ia memang ingin bertahan lama di sekolah ini.
Debo berontak. Tangan kanannya berusaha melepaskan cengkraman tangan Irsyad dari tangan kirinya.
“Biet!” panggil Irsyad. Lalu memberi kode mata agar Obiet membantunya dengan mencengkeram tangan kanan Debo.
Selama beberapa detik, Obiet sempat bimbang. Ia hanya bisa berdiri terpaku.
Debo menatap Obiet. Ia sungguh menaruh harap agar Obiet masih menganggapnya dan tak menghiraukan permintaan Irsyad. Ia pun semakin kuat berusaha melepaskan diri dari cengkraman Irsyad.
Cakka menoleh ke arah Obiet. “Biet! Tunggu apa lagi!”
Obiet menunduk. Tak ada pilihan lain.. kemudian, kakinya melangkah lemas ke arah Debo. Setelah itu, tangannya mencengkeram tangan kanan Debo.
Kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga kujatuhkan air mata
Debo terhenyak. Seketika seluruh badannya terasa lemas. Ia shock melihat Obiet tega berbuat seperti itu padanya.
Cakka tersenyum sinis, lalu melayangkan pukulannya di pipi kanan Debo.. pipi kiri Debo..
Debo tak berdaya. Sikap Obiet kali ini telah membuat seluruh syaraf sel yang ada di tubuhnya mati. Ia sama sekali tak bisa membalas pukulan Cakka.
Dan selanjutnya, Cakka tersenyum puas, sebelum pukulan kerasnya mendarat sukses di perut Debo. Debo menyemburkan darah dari mulutnya. Obiet tercengang. Pukulan Cakka terlalu keras..
Agni mendorong Cakka, menjauh dari Debo, “Lo keterlaluan, Cak?!”
Irsyad dan Obiet melepaskan cengkraman tangannya dari Debo. Debo jatuh terduduk di tanah. Kepalanya menunduk. Pipinya lebam. Pelipisnya agak sedikit robek. Dan darah terus keluar dari bibirnya.
Kekecewaanku sungguh tak berarah,
Biarkan ku harus bertahan
Cakka mendekat ke arah Agni, “Dia yang keterlaluan..”
Oik dan Rahmi saling berpegangan tangan. Mereka menangis hebat.
Agni memukul-mukul dada Cakka dengan tangannya. “Lo.. Lo yang keterlaluan! Lo gag pernah mikir perasaan orang! Lo kejam! Lo-- Lo orang terkejam yang pernah gue temui! Gue benci lo!” ucapnya di luar kendali. Matanya basah. Tangannya mencengkeram kerah baju Cakka. Kemudian ia terduduk lemas di lantai. “Lo kejam..” ucapnya lirih. Matanya semakin deras mengucurkan air mata.
Cakka terdiam. Namun, setelah itu, ia membenarkan kerah bajunya, dan beranjak dari tempat itu. Irsyad mengikutinya. Obiet masih diam terpaku. Tangannya gemetaran. ia telah berbuat suatu kesalahan besar dengan membuat sahabat kecilnya tersebut menjadi sasaran kekejaman kedua temannya. Ia menoleh kearah Debo, yang masih tertunduk tak berdaya. Kemudian, ia menitikkan satu air mata sebelum mengikuti langkah Irsyad serta Cakka. “Maafin aku, Debo..” ucapnya dalam hati.
Debo mengangkat wajahnya dan melihat punggung Obiet yang semakin menjauh. Seketika, ia menangis.. Dadanya terasa sakit. Lebih sakit dibandingkan pukulan-pukulan dari Cakka. Ia sadar.. Obiet telah berubah.. Obiet telah berubah total..
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah..
--to be continued--
_____________________________________________________________________________________________________
Apa yang akan dilakukan Iel?
Mengapa Obiet begitu berusaha melindungi Oik?
Dan..
Apa yang bakal terjadi di antara Debo dan Obiet, selanjutnya?
Nantikan di
FRIENDSHIP NEVER END chapter 4 ..
*domo arigatou*
maaf kalau selama ini q punya salah ..
met menunaikan ibadah puasa ..
RnR yap .. tingkyu .. ^^
______________________________________________________________________________________________________
Waktu terasa berjalan begitu lambat.. Itulah yang ada di benak Gita saat ini. Berulang kali Gita melirik jam tangannya. Rasanya sangat bosan harus mengikuti rapat Osis kali ini. Terlebih, mendengarkan ceramah dari sang ketua OSIS yang tak tau kapan akan berhenti.
“Gita, lo ada usul?” tanya Dayat. Rupanya, sedari tadi ia sadar, bahwa Gita sama sekali tak menyimak perkataannya.
Gita tergagap. “Hah?”
Dayat menghela nafas berat, “Lo gag dengerin gue kan, tadi?”
“Maaf deh, kak..” ucap Gita dengan tampang sememelas mungkin.
Dayat menghela nafas pelan, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh anggota OSIS, “Jadi, ada yang punya usul, acara apa yang sekiranya menarik, untuk pensi tahun ini?”
Irva mengangkat tangan. Dayat mempersilahkannya bicara. “Kan acara utama kita, duel Brothers On 3, yang tentu saja berhubungan dengan musik. Jadi, gimana kalau kita ngambil suatu acara sampingan yang identik dengan musik juga?”
Dayat mengangguk-angguk setuju.
Cahya menambahkan, “Kita bisa menampilkan berbagai jenis aliran musik. Mulai dari jazz, sampai rock.”
Gita mengangkat tangannya cepat. Setelah sedari tadi ia diam karena tak mengerti topik. “Lalu setelah kita menampilkan berbagai jenis musik, di akhir acara, kita bisa menggabungkan musik itu menjadi satu kesatuan lagu.”
“Ide bagus.” ucap Abner.
“Yap.. Gue juga setuju..” sahut Kiki.
Dayat mengangguk-angguk.
“Baiklah.. Deal!” ujar Dayat kemudian.
-
Debo menghentikan langkahnya. Ia memandang poster yang tertempel pada dinding di depannya. Ya.. Poster yang ia lihat di hari pertamanya sekolah disini. Ternyata memang wajah Obiet terpampang jelas di poster itu. Bersama dengan dua orang anggota Brother On 3 yang lain.
Biarkan watu teruslah berputar
Berteman denganmu penuh rasa sabar
“De?” panggil Patton.
Debo menoleh ke arah Patton.
Patton melihat sekilas poster itu, “Oh ini.. BO3 bakal perform besok..”
Debo memandang kembali poster itu, dan mendapati tulisan Brothers On 3, beserta info yang mengatakan bahwa mereka akan perform besok. Kemudian, Debo memasang tampang bertanya-tanya pada Patton. Ia tak mengerti.
“Mereka punya band legendaris. Banyak orang yang kagum akan kedahsyatan mereka waktu nge-band. Hhm .. Seandainya aku bisa mengalahkan mereka di duel BO3 tahun ini, aku gag akan sungkan-sungkan buat mempermalukan mereka.” ucap Patton berapi-api.
“Duel BO3?” tanya Debo.
Patton mengangguk, “Setiap tahun, sekolah ini mengadakan suatu.. yaagh.. bisa dibilang semacam lomba band yang akan diaudisi untuk mendapatkan satu band terbaik. Lalu, satu band yang terpilih akan melawan band BO3 di pensi nanti..”
Debo mangut-mangut. “Kamu gag tertarik?”
Patton terdiam. Sebenarnya ia tertarik juga. Sangat tertarik.. “Tertarik sih.. Tapi ya mana mungkin bisa..”
“Gag ada salahnya dicoba, kan?” tanya Debo.
Patton terhenyak. Ia mengerti maksud Debo. Lalu, sekejap kemudian, ia mengangguk pasti. “Oke! Kita berjuang bersama!”
Debo mengangguk, dan tersenyum. Lalu, ia menatap gambar Obiet pada poster. “Biet.. Tunggu aku..” ucapnya dalam hati.
-
“Sial!” seru Cakka keras sembari mendudukkan dirinya kasar diatas kursi.
“Hei! Lo kenapa, Bro?” tanya Irsyad yang heran melihat gelagat Cakka, yang tiba-tiba datang, lalu marah-marah tak jelas.
Cakka menatap tajam ke arah Irsyad dan Obiet, “Oik! Dia aduin kita colut ke Bu Ira!”
Obiet tersentak.
Irsyad menghela nafas pelan, “Kirain apa, Cak. Tenang aja.. Perkataan Oik gag bakal ditanggapi sama Bu Ira. Dijamin deh, Bu Ira gag bakal pernah berani ngasih hukuman atau apa ke kita.”
“Bukan itu, Syad. Yang gue gag habis pikir! Kenapa dia berani banget sama kita?!” ucap Cakka emosi.
Obiet panik. Ia takut Cakka akan melakukan suatu hal yang buruk pada Oik. “Udahlah Cak.. Masalah kecil aja lo besar-besarin..” ucapnya dengan maksud menyurutkan masalah.
“Masalah kecil, lo bilang? Ini menyangkut nama baik kita, Biet!” ucap Cakka keras.
Dalam hati, Obiet menyesal telah mengucapkan kata-kata itu. Bukannya menyurutkan masalah, justru malah menambah masalah.
“Kita harus buat perhitungan sama dia..” putus Cakka selanjutnya.
-
Shilla dan Angel berulang kali menoleh heran ke arah Sivia yang sedari tadi tampak murung. “Via, lo napa sih?” tanya Shilla.
Sivia mendesah, lalu menceritakan kejadian kemarin pada kedua sohibnya.
“Mendingan lo suruh kakak lo gag usah deketan lagi deh sama tu anak..” saran Angel.
“Yaagh.. Lo tau sendiri kan, kakak gue gimana? Dia tu keras kepala!” ujar Sivia.
“Tapi.. Demi kebaikan dia.. Kenapa gag? Lo pasti bisa vi, maksa kakak lo. Lo kan jago maksa!” ucap Shilla memberi semangat.
Sivia melotot ke arah Shilla, “Lo muji apa ngeledek?”
Gabriel, Sion, dan Riko berlari mendekati mereka bertiga, untuk melepas lelah seusai berlatih basket. Sion duduk di sebelah Sivia, kemudian meluruskan kakinya. Gabriel mengambil air mineral dari dalam tas dan meneguknya. Sementara Riko, duduk di depan Sivia, dan bertanya, “Ada apaan nih?”
Sivia mendengus, dan berujar, “Itu.. Kakak gue.. Kemarin pulang-pulang, gue liat mata dia sembap. Terus gue tanyain.. Dia bilang Obiet gag nepati janjinya buat ketemu dia..”
Gabriel tersedak.
“Aduuh ieel.. Makanya kalau minum pelan-pelan..” omel Angel sembari menepuk-nepuk keras punggung Gabriel.
Sivia melirik sekilas ke arah Gabriel yang masih terbatuk-batuk.
“Terus? Habis itu.. Zahra-nya cerita sesuatu gag, tentang Obiet, ke lo?” tanya Sion.
Sivia mengangguk, dan berkata, “Dia cuma bilang, kalau dia kecewa..”
Gabriel terdiam.. Lalu sejurus kemudian, ia beranjak dari tempat itu.. Ada suatu niat yang harus ia lakukan..
“Iel? Lo mau kemana?” teriak Angel.
Sivia pun beranjak berdiri, dan mengikuti Gabriel.
-
Oik tersudut saat Cakka, Obiet, dan Irsyad mendatanginya. Sementara Rahmi dan Agni, yang semula sedang bersama Oik di halaman sekolah, segera pergi untuk mencari bantuan.
“Apa lo gag tau konsekuensi yang bakal lo dapet, kalau lo berani sama kita?” tanya Cakka tajam.
Oik menatap Cakka, kesal. Dia sudah keterlaluan dan gag bisa dibiarin! “Kamu pikir, aku bakalan takut, gitu?”
Obiet terkejut melihat Oik berkata seperti itu. Ia sungguh takut jika masalah ini akan bertambah runyam.
“ee .. Lo berani banget ya?” bentak Irsyad seraya mendorong Oik hingga gadis itu terjatuh di tanah.
Lagi-lagi, Obiet terkejut melihat sikap Irsyad terhadap Oik, “Syad! Gag usah pake kasar kali!”
“Cewek kayak dia harus dikasarin, Biet..” jawab Irsyad enteng.
Cakka jongkok di depan Oik dan menatap muka Oik yang telah basah karena air mata. Lalu, ia menyunggingkan senyum sinisnya. Diambilnya kaca mata Oik, dan ia lemparkan asal ke belakang.
Oik meraba-raba sekitarnya. Ia tak bisa melihat tanpa kaca matanya. Air matanya pun keluar semakin deras.
Obiet tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tak mungkin membantu mengambilkannya. Ini sama saja, terlihat seperti memihak kepada Oik.
“Ini konsekuensinya.. Sekali lagi lo berani sama kita.. Gue gag segan-segan buat ngeluarin lo dari sekolah ini..” ucap Cakka tajam. Kemudian, ia kembali berdiri, dan berbalik beranjak dari tempat itu. Irsyad dan Obiet ikut berbalik.
Tiba-tiba, langkah Cakka terhenti. Obiet melihat ke arah Cakka dan penasaran mengapa ia berhenti. Kemudian, perhatiannya terpusat pada beberapa orang yang berdiri di depannya. Agni.. Rahmi.. Patton.. dan.. DEG! Obiet sempat tak mempercayai penglihatannya. “De..Debo?” serunya pelan, tak percaya.
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan
“Minta maaf padanya..” ucap Debo tajam.
Rahmi dan Agni segera menghambur ke arah Oik, dan mengambil kaca mata Oik yang tergeletak di tanah, lalu memberikannya kembali pada Oik.
Cakka mendesah lalu melipat tangannya di dada. “hah?”
“Minta maaf padanya..” ulang Debo tajam. Tangannya mengepal kuat.
Cakka tertawa sinis, “Apa? Gue gag denger!”
“MINTA MAAF PADANYA!” seru Debo. Sedetik kemudian, kepalan tangannya mendarat di pipi Cakka.
Obiet dan Irsyad terkejut. Begitu pula dengan Patton. Patton pun segera berbalik untuk memanggil guru-guru yang sekiranya bisa membantu melerai mereka.
Cakka terhenyak. Pipinya berdenyut hebat. Seketika emosinya naik, Ia menatap Debo penuh amarah.
Irsyad segera melayangkan pukulan di pipi Debo, “Lo gag tau siapa kita?!”
Debo hendak membalas, namun tangan Irsyad mendorongnya hingga ia terpojok di dinding. Tangan kiri Debo pun telah tercengkeram kuat oleh Irsyad.
Cakka berjalan mendekati Debo, dan memukul keras pipi kanan Debo.
Obiet tersentak. Dadanya sesak. Ia tak tega melihat sahabat kecilnya diperlakukan sekejam itu oleh Cakka dan Irsyad. Di satu sisi, ia ingin menolong Debo. Namun, di sisi lain, ia tak bisa berbuat itu, kalau ia memang ingin bertahan lama di sekolah ini.
Debo berontak. Tangan kanannya berusaha melepaskan cengkraman tangan Irsyad dari tangan kirinya.
“Biet!” panggil Irsyad. Lalu memberi kode mata agar Obiet membantunya dengan mencengkeram tangan kanan Debo.
Selama beberapa detik, Obiet sempat bimbang. Ia hanya bisa berdiri terpaku.
Debo menatap Obiet. Ia sungguh menaruh harap agar Obiet masih menganggapnya dan tak menghiraukan permintaan Irsyad. Ia pun semakin kuat berusaha melepaskan diri dari cengkraman Irsyad.
Cakka menoleh ke arah Obiet. “Biet! Tunggu apa lagi!”
Obiet menunduk. Tak ada pilihan lain.. kemudian, kakinya melangkah lemas ke arah Debo. Setelah itu, tangannya mencengkeram tangan kanan Debo.
Kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga kujatuhkan air mata
Debo terhenyak. Seketika seluruh badannya terasa lemas. Ia shock melihat Obiet tega berbuat seperti itu padanya.
Cakka tersenyum sinis, lalu melayangkan pukulannya di pipi kanan Debo.. pipi kiri Debo..
Debo tak berdaya. Sikap Obiet kali ini telah membuat seluruh syaraf sel yang ada di tubuhnya mati. Ia sama sekali tak bisa membalas pukulan Cakka.
Dan selanjutnya, Cakka tersenyum puas, sebelum pukulan kerasnya mendarat sukses di perut Debo. Debo menyemburkan darah dari mulutnya. Obiet tercengang. Pukulan Cakka terlalu keras..
Agni mendorong Cakka, menjauh dari Debo, “Lo keterlaluan, Cak?!”
Irsyad dan Obiet melepaskan cengkraman tangannya dari Debo. Debo jatuh terduduk di tanah. Kepalanya menunduk. Pipinya lebam. Pelipisnya agak sedikit robek. Dan darah terus keluar dari bibirnya.
Kekecewaanku sungguh tak berarah,
Biarkan ku harus bertahan
Cakka mendekat ke arah Agni, “Dia yang keterlaluan..”
Oik dan Rahmi saling berpegangan tangan. Mereka menangis hebat.
Agni memukul-mukul dada Cakka dengan tangannya. “Lo.. Lo yang keterlaluan! Lo gag pernah mikir perasaan orang! Lo kejam! Lo-- Lo orang terkejam yang pernah gue temui! Gue benci lo!” ucapnya di luar kendali. Matanya basah. Tangannya mencengkeram kerah baju Cakka. Kemudian ia terduduk lemas di lantai. “Lo kejam..” ucapnya lirih. Matanya semakin deras mengucurkan air mata.
Cakka terdiam. Namun, setelah itu, ia membenarkan kerah bajunya, dan beranjak dari tempat itu. Irsyad mengikutinya. Obiet masih diam terpaku. Tangannya gemetaran. ia telah berbuat suatu kesalahan besar dengan membuat sahabat kecilnya tersebut menjadi sasaran kekejaman kedua temannya. Ia menoleh kearah Debo, yang masih tertunduk tak berdaya. Kemudian, ia menitikkan satu air mata sebelum mengikuti langkah Irsyad serta Cakka. “Maafin aku, Debo..” ucapnya dalam hati.
Debo mengangkat wajahnya dan melihat punggung Obiet yang semakin menjauh. Seketika, ia menangis.. Dadanya terasa sakit. Lebih sakit dibandingkan pukulan-pukulan dari Cakka. Ia sadar.. Obiet telah berubah.. Obiet telah berubah total..
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah..
--to be continued--
_____________________________________________________________________________________________________
Apa yang akan dilakukan Iel?
Mengapa Obiet begitu berusaha melindungi Oik?
Dan..
Apa yang bakal terjadi di antara Debo dan Obiet, selanjutnya?
Nantikan di
FRIENDSHIP NEVER END chapter 4 ..
*domo arigatou*
FRIENDSHIP NEVER END [MUSICAL ADV] --> Chapter 2 : Kecewa
“Baiklah… Tempat ini akan menjadi sasaran melukis kita pada hari ini… Kalian boleh berpencar untuk mencari obyek yang akan kalian lukis… Dan kita berkumpul kembali disini satu jam kemudian… Gunakanlah waktu sebaik mungkin…” komando Bu Uci.
Semua anak serentak mengangguk, kemudian mulai berhambur mencari obyek yang akan mereka lukis. Terkecuali Debo. Ia masih enggan untuk mulai melukis. Karena rasa kekagumannya yang begitu besar pada tempat tersebut. Sebuah padang rumput yang sangat indah. Sungguh tak disangka masih ada tempat seindah ini.
Debo pun menghirup nafas dalam-dalam, menutup matanya, dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, menikmati udara segar. “Ton! Gag nyangka masih ada tempat seperti ini!”
Debo membuka matanya kembali saat Patton tak menyahut perkataannya. Ia menoleh ke arah Patton dan mendapati ia sedang celingak celinguk mencari seseorang, “Cari siapa, Ton?”
Patton sempat tergagap, lalu kemudian ia menjawabnya pelan, “Oik… Kok aku gag liat dia ya dari tadi?”
“Oik sakit…” jawab seorang perempuan yang berpenampilan sedikit tomboy seraya membungkuk lalu mengobrak-abrik tas Patton. “Pinjam cat air ya, Ton…”
Patton mengangguk, “Ag? Memangnya sakit apa dia?”
Agni berdeham sembari tertawa jahil, “Peduli banget…” Namun, saat ia melihat raut wajah Patton yang merengut kesal, ia pun segera kembali serius, “Gag tau juga sih… Tadi dia bilang gag enak badan aja…”
Patton mangut-mangut mengerti.
Sementara Debo, yang tak sepenuhnya mengerti pada topik yang mereka bicarakan, akhirnya memutuskan untuk mulai mencari obyek melukis. Ia langkahkan kakinya melewati hamparan ilalang yang tumbuh sepanjang padang rumput. Sesekali ia memetik bunga ilalang dan meniupkannya bersama angin. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar seseorang bersenandung kecil.
Karena penasaran, Debo pun mencari sumber suara tersebut. Ia terus menyusuri asal suara tersebut dengan indra pendengarannya. Dan ia menemukannya… Seorang gadis yang tengah duduk di bawah sebuah pohon besar. Gadis itu terus bernyanyi, sambil terus menatap ke arah padang ilalang. Berulang kali, ia tersenyum geli saat bunga ilalang menyentuh wajahnya.
Debo terdiam. Gadis yang menarik… Itulah anggapan Debo pertama kali, terhadap gadis tersebut. Memang, ia suka kagum melihat seseorang yang selalu tersenyum saat menyanyi. Menganggap bernyanyi adalah suatu hiburan tersendiri. Dan tanpa sadar, ia mengambil kertas sketsanya dan mulai melukis gadis tersebut. Ia tak tau gerangan apa yang menyuruhnya untuk melukis gadis tersebut. Yang ia tau, tangannya tak mau berhenti untuk tetap menggoreskan pensil, tanpa diminta.
-
“Lo yakin Cak, kita bakalan siap perform lusa?” tanya Irsyad setengah berteriak.
Cakka mendesah pelan, “Kenapa gag?”
Irsyad merengut, lalu melangkah lebih cepat untuk menyamai langkah Cakka yang berada di depannya, “Lo tau sendiri kan, resiko kalau ntar kita gagal? Rating kita bakalan turun, cuy…”
Cakka berhenti berjalan, lalu tersenyum santai, “Tenang aja Syad… Kita serahin semuanya sama Obiet…” ujarnya sembari merangkul Obiet.
Obiet hanya tersenyum tipis. Posisi Obiet sebagai vokalis di band mereka, telah menjadi patokan besar demi kesuksesan mereka. Dan Cakka menganggap, jika Obiet siap, semua akan berjalan dengan baik.
Cakka kembali berjalan, diikuti Irsyad dan Obiet. Hingga langkah mereka terhenti di depan pintu ruang UKS. Sempat terlihat dari jendela, seorang gadis berkaca mata, berkucir dua, sedang terbaring di tempat tidur.
Cakka pun melangkah masuk ke dalam UKS. Irsyad mengikutinya dari belakang. Obiet sempat ragu. Yang ia takutkan adalah jika Cakka dan Irsyad akan melakukan sesuatu yang buruk pada gadis tersebut. Ia sungguh tak mau jika hal itu terjadi.
“Kalian bolos lagi?!” seru gadis itu sambil bangkit dari baringannya. Mata hitamnya menatap Irsyad, Obiet, dan Cakka, satu persatu.
Cakka tersenyum sinis, “Lo sendiri? Bolos juga?”
Kuingin marah,
melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri disini
“Aku sakit… Lagian, mana mungkin aku punya niat semacam itu! Aku gag sama seperti kalian!” ujar gadis itu tajam.
“ee… belagu banget sih lo jadi orang!” jengkel Irsyad.
Gadis itu hanya terdiam seraya terus menatap tajam pada Obiet, Cakka, dan Irsyad. Sementara Obiet, ia tak berhenti berdoa agar Cakka dan Irsyad tak melakukan sesuatu yang buruk pada gadis itu.
“Udahlah Cak… Cabut aja dari sini! Lama-lama emosi juga kalau dekat sama ni cewek!” ajak Irsyad.
Cakka mengangguk dan berbalik beranjak dari tempat itu, diikuti Irsyad. Dalam hati, Obiet menghela nafas lega, karena doanya terkabul. Ia pun menatap gadis itu dan berucap, “Maaf ya, Oik…”
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
Bahwa hatiku kecewa...
-
Suasana ramai menyelimuti kelas 9B. Beberapa anak merasa terbebaskan karena Pak Dave, guru yang kebetulan mengajar pada jam pelajaran saat ini, sedang sakit. Sedangkan beberapa anak justru merasa tak senang, karena rindu akan gurauan dan kekocakan Pak Dave. Begitu pula dengan Sivia…
“Woy vi! Kenapa bengong? BT ya? Kok mukanya tekuk sepuluh gitu?” tanya Gabriel sambil duduk di sebelah Sivia, yang kebetulan sedang kosong karena Shilla, teman sebangku Sivia, sedang pergi ke kamar mandi.
Sivia menghela nafas pelan, dan menempelkan dagunya ke meja. “Kalau Pak Dave memang lagi sakit, kenapa coba, gag ada guru yang gantiin?”
Gabriel tertawa geli. Tangannya pun mengacak rambut Sivia, “Sok rajin banget sih lo…”
Sivia merengut kesal, lalu merapikan kembali rambutnya dengan jari tangannya. “Gue kan memang rajin dari dulu!”
Gabriel mencibir lalu kembali tertawa. Namun sesaat, wajahnya kembali serius. “O ia vi…”
“Hmm?” Sivia menoleh ke arah Gabriel.
“Uhm… Gimana keadaan Zahra?” tanya Gabriel terbata.
Sivia terhenyak. Dadanya terasa sesak saat Gabriel menanyakan keadaan Zahra. “Kak Zahra baik-baik aja kok. Gag usah terlalu khawatir… Dia aman sama gue.” ucap Sivia sambil menepuk bahu Gabriel dan tertawa.
Gabriel tersenyum tipis, “Salam ya buat dia. Jaga diri aja… Lo mah gag bisa diandelin buat jaga dia.” Gabriel pun tertawa keras.
Sivia yang merasa diledek, langsung melempar muka Gabriel dengan buku. “Rese!”
-
“De! Udah belom?! Ayo buruan! Udah mau balik ke sekolah!” seru Patton dari kejauhan.
Rupanya, Debo sempat tak ingat waktu. Ia pun melirik jam tangan merahnya dan menepuk dahi, karena waktu yang diberikan Bu Uci telah habis. Ia buru-buru membereskan perlengkapan melukisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, ia segera berlari menuju ke arah bis sekolahnya.
“Lukis apa tadi? Liat dong…” tanya Patton saat Debo telah naik di bis tersebut.
Debo terdiam. Rasanya malu juga, jika ia menjawab telah melukis seorang gadis. Namun, ia menyerah saat Patton terus memaksa untuk melihatnya. Ia pun membuka tasnya untuk mengambil kertas sketsanya. Dan betapa kagetnya dia, saat tak menemukan kertas sketsanya di tasnya. “Ton, kertasku gak ada!” bisik Debo panik.
Patton terkejut, “Mungkin jatuh tadi!”
Debo mengangguk, mempunyai pikiran yang sama dengan Patton. Karena kebetulan, bis belum berangkat, Debo pun memutuskan untuk mencari kertasnya. Ia pun pamit kepada Bu Uci. Dan Bu Uci mengijinkannya, dengan memberikan waktu lima menit. Debo langsung berlari keluar bis, untuk mengambil kertas sketsanya.
Saat ia menemukan kertasnya tergeletak begitu saja di tanah, ia pun segera mengambil kertas itu. Lalu, ia segera berbalik untuk kembali ke dalam bis. Dan seketika, belum sempat ia berbalik, pandangannya terhenti saat melihat seorang gadis menangis. Ya… Gadis yang dilihatnya tadi… Lebih tepatnya, gadis yang tadi ia lukis…
Kedua alis Debo bertaut. Ia tak mengerti. Bukankah sesaat tadi, gadis itu tersenyum dan menyanyi riang. Mengapa sekarang ia justru menangis? Debo diam terpaku. Selama beberapa menit, otaknya berdebat keras, antara menghampiri gadis itu untuk menanyakannya mengapa ia menangis, atau pura-pura tak menghiraukannya?
Tiba-tiba seseorang menepuknya dari belakang, “De! Lama banget! Yang lain nungguin tuh..” protes Patton.
Debo menempelkan telunjuknya pada bibir, mengisyaratkan Patton untuk diam. Lalu, tangannya menunjuk gadis itu yang tengah menangis.
Patton mengikuti arah tunjukan Debo, dan terperanjat kaget, “Kak Zahra?!”
Debo menoleh ke arah Patton. Sungguh tak disangka Patton mengenalinya.
Patton segera berlari kearah Zahra, dan Debo mengikutinya dari belakang, “Kak Zahra? Kenapa, kak?” tanya Patton cemas.
Debo terdiam. Ia terus mengamati Zahra yang masih terus menangis. Matanya terus mengucurkan air. Dan tampak kesedihan yang amat mendalam disana. Debo tak berdaya. Ia sungguh tak bisa melihat seseorang menangis.
“Aku telpon kak Sivia ya, kak?” tanya Patton sembari mengeluarkan ponselnya. Kemudian, ia mulai mencari nomor Sivia di phonebook ponselnya. Namun, ucapan Zahra kemudian menghentikan kegiatannya.
Demi membunuh waktu
Tak kulihat tanda kehadiranmu
“Dia.. Di.. dia gag da..datang..” ucap Zahra terbata di sela tangisnya.
“Siapa, kak?” tanya Patton.
Zahra terdiam sesaat, lalu kembali menangis, “Obiet..”
Yang semakin meyakiniku
Kau tak datang
DEG! Debo terhenyak. Obiet? Obiet? Benarkah nama itu yang ia sebut? Debo menghela nafas pelan. Ia baru sadar, ia sama sekali tak melihat Obiet hari ini. Apa yang ia lakukan, sampai sampai tak menepati janjinya untuk bertemu Zahra? Beribu pertanyaan terus melayang di benak Debo.
Patton menggumam tak jelas. Sekarang ia mengerti. Tentu saja, ia ikut kesal pada Obiet. “Mungkin dia lagi sibuk, kak. Udah kak.. Gag usah dipikirin.. Lebih baik, kakak pulang ya? Nanti Patton ijinin Bu Uci buat nganterin kakak pulang dulu..”
Zahra menurut. Patton membantu Zahra berdiri. Kemudian, menuntun Zahra berjalan. Dan baru saat itu, Debo menyadari satu hal. Zahra tak bisa melihat..
--to be continued--
____________________________________________________________________________________________________
Talk shows :
Oik : kak! Kok aku dibuat cupu? *plentang* -lempar panci ke nacchi-
Zahra : kak! Kok aku dibuat buta? *bletaak* -lempar pentung ke nacchi-
Nacchi : Hadudduduu… *bonyok* Ni kan cumand fic duann ! Tak apalah…
Oik : Gag! Pokoknya gag terima! Ayo bakar kak Nacchi !!
Debo : Stop! engkau mencuri hatiku hatiku… (? Loh?) --> Reply --> Stop! jangan gitu dunn ..
Nacchi : *gigit jari, terharu* debo! u r my hero!! (peluk dd)
Debo : Kak! Gaa.gg isa na.nafas ..
Nacchi : (lepus peluk) hadduu .. maaf .. ok! T’RIMAKASIH buat semua yg udda nyempetin baca!! Maaf kalau hasilnya mengecewakan!
Cakka : Emang mengecewakan!
Nacchi : Huwaaa! *kembali nangis*
Obiet : (ambil ember) ka’, nangisnya jangan banyak”.. takut embernya gg cukup!
Debo : udah ka’.. cup cup .. Baiklah SD, debo mewakili ka’nacchi, mo ngucapin : RnR yup .. domo arigatou!
Nacchi : eeh .. tunggu !! tapi akku akuin kug, chappi 2 nii kayak’a mank ngecewain! jadi akku minta kritik ‘n sarannya, untuk FNE nii kedepannya! arigatoubi !
Semua anak serentak mengangguk, kemudian mulai berhambur mencari obyek yang akan mereka lukis. Terkecuali Debo. Ia masih enggan untuk mulai melukis. Karena rasa kekagumannya yang begitu besar pada tempat tersebut. Sebuah padang rumput yang sangat indah. Sungguh tak disangka masih ada tempat seindah ini.
Debo pun menghirup nafas dalam-dalam, menutup matanya, dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, menikmati udara segar. “Ton! Gag nyangka masih ada tempat seperti ini!”
Debo membuka matanya kembali saat Patton tak menyahut perkataannya. Ia menoleh ke arah Patton dan mendapati ia sedang celingak celinguk mencari seseorang, “Cari siapa, Ton?”
Patton sempat tergagap, lalu kemudian ia menjawabnya pelan, “Oik… Kok aku gag liat dia ya dari tadi?”
“Oik sakit…” jawab seorang perempuan yang berpenampilan sedikit tomboy seraya membungkuk lalu mengobrak-abrik tas Patton. “Pinjam cat air ya, Ton…”
Patton mengangguk, “Ag? Memangnya sakit apa dia?”
Agni berdeham sembari tertawa jahil, “Peduli banget…” Namun, saat ia melihat raut wajah Patton yang merengut kesal, ia pun segera kembali serius, “Gag tau juga sih… Tadi dia bilang gag enak badan aja…”
Patton mangut-mangut mengerti.
Sementara Debo, yang tak sepenuhnya mengerti pada topik yang mereka bicarakan, akhirnya memutuskan untuk mulai mencari obyek melukis. Ia langkahkan kakinya melewati hamparan ilalang yang tumbuh sepanjang padang rumput. Sesekali ia memetik bunga ilalang dan meniupkannya bersama angin. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar seseorang bersenandung kecil.
Karena penasaran, Debo pun mencari sumber suara tersebut. Ia terus menyusuri asal suara tersebut dengan indra pendengarannya. Dan ia menemukannya… Seorang gadis yang tengah duduk di bawah sebuah pohon besar. Gadis itu terus bernyanyi, sambil terus menatap ke arah padang ilalang. Berulang kali, ia tersenyum geli saat bunga ilalang menyentuh wajahnya.
Debo terdiam. Gadis yang menarik… Itulah anggapan Debo pertama kali, terhadap gadis tersebut. Memang, ia suka kagum melihat seseorang yang selalu tersenyum saat menyanyi. Menganggap bernyanyi adalah suatu hiburan tersendiri. Dan tanpa sadar, ia mengambil kertas sketsanya dan mulai melukis gadis tersebut. Ia tak tau gerangan apa yang menyuruhnya untuk melukis gadis tersebut. Yang ia tau, tangannya tak mau berhenti untuk tetap menggoreskan pensil, tanpa diminta.
-
“Lo yakin Cak, kita bakalan siap perform lusa?” tanya Irsyad setengah berteriak.
Cakka mendesah pelan, “Kenapa gag?”
Irsyad merengut, lalu melangkah lebih cepat untuk menyamai langkah Cakka yang berada di depannya, “Lo tau sendiri kan, resiko kalau ntar kita gagal? Rating kita bakalan turun, cuy…”
Cakka berhenti berjalan, lalu tersenyum santai, “Tenang aja Syad… Kita serahin semuanya sama Obiet…” ujarnya sembari merangkul Obiet.
Obiet hanya tersenyum tipis. Posisi Obiet sebagai vokalis di band mereka, telah menjadi patokan besar demi kesuksesan mereka. Dan Cakka menganggap, jika Obiet siap, semua akan berjalan dengan baik.
Cakka kembali berjalan, diikuti Irsyad dan Obiet. Hingga langkah mereka terhenti di depan pintu ruang UKS. Sempat terlihat dari jendela, seorang gadis berkaca mata, berkucir dua, sedang terbaring di tempat tidur.
Cakka pun melangkah masuk ke dalam UKS. Irsyad mengikutinya dari belakang. Obiet sempat ragu. Yang ia takutkan adalah jika Cakka dan Irsyad akan melakukan sesuatu yang buruk pada gadis tersebut. Ia sungguh tak mau jika hal itu terjadi.
“Kalian bolos lagi?!” seru gadis itu sambil bangkit dari baringannya. Mata hitamnya menatap Irsyad, Obiet, dan Cakka, satu persatu.
Cakka tersenyum sinis, “Lo sendiri? Bolos juga?”
Kuingin marah,
melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri disini
“Aku sakit… Lagian, mana mungkin aku punya niat semacam itu! Aku gag sama seperti kalian!” ujar gadis itu tajam.
“ee… belagu banget sih lo jadi orang!” jengkel Irsyad.
Gadis itu hanya terdiam seraya terus menatap tajam pada Obiet, Cakka, dan Irsyad. Sementara Obiet, ia tak berhenti berdoa agar Cakka dan Irsyad tak melakukan sesuatu yang buruk pada gadis itu.
“Udahlah Cak… Cabut aja dari sini! Lama-lama emosi juga kalau dekat sama ni cewek!” ajak Irsyad.
Cakka mengangguk dan berbalik beranjak dari tempat itu, diikuti Irsyad. Dalam hati, Obiet menghela nafas lega, karena doanya terkabul. Ia pun menatap gadis itu dan berucap, “Maaf ya, Oik…”
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada
Bahwa hatiku kecewa...
-
Suasana ramai menyelimuti kelas 9B. Beberapa anak merasa terbebaskan karena Pak Dave, guru yang kebetulan mengajar pada jam pelajaran saat ini, sedang sakit. Sedangkan beberapa anak justru merasa tak senang, karena rindu akan gurauan dan kekocakan Pak Dave. Begitu pula dengan Sivia…
“Woy vi! Kenapa bengong? BT ya? Kok mukanya tekuk sepuluh gitu?” tanya Gabriel sambil duduk di sebelah Sivia, yang kebetulan sedang kosong karena Shilla, teman sebangku Sivia, sedang pergi ke kamar mandi.
Sivia menghela nafas pelan, dan menempelkan dagunya ke meja. “Kalau Pak Dave memang lagi sakit, kenapa coba, gag ada guru yang gantiin?”
Gabriel tertawa geli. Tangannya pun mengacak rambut Sivia, “Sok rajin banget sih lo…”
Sivia merengut kesal, lalu merapikan kembali rambutnya dengan jari tangannya. “Gue kan memang rajin dari dulu!”
Gabriel mencibir lalu kembali tertawa. Namun sesaat, wajahnya kembali serius. “O ia vi…”
“Hmm?” Sivia menoleh ke arah Gabriel.
“Uhm… Gimana keadaan Zahra?” tanya Gabriel terbata.
Sivia terhenyak. Dadanya terasa sesak saat Gabriel menanyakan keadaan Zahra. “Kak Zahra baik-baik aja kok. Gag usah terlalu khawatir… Dia aman sama gue.” ucap Sivia sambil menepuk bahu Gabriel dan tertawa.
Gabriel tersenyum tipis, “Salam ya buat dia. Jaga diri aja… Lo mah gag bisa diandelin buat jaga dia.” Gabriel pun tertawa keras.
Sivia yang merasa diledek, langsung melempar muka Gabriel dengan buku. “Rese!”
-
“De! Udah belom?! Ayo buruan! Udah mau balik ke sekolah!” seru Patton dari kejauhan.
Rupanya, Debo sempat tak ingat waktu. Ia pun melirik jam tangan merahnya dan menepuk dahi, karena waktu yang diberikan Bu Uci telah habis. Ia buru-buru membereskan perlengkapan melukisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, ia segera berlari menuju ke arah bis sekolahnya.
“Lukis apa tadi? Liat dong…” tanya Patton saat Debo telah naik di bis tersebut.
Debo terdiam. Rasanya malu juga, jika ia menjawab telah melukis seorang gadis. Namun, ia menyerah saat Patton terus memaksa untuk melihatnya. Ia pun membuka tasnya untuk mengambil kertas sketsanya. Dan betapa kagetnya dia, saat tak menemukan kertas sketsanya di tasnya. “Ton, kertasku gak ada!” bisik Debo panik.
Patton terkejut, “Mungkin jatuh tadi!”
Debo mengangguk, mempunyai pikiran yang sama dengan Patton. Karena kebetulan, bis belum berangkat, Debo pun memutuskan untuk mencari kertasnya. Ia pun pamit kepada Bu Uci. Dan Bu Uci mengijinkannya, dengan memberikan waktu lima menit. Debo langsung berlari keluar bis, untuk mengambil kertas sketsanya.
Saat ia menemukan kertasnya tergeletak begitu saja di tanah, ia pun segera mengambil kertas itu. Lalu, ia segera berbalik untuk kembali ke dalam bis. Dan seketika, belum sempat ia berbalik, pandangannya terhenti saat melihat seorang gadis menangis. Ya… Gadis yang dilihatnya tadi… Lebih tepatnya, gadis yang tadi ia lukis…
Kedua alis Debo bertaut. Ia tak mengerti. Bukankah sesaat tadi, gadis itu tersenyum dan menyanyi riang. Mengapa sekarang ia justru menangis? Debo diam terpaku. Selama beberapa menit, otaknya berdebat keras, antara menghampiri gadis itu untuk menanyakannya mengapa ia menangis, atau pura-pura tak menghiraukannya?
Tiba-tiba seseorang menepuknya dari belakang, “De! Lama banget! Yang lain nungguin tuh..” protes Patton.
Debo menempelkan telunjuknya pada bibir, mengisyaratkan Patton untuk diam. Lalu, tangannya menunjuk gadis itu yang tengah menangis.
Patton mengikuti arah tunjukan Debo, dan terperanjat kaget, “Kak Zahra?!”
Debo menoleh ke arah Patton. Sungguh tak disangka Patton mengenalinya.
Patton segera berlari kearah Zahra, dan Debo mengikutinya dari belakang, “Kak Zahra? Kenapa, kak?” tanya Patton cemas.
Debo terdiam. Ia terus mengamati Zahra yang masih terus menangis. Matanya terus mengucurkan air. Dan tampak kesedihan yang amat mendalam disana. Debo tak berdaya. Ia sungguh tak bisa melihat seseorang menangis.
“Aku telpon kak Sivia ya, kak?” tanya Patton sembari mengeluarkan ponselnya. Kemudian, ia mulai mencari nomor Sivia di phonebook ponselnya. Namun, ucapan Zahra kemudian menghentikan kegiatannya.
Demi membunuh waktu
Tak kulihat tanda kehadiranmu
“Dia.. Di.. dia gag da..datang..” ucap Zahra terbata di sela tangisnya.
“Siapa, kak?” tanya Patton.
Zahra terdiam sesaat, lalu kembali menangis, “Obiet..”
Yang semakin meyakiniku
Kau tak datang
DEG! Debo terhenyak. Obiet? Obiet? Benarkah nama itu yang ia sebut? Debo menghela nafas pelan. Ia baru sadar, ia sama sekali tak melihat Obiet hari ini. Apa yang ia lakukan, sampai sampai tak menepati janjinya untuk bertemu Zahra? Beribu pertanyaan terus melayang di benak Debo.
Patton menggumam tak jelas. Sekarang ia mengerti. Tentu saja, ia ikut kesal pada Obiet. “Mungkin dia lagi sibuk, kak. Udah kak.. Gag usah dipikirin.. Lebih baik, kakak pulang ya? Nanti Patton ijinin Bu Uci buat nganterin kakak pulang dulu..”
Zahra menurut. Patton membantu Zahra berdiri. Kemudian, menuntun Zahra berjalan. Dan baru saat itu, Debo menyadari satu hal. Zahra tak bisa melihat..
--to be continued--
____________________________________________________________________________________________________
Talk shows :
Oik : kak! Kok aku dibuat cupu? *plentang* -lempar panci ke nacchi-
Zahra : kak! Kok aku dibuat buta? *bletaak* -lempar pentung ke nacchi-
Nacchi : Hadudduduu… *bonyok* Ni kan cumand fic duann ! Tak apalah…
Oik : Gag! Pokoknya gag terima! Ayo bakar kak Nacchi !!
Debo : Stop! engkau mencuri hatiku hatiku… (? Loh?) --> Reply --> Stop! jangan gitu dunn ..
Nacchi : *gigit jari, terharu* debo! u r my hero!! (peluk dd)
Debo : Kak! Gaa.gg isa na.nafas ..
Nacchi : (lepus peluk) hadduu .. maaf .. ok! T’RIMAKASIH buat semua yg udda nyempetin baca!! Maaf kalau hasilnya mengecewakan!
Cakka : Emang mengecewakan!
Nacchi : Huwaaa! *kembali nangis*
Obiet : (ambil ember) ka’, nangisnya jangan banyak”.. takut embernya gg cukup!
Debo : udah ka’.. cup cup .. Baiklah SD, debo mewakili ka’nacchi, mo ngucapin : RnR yup .. domo arigatou!
Nacchi : eeh .. tunggu !! tapi akku akuin kug, chappi 2 nii kayak’a mank ngecewain! jadi akku minta kritik ‘n sarannya, untuk FNE nii kedepannya! arigatoubi !
FRIENDSHIP NEVER END [MUSICAL ADV] --> Chapter 1 : Lihatlah Lebih Dekat
Debo merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput hijau, di bawah bayang-bayang pohon besar yang berada di tepi sungai. Ia menghirup nafas dalam-dalam, menikmati udara sore yang sangat sejuk.
Obiet duduk menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon yang sangat kokoh, di samping Debo. Ia sangat gelisah saat ini. Beribu kebimbangan bersarang bebas di otaknya. Ia menatap Debo lekat-lekat. Ia tak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya pada Debo. Entah apa reaksi Debo jika ia mengatakannya.
“Biet?” panggil Debo.
Obiet segera tersadar dalam lamunannya dan menatap Debo. Mulutnya membuka sesaat, lalu terkatup kembali. Saat Obiet mengira ia memang tak akan mengatakannya, kata-katanya perlahan meluncur. Dalam hati, ia terus meyakinkan dirinya bahwa ia memang harus mengatakannya, “De… Aku mau pindah ke Jakarta…”
Debo terhenyak. Ia sungguh terkejut mendengar ini. Ia pun hanya bisa diam tak bergeming. Ia sudah tak tau lagi harus me-respon bagaimana. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah bahwa ia tak mau jika takdir harus memisahkannya dengan Obiet, sahabat yang selama ini selalu berada di dekatnya.
“Oh…” jawab Debo pahit, matanya menutup. Ia tak rela harus berpisah dengan Obiet. Tapi, ia tak punya hak mencegahnya untuk tidak pergi.
Hatiku sedih, hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Obiet menatap Debo, sayu. Ia menyesal telah mengatakannya. Jujur, ia tak setuju saat ayah mengajaknya pindah ke Jakarta. Sungguh sulit baginya harus meninggalkan tempat dimana ia dibesarkan ini. Terlebih, meninggalkan Debo, sahabat satu-satunya. Seorang yang selalu mengajarkannya akan arti persahabatan yang mempunyai makna lebih dari apapun.
Hatiku bertanya, hatiku curiga
Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini
Debo membuka matanya perlahan. Kedua bola mata hitamnya menerawang langit yang bergoreskan garis-garis oranye di langit senja.
“Jarak bukanlah alasan untuk memutuskan persahabatan…” ucap Obiet bijak.
Debo melayangkan pandangannya ke arah Obiet. Mata mereka beradu pandang selama beberapa saat, sampai Debo menghela nafas pelan.
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Debo menarik senyumnya. Kemudian, ia beringsut bangkit dari posisinya dan duduk di samping Obiet. “Ya… Jarak yang jauh tak akan bisa memutuskan persahabatan. Kita tetap bersahabat kan?” tanya Debo.
Obiet tersenyum lebar dan mengangguk pasti. “Persahabatan kita tetap terjaga…”
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
-
Debo duduk di sisi tempat tidurnya, sembari terus memandangi bingkai foto yang memamerkan dua wajah manis anak laki-laki. Foto dirinya dan Obiet… Sudah kegiatan rutinnya memandang foto itu sebelum tidur. Dan membuat serpihan kenangan lima tahun yang lalu terputar jelas dalam benaknya. Kejadian di hari terakhirnya berbincang dengan Obiet. Memang sakit mengingatnya. Namun, itulah yang harus ia lakukan supaya ia tak pernah lupa pada satu sosok yang pernah mengisi hari-harinya dengan tawa…
Tempat yang nyaman kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap
-
Debo melangkah menyusuri lorong-lorong, ditemani oleh Pak Duta, salah satu guru di ICJHS (Idola Cilik Junior High School). Sepanjang perjalanan menuju kelas barunya, Pak Duta sesekali menerangkan tempat-tempat yang mereka lewati. Namun, pikiran Debo justru tak terarah ke penjelasan Pak Duta. Ia memikirkan teman-teman baru yang akan ia temui nantinya. Tangannya gemetaran, dan jantungnya berdebar tak karuan. Mungkin dia terkena sindrom grogi anak baru.
Tiba-tiba, sekilas ia melihat suatu poster terpampang di dinding koridor. Foto tiga orang anak terpampang di poster itu. Samar-samar ia melihat satu dari tiga anak itu, cukup mirip dengan seseorang yang ia kenal. Dan saat ia hendak memfokuskan diri untuk lebih jeli melihat poster itu, Pak Duta menegurnya dan memberitahukan bahwa mereka telah sampai di depan kelas Debo.
Pergilah sedih, pergilah resah
Jauhkanlah aku dari salah prasangka
Pak Duta pun membuka pintu kelas VIII D, dan masuk ke dalam, untuk memberitau pada guru pengajar di kelas itu, bahwa ada murid baru. Setelah itu, Pak Duta memberi kode mata agar Debo masuk, sebelum meninggalkan kelas tersebut. Debo mengangguk seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.
“mm… Silahkan perkenalkan diri.” pinta Bu Winda, guru pengajar.
Debo mengangguk dan menatap teman-teman sekelasnya. “Nama saya Andryos Ariyanto. Tapi biasa dipanggil Debo. Salam kenal…”
Bu Winda tersenyum dan memberi kesempatan pada murid-muridnya apabila mereka ingin menanyakan sesuatu pada Debo. Anak-anak mulai mengacungkan tangannya dan berbondong menanyakan sesuatu pada Debo. Mulai dari asal sekolah, tanggal lahir, makanan favorit, serta semua hal yang tak begitu penting. Dan setelah dirasa tak ada pertanyaan lagi, Bu Winda menunjuk satu kursi kosong di samping seorang anak laki-laki berkulit sawo.
Debo melangkahkan kakinya ke kursi tersebut dan disambut dengan cengiran polos teman duduknya tersebut.
“Hai… Namaku Patton. Salam kenal…” ucap laki-laki itu memperkenalkan diri.
Debo menyunggingkan senyum manisnya. Rasa groginya sudah mulai hilang, karena dugaannya terhadap teman-teman barunya yang semula ia anggap sombong, salah. Mereka terlihat sangat ramah.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Dua orang anak laki-laki masuk ke dalam kelas.
“Lagi-lagi telat…” tegur Bu Winda sambil berkacak pinggang.
Salah satu dari dua anak tersebut, maju satu langkah mendekat pada Bu Winda, dan menantangnya, “Protes?” Sementara anak yang satunya, melipat tangannya di dada sambil geleng-geleng kepala, penuh kemenangan.
Debo menyenggol sikut Patton dan bertanya, “Siapa mereka?”
“Mereka BO3… Brother On 3…” jawab Patton berbisik agar Bu Winda tak mendengar obrolan mereka.
“Apaan tuh?” tanya Debo tak mengerti.
“Geng berandalan… Itu geng yang punya kedudukan tinggi di sekolah ini. Semua guru tunduk sama mereka.” ujar Patton.
Debo hanya bisa mengerutkan kening, bingung. “Kok bisa gitu? Bagaimana pun juga, mereka kan tetap murid. Masa’ guru takut sama muridnya sendiri?”
Patton mengangguk setuju, “Aku juga bingung. Yaahh… Mungkin mentang-mentang ketua mereka, anak dari pemilik sekolah ini. Mereka jadi seenaknya sendiri. Setiap murid atau guru yang cari masalah sama mereka, pasti langsung di DO.”
“Yang mana ketua mereka?” tanya Debo penasaran.
Patton menunjuk anak yang melipat tangannya di dada sambil geleng-geleng kepala, “Itu ketuanya… namanya Cakka…”
Kemudian, Patton menunjuk satu anak yang tadi menantang Bu Winda, “Kalau itu Irsyad…”
Debo terus mengamati kedua anak itu dari atas hingga bawah, hingga Bu Winda mengijinkan kedua anak itu duduk di mejanya. Saat mereka berdua melewati meja Debo, sekilas Debo dapat melihat lirikan sinis dari Cakka. Debo hanya bisa menghela nafas pelan. Dan bertekad kuat, ia tak mau mencari masalah dengan mereka…
“Yang satunya mana ya?” ujar Patton sambil celingak-celinguk.
Debo menoleh ke arah Patton dan bertanya, “Apa?”
“Anggota BO3 juga…” jawab Patton.
“Masih ada lagi?” ucap Debo agak sedikit terkejut.
Patton mengangguk, “Iya… Dari namanya, Brother On 3. Terdiri dari 3 anak laki-laki.” terang Patton.
Bertepatan dengan itu, pintu kelas terbuka dan masuklah seorang anak laki-laki.
“Itu dia…” tunjuk Patton pada anak tersebut.
DEG! Debo benar-benar terkejut. Sahabat yang selama ini ia rindukan hadir di depan matanya. Namun kali ini yang membuat ia benar-benar merasa terkejut adalah, sahabat yang selama ini ia anggap sangat anti dengan kekerasan, justru bergabung dengan geng semacam itu.
Pergilah gundah, jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat.. Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana
“Namanya Obiet…” jelas Patton.
Debo diam tak bergeming. Hari pertamanya bersekolah disini, sangat membuatnya shock. Dan ia tak tau, berapa lama ia sanggup bertahan di sekolah ini.
Bu Winda menghela nafas berat saat melihat Obiet masuk, “Obiet… kamu kira ini jam berapa?”
“Maaf…” ucap Obiet lirih.
Bu Winda mencoba untuk meredam emosinya. “Ya udah. Cepat duduk.”
Obiet pun mengangguk dan melangkah ke tempat duduknya. Dan ia tak sadar bahwa ia telah melewati Debo yang sedang diam terpaku.
-
Malam telah larut. Namun, Debo tetap terjaga. Matanya tak pernah lepas dari foto Obiet yang sedari tadi dipegangnya. Ia sungguh tak menyangka jika Obiet telah berubah. Geng berandalan? Mana pernah dulu Obiet berniat bergabung bersama geng seperti itu. Yang Debo tau, Obiet sangat benci dengan kekerasan. Namun, mengapa sekarang justru sebaliknya? Perasaan marah, shock, sedih, kecewa, tak mengerti, bercampur menjadi satu dalam pikirannya.
Kemudian, Debo melayangkan pandangannya ke arah jendela yang tirainya masih tersibak. Ribuan bintang terlihat jelas di langit malam. Debo pun mengucap sesuatu, memohon pada bintang, “Bintang… biarkan aku memahami semua ini…”
Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat, dan ‘kuakan mengerti
--to be continued--
Obiet duduk menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon yang sangat kokoh, di samping Debo. Ia sangat gelisah saat ini. Beribu kebimbangan bersarang bebas di otaknya. Ia menatap Debo lekat-lekat. Ia tak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya pada Debo. Entah apa reaksi Debo jika ia mengatakannya.
“Biet?” panggil Debo.
Obiet segera tersadar dalam lamunannya dan menatap Debo. Mulutnya membuka sesaat, lalu terkatup kembali. Saat Obiet mengira ia memang tak akan mengatakannya, kata-katanya perlahan meluncur. Dalam hati, ia terus meyakinkan dirinya bahwa ia memang harus mengatakannya, “De… Aku mau pindah ke Jakarta…”
Debo terhenyak. Ia sungguh terkejut mendengar ini. Ia pun hanya bisa diam tak bergeming. Ia sudah tak tau lagi harus me-respon bagaimana. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah bahwa ia tak mau jika takdir harus memisahkannya dengan Obiet, sahabat yang selama ini selalu berada di dekatnya.
“Oh…” jawab Debo pahit, matanya menutup. Ia tak rela harus berpisah dengan Obiet. Tapi, ia tak punya hak mencegahnya untuk tidak pergi.
Hatiku sedih, hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Obiet menatap Debo, sayu. Ia menyesal telah mengatakannya. Jujur, ia tak setuju saat ayah mengajaknya pindah ke Jakarta. Sungguh sulit baginya harus meninggalkan tempat dimana ia dibesarkan ini. Terlebih, meninggalkan Debo, sahabat satu-satunya. Seorang yang selalu mengajarkannya akan arti persahabatan yang mempunyai makna lebih dari apapun.
Hatiku bertanya, hatiku curiga
Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini
Debo membuka matanya perlahan. Kedua bola mata hitamnya menerawang langit yang bergoreskan garis-garis oranye di langit senja.
“Jarak bukanlah alasan untuk memutuskan persahabatan…” ucap Obiet bijak.
Debo melayangkan pandangannya ke arah Obiet. Mata mereka beradu pandang selama beberapa saat, sampai Debo menghela nafas pelan.
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Debo menarik senyumnya. Kemudian, ia beringsut bangkit dari posisinya dan duduk di samping Obiet. “Ya… Jarak yang jauh tak akan bisa memutuskan persahabatan. Kita tetap bersahabat kan?” tanya Debo.
Obiet tersenyum lebar dan mengangguk pasti. “Persahabatan kita tetap terjaga…”
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
-
Debo duduk di sisi tempat tidurnya, sembari terus memandangi bingkai foto yang memamerkan dua wajah manis anak laki-laki. Foto dirinya dan Obiet… Sudah kegiatan rutinnya memandang foto itu sebelum tidur. Dan membuat serpihan kenangan lima tahun yang lalu terputar jelas dalam benaknya. Kejadian di hari terakhirnya berbincang dengan Obiet. Memang sakit mengingatnya. Namun, itulah yang harus ia lakukan supaya ia tak pernah lupa pada satu sosok yang pernah mengisi hari-harinya dengan tawa…
Tempat yang nyaman kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap
-
Debo melangkah menyusuri lorong-lorong, ditemani oleh Pak Duta, salah satu guru di ICJHS (Idola Cilik Junior High School). Sepanjang perjalanan menuju kelas barunya, Pak Duta sesekali menerangkan tempat-tempat yang mereka lewati. Namun, pikiran Debo justru tak terarah ke penjelasan Pak Duta. Ia memikirkan teman-teman baru yang akan ia temui nantinya. Tangannya gemetaran, dan jantungnya berdebar tak karuan. Mungkin dia terkena sindrom grogi anak baru.
Tiba-tiba, sekilas ia melihat suatu poster terpampang di dinding koridor. Foto tiga orang anak terpampang di poster itu. Samar-samar ia melihat satu dari tiga anak itu, cukup mirip dengan seseorang yang ia kenal. Dan saat ia hendak memfokuskan diri untuk lebih jeli melihat poster itu, Pak Duta menegurnya dan memberitahukan bahwa mereka telah sampai di depan kelas Debo.
Pergilah sedih, pergilah resah
Jauhkanlah aku dari salah prasangka
Pak Duta pun membuka pintu kelas VIII D, dan masuk ke dalam, untuk memberitau pada guru pengajar di kelas itu, bahwa ada murid baru. Setelah itu, Pak Duta memberi kode mata agar Debo masuk, sebelum meninggalkan kelas tersebut. Debo mengangguk seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.
“mm… Silahkan perkenalkan diri.” pinta Bu Winda, guru pengajar.
Debo mengangguk dan menatap teman-teman sekelasnya. “Nama saya Andryos Ariyanto. Tapi biasa dipanggil Debo. Salam kenal…”
Bu Winda tersenyum dan memberi kesempatan pada murid-muridnya apabila mereka ingin menanyakan sesuatu pada Debo. Anak-anak mulai mengacungkan tangannya dan berbondong menanyakan sesuatu pada Debo. Mulai dari asal sekolah, tanggal lahir, makanan favorit, serta semua hal yang tak begitu penting. Dan setelah dirasa tak ada pertanyaan lagi, Bu Winda menunjuk satu kursi kosong di samping seorang anak laki-laki berkulit sawo.
Debo melangkahkan kakinya ke kursi tersebut dan disambut dengan cengiran polos teman duduknya tersebut.
“Hai… Namaku Patton. Salam kenal…” ucap laki-laki itu memperkenalkan diri.
Debo menyunggingkan senyum manisnya. Rasa groginya sudah mulai hilang, karena dugaannya terhadap teman-teman barunya yang semula ia anggap sombong, salah. Mereka terlihat sangat ramah.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Dua orang anak laki-laki masuk ke dalam kelas.
“Lagi-lagi telat…” tegur Bu Winda sambil berkacak pinggang.
Salah satu dari dua anak tersebut, maju satu langkah mendekat pada Bu Winda, dan menantangnya, “Protes?” Sementara anak yang satunya, melipat tangannya di dada sambil geleng-geleng kepala, penuh kemenangan.
Debo menyenggol sikut Patton dan bertanya, “Siapa mereka?”
“Mereka BO3… Brother On 3…” jawab Patton berbisik agar Bu Winda tak mendengar obrolan mereka.
“Apaan tuh?” tanya Debo tak mengerti.
“Geng berandalan… Itu geng yang punya kedudukan tinggi di sekolah ini. Semua guru tunduk sama mereka.” ujar Patton.
Debo hanya bisa mengerutkan kening, bingung. “Kok bisa gitu? Bagaimana pun juga, mereka kan tetap murid. Masa’ guru takut sama muridnya sendiri?”
Patton mengangguk setuju, “Aku juga bingung. Yaahh… Mungkin mentang-mentang ketua mereka, anak dari pemilik sekolah ini. Mereka jadi seenaknya sendiri. Setiap murid atau guru yang cari masalah sama mereka, pasti langsung di DO.”
“Yang mana ketua mereka?” tanya Debo penasaran.
Patton menunjuk anak yang melipat tangannya di dada sambil geleng-geleng kepala, “Itu ketuanya… namanya Cakka…”
Kemudian, Patton menunjuk satu anak yang tadi menantang Bu Winda, “Kalau itu Irsyad…”
Debo terus mengamati kedua anak itu dari atas hingga bawah, hingga Bu Winda mengijinkan kedua anak itu duduk di mejanya. Saat mereka berdua melewati meja Debo, sekilas Debo dapat melihat lirikan sinis dari Cakka. Debo hanya bisa menghela nafas pelan. Dan bertekad kuat, ia tak mau mencari masalah dengan mereka…
“Yang satunya mana ya?” ujar Patton sambil celingak-celinguk.
Debo menoleh ke arah Patton dan bertanya, “Apa?”
“Anggota BO3 juga…” jawab Patton.
“Masih ada lagi?” ucap Debo agak sedikit terkejut.
Patton mengangguk, “Iya… Dari namanya, Brother On 3. Terdiri dari 3 anak laki-laki.” terang Patton.
Bertepatan dengan itu, pintu kelas terbuka dan masuklah seorang anak laki-laki.
“Itu dia…” tunjuk Patton pada anak tersebut.
DEG! Debo benar-benar terkejut. Sahabat yang selama ini ia rindukan hadir di depan matanya. Namun kali ini yang membuat ia benar-benar merasa terkejut adalah, sahabat yang selama ini ia anggap sangat anti dengan kekerasan, justru bergabung dengan geng semacam itu.
Pergilah gundah, jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat.. Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana
“Namanya Obiet…” jelas Patton.
Debo diam tak bergeming. Hari pertamanya bersekolah disini, sangat membuatnya shock. Dan ia tak tau, berapa lama ia sanggup bertahan di sekolah ini.
Bu Winda menghela nafas berat saat melihat Obiet masuk, “Obiet… kamu kira ini jam berapa?”
“Maaf…” ucap Obiet lirih.
Bu Winda mencoba untuk meredam emosinya. “Ya udah. Cepat duduk.”
Obiet pun mengangguk dan melangkah ke tempat duduknya. Dan ia tak sadar bahwa ia telah melewati Debo yang sedang diam terpaku.
-
Malam telah larut. Namun, Debo tetap terjaga. Matanya tak pernah lepas dari foto Obiet yang sedari tadi dipegangnya. Ia sungguh tak menyangka jika Obiet telah berubah. Geng berandalan? Mana pernah dulu Obiet berniat bergabung bersama geng seperti itu. Yang Debo tau, Obiet sangat benci dengan kekerasan. Namun, mengapa sekarang justru sebaliknya? Perasaan marah, shock, sedih, kecewa, tak mengerti, bercampur menjadi satu dalam pikirannya.
Kemudian, Debo melayangkan pandangannya ke arah jendela yang tirainya masih tersibak. Ribuan bintang terlihat jelas di langit malam. Debo pun mengucap sesuatu, memohon pada bintang, “Bintang… biarkan aku memahami semua ini…”
Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat, dan ‘kuakan mengerti
--to be continued--
Jumat, 28 Mei 2010
aku harus jujur by krispatih
maafkan kali ini aku harus jujur
kau harus tau siapa aku sebenarnya
terfikir dalam ingatku tentang cinta terlarang
selama ini ku pendam
jangan salahkan keadaan ini sayang
semua adalah keterbatasan ku saja
tak mampu menjadi yang kau mau
aku mencoba dan aku tak mampu
[*]
tak bisa lagi mencintaimu
dengan sisi langitkuuu
aku tak sanggup jadi biasa
aku tak sanggup
[**]
tak ada satupun yang mungkin bisa
terima kau seperti aku
mohon jangan salahkan aku lagi
ini aku yang sebenarnya
tak mampu menjadi yang kau mau
aku mencoba dan ku tak mampu
aku tak sanggup
back [*][**]
kau harus tau siapa aku sebenarnya
terfikir dalam ingatku tentang cinta terlarang
selama ini ku pendam
jangan salahkan keadaan ini sayang
semua adalah keterbatasan ku saja
tak mampu menjadi yang kau mau
aku mencoba dan aku tak mampu
[*]
tak bisa lagi mencintaimu
dengan sisi langitkuuu
aku tak sanggup jadi biasa
aku tak sanggup
[**]
tak ada satupun yang mungkin bisa
terima kau seperti aku
mohon jangan salahkan aku lagi
ini aku yang sebenarnya
tak mampu menjadi yang kau mau
aku mencoba dan ku tak mampu
aku tak sanggup
back [*][**]
Sabtu, 20 Maret 2010

Liburan Idola Cilik 3
Keenam finalis Idola Cilik 3 siap nyebur! Foto: dok.kidnesia
Matahari bersinar cerah. Secerah suasana hati finalis Idola Cilik 3 (Icil) yang ikut di hari itu. Mereka adalah Nyopon, Nova, Alvin,
Lintar, Rio, dan Oji.
Keenam finalis sudah siap dengan tas yang terpasang di punggung. Isi tas mereka penuh dengan makanan. Tak sabar, mereka pun bergegas menuju
pintu masuk Water Bom, Pantai Indah Kapuk, Jakarta.
Walaupun panas menyengat, semangat bermain para finalis tetap membara.
Nyopon, misalnya, finalis yang baru saja keluar dari pentas di hari
Minggu (13/3), langsung menceburkan diri. Tidak kelihatan raut sedih di
wajahnya.
Kekalahan itu enggak jadi beban bagi Nyopon. Yang ada, ia ingin segera menyelam.
Rasanya, ia tidak mau kalah disebut sebagai anak nelayan. Bahkan saking
senangnya, Nyopon berenang tanpa pelampung.
Segeernya, bermain di bawah air mancur. Foto: dok.kidnesia
Hehehe, alhasil, Nyopon pun ditegor oleh petugas, karena memang di beberapa wahana diwajibkan menggunakan pelampung atau ban.
Yah, Nyopon, boleh aja enggak pake pelampung tapi kalau kamu berenang di laut, yah. Hihihi...
Siang itu, Senin (15/3), enam finalis Icil 3 diberikan bonus untuk libur dari
latihan rutin. Makanya, mereka diajak ke Waterbom. Wah, senang sekali
dong?
Oh, iya mereka juga ditemani juga oleh beberapa wartawan. Yah, namanya juga idola cilik, harus siap dimanapun untuk diburu oleh wartawan
sekalipun sedang berlibur. Hehehe...
Acara jalan-jalan kali ini, adalah yang ketiga kalinya, loh.
Sebelumnya, mereka berlibur di The Jungle, Bogor dan Dunia Fantasi,
Jakarta.
Walaupun basah-basahan tetep gaya saat difoto, hehehe. Foto: dok.kidnesia
Setiap kali jalan-jalan, punya kesan yang berbeda bagi para finalis Icil 3. Begitupula yang dirasakan Alvin. "Aku seneng sih, ke Waterbom
cuma ada yang kurang, nih. Kurang seru karena enggak ada Daus," cerita
Alvin.
Nova, finalis asal Medan membenarkan apa yamg diceritakan Alvin, ia juga merindukan Daus.
Menurutnya, Daus itu sosok yang ceria dan bikin suasana tambah ramai. Walaupun begitu Nova dan finalis lainnya, tetap menikmati serunya
wahana air di Waterbom.
Wah, Oji meluncur paling pertama. Foto: dok.kidnesia
Adu Keberanian
Ssst, tau enggak, keenam finalis saling adu keberanian! Mereka harus meluncur di atas ketinggian 15 meter. Hiiii, tinggi banget!!!
Dan, ternyata hanya Alvin, Oji dan Lintar yang berani nyoba wahana mengerikan itu. Bagaimana dengan Nova, Nyopon, dan Rio? Mereka kabur
dari wahana itu! Hahaha kocak banget!
Ada juga nih cerita seputar Rio. Awalnya, Rio sempet ogah-ogahan nyebur! Sepertinya, dia belum berani kayak finalis yang lain.
Tapi, lama-lama, Rio enggak tahan juga melihat aksi seru teman-temannya. Dan, byuuur Rio pun bergabung ke kolam. Nah, gitu dong
Rio!
Mendengar cerita liburan finalis Icil 3, jadi kepengen ikut berenang! Hihihi.
Habis seru banget! Oh iya, jangan lupa yah, ikuti terus perkembangan
Icil 3 setiap hari Sabtu pukul 13.00 dan Minggu pukul 14.30. (Annisa/Kidnesia)
Tags: nyopon
Kamis, 11 Maret 2010
PaDObiet n' DAR
Obiet berjalan menuju sekolah yang megah itu dengan wajah dengan pikiran yang kosong , ketika sampai di gerbang sekolah , bel masuk sekolah berbunyi dan membuat Obiet berlari sekencang – kencangnya menuju kelas 8-A , dan ia pun sampai di tempat duduk nya , ternyata Obiet sudah di tunggu oleh teman sebangkunya sekaligus sahabat kecilnya ‘Debo’ , Debo senyum manis ketika mendapati Obiet yang sudah ada di sampingnya ..
“Biet , kok tumben telat?”Tanya Debo
“iyah , tadi lupa beresin buku , jadi tadi beresin buku dulu , soalnya tad malem aku ngurusin kaki aku , kesandung meja .”Jelas obiet . Debo menyeringai tak jelas .
“kenapa sih ? kamu dari tadi senyum sama nyengir mulu ! lagi seneng yah ? bagi-bagi donk ke akuu !!” Tebak Obiet . Debo hanya tersenyum makin manis . “ikhh .. gak jelas !” Sindir Obiet .
“nanti donk bro , aku lagi seneng banget nihh !! nanti yak !! bu Uci udah masuk tuhh .” Kata Debo santai. Obet hanya menicibir .
“pagi anak – anak !” sapa Bu Uci pada murid-murid .
“pagi buu!”balas murid-murid .
Pelajaran pun berlangsung hingga bunyi bel istirahat ,, semua murid segera menghambur keluar kelas kecuali Debo , Obiet , dan Patton .. mereka berkumpul seperti biasa di pojok kelas . mereka membicarakan tentang yang mereka bicarakan -???-
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@di kantin..
“Cak , katanya lo mw tantangin si Debo dkk nya itu tanding futsal ? kapan ?”Tanya Irsyad
“aauu .. kapan-kapan kalii ..”jawab Cakka santai .
“ahh ,, Cakka mahh gak asikk!!”Irsyad manyun . Cakka merangkul Irsyad .
“emank knapa sih syad ? lo pengen banget gw tanding ama diaa , kayaknya gk selevel banget dehh ..” Cakka merendah kan , Cakka memank aktif di bidang olahraga Futsal , tapi kalo Debo , Obiet aktif dalam bidang olahraga kasti . tapi patton aktif di bidang olahraga futsal.
“kan gue pngen liat klo orng yang biasanya main kasti jadi main futsal gue cuman pengen liat , udah lama nehh gue ngidamnyaa .. udah lama banget !!” irsyad Lebay . irsyad membalas rangkulan dari cakka.
“tapi gue gak tertarik tanding ama diiaa!!”Cakka malas dan berdecak .
“yahh .. ahh .. males ahh !!” Irsyad melepas rangkulan dari cakka dan pergi meninggalkan cakka sendiri.
“yahh .. ngambekk!!” gerutu cakka .
###################################### di kelas ..
“ooohhh .. gituuu!! Hahahaha .. deboo , deboo , ckckck ada-ada aja sih !!”kata Obiet tertawa
“ehh ,, denger-denger , si cakka nantangin kita bwat maen futsal niihh .. ton , kan cuman kamu yang
aktif di futsal!! Lo bantuin kita yak!!”pinta Obiet .
“okehh!! Tenang ajjaa ..!!”patton santai .
“okehh mkasih , tpi , kpan yahh si cakka itu mw nanding ama kita ?” sekarang Debo yang berbicara .
“gakk tauu .. smoga aja gak jadii”harap Obiet. Debo dan patton mengangguk .
“heyy .. kalian gak ke kantin ?” Tanya Rahmi yang mengagetkan 3 cowok itu .
“ini lagi mau ke kantin”Patton asal ngomong dan pergi keluar kelas , di ikuti teman-temannya. Ketika ingin keluar melewati pintu kelas , patton dan Deva bertabrakan . ‘GUBRAK!!’ ...
“kalo jalan pakek mata dong , ton!”seru Alvin di belakang Deva yang jg terdorong oleh patton melalui deva -ngerti gk?- .
“maaf yahh!”seru Patton .
“Vin , di mana-mana , orang tuh jalan pakek kaki , bukan pakek mata!”seru Debo. Alvin menyeringai . Deva hanya diam menonton pembicaraan temannya dengan teman yang lain .
“yaudah kita permisih duluu .. mau lewat!”kata Obiet yang memperhatikan ekspresi Deva saat menonton teman-teman yang berbicara -kurang kerjaan-. Deva dan Alvin minggir .
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Gimana gimana ?
Bagus gakk ? maaf yaahh .. masihh jelekk ..
Mau tw debo sneng knpa ? tunggu part selanjutnyaa
aku minta saran yaa ..
“Biet , kok tumben telat?”Tanya Debo
“iyah , tadi lupa beresin buku , jadi tadi beresin buku dulu , soalnya tad malem aku ngurusin kaki aku , kesandung meja .”Jelas obiet . Debo menyeringai tak jelas .
“kenapa sih ? kamu dari tadi senyum sama nyengir mulu ! lagi seneng yah ? bagi-bagi donk ke akuu !!” Tebak Obiet . Debo hanya tersenyum makin manis . “ikhh .. gak jelas !” Sindir Obiet .
“nanti donk bro , aku lagi seneng banget nihh !! nanti yak !! bu Uci udah masuk tuhh .” Kata Debo santai. Obet hanya menicibir .
“pagi anak – anak !” sapa Bu Uci pada murid-murid .
“pagi buu!”balas murid-murid .
Pelajaran pun berlangsung hingga bunyi bel istirahat ,, semua murid segera menghambur keluar kelas kecuali Debo , Obiet , dan Patton .. mereka berkumpul seperti biasa di pojok kelas . mereka membicarakan tentang yang mereka bicarakan -???-
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@di kantin..
“Cak , katanya lo mw tantangin si Debo dkk nya itu tanding futsal ? kapan ?”Tanya Irsyad
“aauu .. kapan-kapan kalii ..”jawab Cakka santai .
“ahh ,, Cakka mahh gak asikk!!”Irsyad manyun . Cakka merangkul Irsyad .
“emank knapa sih syad ? lo pengen banget gw tanding ama diaa , kayaknya gk selevel banget dehh ..” Cakka merendah kan , Cakka memank aktif di bidang olahraga Futsal , tapi kalo Debo , Obiet aktif dalam bidang olahraga kasti . tapi patton aktif di bidang olahraga futsal.
“kan gue pngen liat klo orng yang biasanya main kasti jadi main futsal gue cuman pengen liat , udah lama nehh gue ngidamnyaa .. udah lama banget !!” irsyad Lebay . irsyad membalas rangkulan dari cakka.
“tapi gue gak tertarik tanding ama diiaa!!”Cakka malas dan berdecak .
“yahh .. ahh .. males ahh !!” Irsyad melepas rangkulan dari cakka dan pergi meninggalkan cakka sendiri.
“yahh .. ngambekk!!” gerutu cakka .
###################################### di kelas ..
“ooohhh .. gituuu!! Hahahaha .. deboo , deboo , ckckck ada-ada aja sih !!”kata Obiet tertawa
“ehh ,, denger-denger , si cakka nantangin kita bwat maen futsal niihh .. ton , kan cuman kamu yang
aktif di futsal!! Lo bantuin kita yak!!”pinta Obiet .
“okehh!! Tenang ajjaa ..!!”patton santai .
“okehh mkasih , tpi , kpan yahh si cakka itu mw nanding ama kita ?” sekarang Debo yang berbicara .
“gakk tauu .. smoga aja gak jadii”harap Obiet. Debo dan patton mengangguk .
“heyy .. kalian gak ke kantin ?” Tanya Rahmi yang mengagetkan 3 cowok itu .
“ini lagi mau ke kantin”Patton asal ngomong dan pergi keluar kelas , di ikuti teman-temannya. Ketika ingin keluar melewati pintu kelas , patton dan Deva bertabrakan . ‘GUBRAK!!’ ...
“kalo jalan pakek mata dong , ton!”seru Alvin di belakang Deva yang jg terdorong oleh patton melalui deva -ngerti gk?- .
“maaf yahh!”seru Patton .
“Vin , di mana-mana , orang tuh jalan pakek kaki , bukan pakek mata!”seru Debo. Alvin menyeringai . Deva hanya diam menonton pembicaraan temannya dengan teman yang lain .
“yaudah kita permisih duluu .. mau lewat!”kata Obiet yang memperhatikan ekspresi Deva saat menonton teman-teman yang berbicara -kurang kerjaan-. Deva dan Alvin minggir .
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Gimana gimana ?
Bagus gakk ? maaf yaahh .. masihh jelekk ..
Mau tw debo sneng knpa ? tunggu part selanjutnyaa
aku minta saran yaa ..
hasil massage aku ama linatng
hasil massage aku ama lintang ituu ,,
liat yahh ..
aku :
lo bner" brubahhh ..
gw gk nyngka bngt !!
Lintang :
lo kli yg berubah ok fir gw tau masalah lo lo cuman g mau kan gw deket ma atikah.... tapi gw cuma pengen berteman gw pengen banget lo tuh bisa akur sama tikah gw pengen semua damai gw pengen banget sarah atikah bisa masuk ke ff tapi lo g mau kan.... ywdah gw bingung deh.... eh lo sih g tau atikah tuh lg g punya temen lgi di musuhin dan dia ngincer gw fir.... sarah jg g punya temen gw masih punya rasa kasian fir.... gw masih punya hati!!!!! gw g milih2 tentang berteman fir... knp sih lo g pernah bisa akur sama temen2 gw inget kata2 gw fir!!! " berteman tidak ada batas nya!!!! " jadi klo lo berteman g usah pakek batas!!!! g usah pakek peraturan!!! gw paling g suka kayak gitu!!!! lo waktu itu bisa ngejauhin gw,bisa cemberut di depan gw,bisa berpaling di wajah gw,bisa g dengerin omongan gw,bisa nganggap gw seseorang yg tlah hilang dari dunia ini & satu lagi dan g pernah sadar bahwa gw shabat sejati lo bukan lo doank fir tapi SEMUANYA FIR!!!!! fir seumur hidup gw sampe sekarang NGGAK PERNAH ADA YG NAMANYA BIKIN TIM YG SUKSES SAMPE MASA DEPAN!!!!! fir gw pengen dari hati yg paling dalam lo berubah!!!! lo tau g sih masalah nya itu ada di LO AND ATIKAH g pernah namanya lo bisa akur!!!! lo g nyadar tikah tuh perempuan tikah tuh manusia!!!! tikah punya hati juga punya rasa kasihan semua itu sama kayak lo.... gw g suka benget yg namanya marahan sesama tim.... gw ngerasa persahabatn ini paling ANCUR SEDUNIA fir hati gw sakit sakit!!!! lo tau g sih artinya sakit!!!! gw yakin lo pasti tau!!!! gw yakin banget!!!! tapi knp lo berteman dengan cara g jelas kea gitu berteman milih2,temen g mau kebanyakan!!!!! gimana sih l0!!!!!! apa lo g punya rasa kasihan fir!!!!!! gw g pernah berteman dengan cara kea gitu fir gw rasa persahabatan ini g akan lama lagi fir.... kecuali lo ma tikah bisa akur!!!! klo g bisa ywdah semua bakal ANCUR LEBUR!!!! emang gampang ngomong kayak lo lo boleh ngomong gw berubah boleh!!!!! tapi tolong fir lo g boleh milih2 temen tadi gw dah bilang kan berteman g ada batasnya!!!! duh fir gw dah bingung fir mo ngomong apa lagi gw udah kecewa!!!! kcewa!!!! dan kecewa..... fir??? apa sih salah nya berteman g pakek batas???? apa salah nya fir!!!!! baru kali ini baru kali ini fir gw punya temen yg " BISA MENEROBOS HATI GW YG PALING DALAM INI YG G BISA ATAU G TAU CARA BERTEMAN " gw g tau lo tuh g bisa apa g tau caranya berteman!!!!! pokok nya udah fir.... hati gw udah sakit fir.... pala gw udah sakit fir.... otak gw udah sakit fir..... gw g tau lagi masa depan gw tentang berteman kayak gimana lg fir... badan gw udah panas fir apa lo tau fir??? sekarang rasanya bagaikan hati gw ini masuk neraka jahannam!!!!!! saking gw g suka sama lo gw udah anggap lo perasaan lo tuh udah lebih dari MIA AND IRA!!!!! udah fir gw dah bingung thx selama ini lo udah mau jadi sahabat gw yg palingggggg baik.... thx ya fir.....
aku :
hahahahahah ,,
kepancing jga kan loo !!!
gw pikir lo gak prnah kepancing/bakalan ngabaikan 'semuanya'
tpi ,,
gw gak suka dngan cra lo ,,
gw jga sadar , kalo lo itu bnyk temen ,
jdi gw gk boleh 'egois'
yang bwat gw gak akur ama atikah ,,
masa masa lalu ..
klo gw ktemu atikah/inget atikah ..
gw ke inget waktu gw di musuhin sama atikah , di kolam renang gw di jorokin hampir mw tenggelem ..
adek gw di tangisin mulu ,
dia ngambil temen" yng ada di gw .
dan msih bnyk lgi ..
yang bwat hidup gw 'menderita'
kata-kata lo itu bijak bgt ya tang ..
atikah itu klo gw liat dy ama tmen" nya ..
slalu ...
yaa kea gk musuhan ..
tpii ,,
gw pngen ngapus semua memori masa lalu gw wktu klas 1 - 2
tpi gk bsa..
sbenernya gw itu bsa akur sma atikah ..
tpi ,, styap gw mw ktemu lo ..
lo nya gak ada .. n' setyap gw ketemu/ngeliat lintang .
selalu ama atikah ..
gw di abaiin sendri ..
plingan cmn ada rossa ..
emank sihh ada inayah n' asma yang msih mw temenan ama gw ..
tpi mereka gak bisa gw 'gila' ..
klo dket ama atikah ..
bukan berarti lo ngejauhin gw ..
itu yng bwat gw 'berubah'
maafin gw ya ,,
mungkin gw udh terlalu jahat ama lo ..
sejak munculnya atikah ,,
gw keinget masa lalu ..
yg udah berlalu ..
itu sakkitt bgt rasanya tang ..
gak ada yng tw separah apa hati gw ini di ancurin ama 'atiikah' .. yngg berubah skerng jdi baik sejak klas 4 or 5 ..
gw udah gak bsa berkata-kata ..
klo misanya ini komunikasi ..
klo ini chat/massage/notes ..
gw bisa bawel dan melampiaskan semua isi hati gw..
gw mina maaf lagii ..
pkoknya besok lo , rossa , aisyah , atikah gw traktirr ..
sebagai permintaan maaf gw ..
yng pasti gak bakalan permintaan maafan gw yang gw udh lakuin ke elo!!
satuu lagii ...
gw mw berubah ..
tapii ,
apa lo mw jdi sobat gw lgi ?
Lintang :
SELAMANYA gw akan menjadi sobat lo selamanya..... pasti gw maafin lah......
akku :
Hahaha ..
Qt msuhan gk nympe 2 hari lhoo !
Lintang :
hehehehe kan udh sobat sejati fir! g mungkin terlepas selamanya!!!!
aku :
hoho iyyaa ..
liat yahh ..
aku :
lo bner" brubahhh ..
gw gk nyngka bngt !!
Lintang :
lo kli yg berubah ok fir gw tau masalah lo lo cuman g mau kan gw deket ma atikah.... tapi gw cuma pengen berteman gw pengen banget lo tuh bisa akur sama tikah gw pengen semua damai gw pengen banget sarah atikah bisa masuk ke ff tapi lo g mau kan.... ywdah gw bingung deh.... eh lo sih g tau atikah tuh lg g punya temen lgi di musuhin dan dia ngincer gw fir.... sarah jg g punya temen gw masih punya rasa kasian fir.... gw masih punya hati!!!!! gw g milih2 tentang berteman fir... knp sih lo g pernah bisa akur sama temen2 gw inget kata2 gw fir!!! " berteman tidak ada batas nya!!!! " jadi klo lo berteman g usah pakek batas!!!! g usah pakek peraturan!!! gw paling g suka kayak gitu!!!! lo waktu itu bisa ngejauhin gw,bisa cemberut di depan gw,bisa berpaling di wajah gw,bisa g dengerin omongan gw,bisa nganggap gw seseorang yg tlah hilang dari dunia ini & satu lagi dan g pernah sadar bahwa gw shabat sejati lo bukan lo doank fir tapi SEMUANYA FIR!!!!! fir seumur hidup gw sampe sekarang NGGAK PERNAH ADA YG NAMANYA BIKIN TIM YG SUKSES SAMPE MASA DEPAN!!!!! fir gw pengen dari hati yg paling dalam lo berubah!!!! lo tau g sih masalah nya itu ada di LO AND ATIKAH g pernah namanya lo bisa akur!!!! lo g nyadar tikah tuh perempuan tikah tuh manusia!!!! tikah punya hati juga punya rasa kasihan semua itu sama kayak lo.... gw g suka benget yg namanya marahan sesama tim.... gw ngerasa persahabatn ini paling ANCUR SEDUNIA fir hati gw sakit sakit!!!! lo tau g sih artinya sakit!!!! gw yakin lo pasti tau!!!! gw yakin banget!!!! tapi knp lo berteman dengan cara g jelas kea gitu berteman milih2,temen g mau kebanyakan!!!!! gimana sih l0!!!!!! apa lo g punya rasa kasihan fir!!!!!! gw g pernah berteman dengan cara kea gitu fir gw rasa persahabatan ini g akan lama lagi fir.... kecuali lo ma tikah bisa akur!!!! klo g bisa ywdah semua bakal ANCUR LEBUR!!!! emang gampang ngomong kayak lo lo boleh ngomong gw berubah boleh!!!!! tapi tolong fir lo g boleh milih2 temen tadi gw dah bilang kan berteman g ada batasnya!!!! duh fir gw dah bingung fir mo ngomong apa lagi gw udah kecewa!!!! kcewa!!!! dan kecewa..... fir??? apa sih salah nya berteman g pakek batas???? apa salah nya fir!!!!! baru kali ini baru kali ini fir gw punya temen yg " BISA MENEROBOS HATI GW YG PALING DALAM INI YG G BISA ATAU G TAU CARA BERTEMAN " gw g tau lo tuh g bisa apa g tau caranya berteman!!!!! pokok nya udah fir.... hati gw udah sakit fir.... pala gw udah sakit fir.... otak gw udah sakit fir..... gw g tau lagi masa depan gw tentang berteman kayak gimana lg fir... badan gw udah panas fir apa lo tau fir??? sekarang rasanya bagaikan hati gw ini masuk neraka jahannam!!!!!! saking gw g suka sama lo gw udah anggap lo perasaan lo tuh udah lebih dari MIA AND IRA!!!!! udah fir gw dah bingung thx selama ini lo udah mau jadi sahabat gw yg palingggggg baik.... thx ya fir.....
aku :
hahahahahah ,,
kepancing jga kan loo !!!
gw pikir lo gak prnah kepancing/bakalan ngabaikan 'semuanya'
tpi ,,
gw gak suka dngan cra lo ,,
gw jga sadar , kalo lo itu bnyk temen ,
jdi gw gk boleh 'egois'
yang bwat gw gak akur ama atikah ,,
masa masa lalu ..
klo gw ktemu atikah/inget atikah ..
gw ke inget waktu gw di musuhin sama atikah , di kolam renang gw di jorokin hampir mw tenggelem ..
adek gw di tangisin mulu ,
dia ngambil temen" yng ada di gw .
dan msih bnyk lgi ..
yang bwat hidup gw 'menderita'
kata-kata lo itu bijak bgt ya tang ..
atikah itu klo gw liat dy ama tmen" nya ..
slalu ...
yaa kea gk musuhan ..
tpii ,,
gw pngen ngapus semua memori masa lalu gw wktu klas 1 - 2
tpi gk bsa..
sbenernya gw itu bsa akur sma atikah ..
tpi ,, styap gw mw ktemu lo ..
lo nya gak ada .. n' setyap gw ketemu/ngeliat lintang .
selalu ama atikah ..
gw di abaiin sendri ..
plingan cmn ada rossa ..
emank sihh ada inayah n' asma yang msih mw temenan ama gw ..
tpi mereka gak bisa gw 'gila' ..
klo dket ama atikah ..
bukan berarti lo ngejauhin gw ..
itu yng bwat gw 'berubah'
maafin gw ya ,,
mungkin gw udh terlalu jahat ama lo ..
sejak munculnya atikah ,,
gw keinget masa lalu ..
yg udah berlalu ..
itu sakkitt bgt rasanya tang ..
gak ada yng tw separah apa hati gw ini di ancurin ama 'atiikah' .. yngg berubah skerng jdi baik sejak klas 4 or 5 ..
gw udah gak bsa berkata-kata ..
klo misanya ini komunikasi ..
klo ini chat/massage/notes ..
gw bisa bawel dan melampiaskan semua isi hati gw..
gw mina maaf lagii ..
pkoknya besok lo , rossa , aisyah , atikah gw traktirr ..
sebagai permintaan maaf gw ..
yng pasti gak bakalan permintaan maafan gw yang gw udh lakuin ke elo!!
satuu lagii ...
gw mw berubah ..
tapii ,
apa lo mw jdi sobat gw lgi ?
Lintang :
SELAMANYA gw akan menjadi sobat lo selamanya..... pasti gw maafin lah......
akku :
Hahaha ..
Qt msuhan gk nympe 2 hari lhoo !
Lintang :
hehehehe kan udh sobat sejati fir! g mungkin terlepas selamanya!!!!
aku :
hoho iyyaa ..
Senin, 08 Maret 2010
dengarkan curhat kuu ...
khusus bwat sobatsobat akuu ..
kalian sadar gakk kalo perbuatan kalian itu udah kelewatan ?
kalian sadar gakk kalo kelakuan kalian berubah ?
~Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t’lah hilang
Darimu yang mampu menyanjungku~
aku yakin kalo kalian itu gak bermaksud ..
tapi , perbuatan kalian tuh salah ..
aku ngerasa di lupaiin ..
cman yag sekelas ama aku yng setiaa ..
~Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu
Untuk mengenangmu~
apa karna kalian bukan sekelas kuu ,, jadi kalian bisa gejauh dari akuu ..
bagi akuu cukup 1-2 orang yang udah ngehianatin persahabatan ..
gak usah ada tambahan ..
inget semboyan kita ..
jangan di khianatinn ..
~Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah sobat sejati~
aku tauu , kalian pengen lari dari (...) ,
tapi gak bissaa ..
aku gak suka kelakuan kalian yang berubah drastis kayak gituu ..
jangan di bawa berturut-turut donkk ..
jangan di apus hari saraph + kenangan-kenangan kitaa ..
~Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau
Kenangan yang terindah dalam hidupku~
jangan terima (...) kalo dia bikin kita misahh ..
ingett , dy cmn bwat kalian temen cadangan ..
~Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang t’lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah~
pngen jauhin kalian ,
tapi gak bissaa ..
aku gak bisa lupain semua kenangan yang indah penuh tawa itu ..
aku pengen kayak dulu lagii ..
pliss dehh ,,
jangan lupain semboyan + kenangan terindah + hari saraph yang selalu bikin sakit perut ..
aku cmn bisa bilang kata 'maaf' kalo aku jauhin kalian ..
kalian sadar gakk kalo perbuatan kalian itu udah kelewatan ?
kalian sadar gakk kalo kelakuan kalian berubah ?
~Aku yang lemah tanpamu
Aku yang rentan karena
Cinta yang t’lah hilang
Darimu yang mampu menyanjungku~
aku yakin kalo kalian itu gak bermaksud ..
tapi , perbuatan kalian tuh salah ..
aku ngerasa di lupaiin ..
cman yag sekelas ama aku yng setiaa ..
~Selama mata terbuka
Sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu
Untuk mengenangmu~
apa karna kalian bukan sekelas kuu ,, jadi kalian bisa gejauh dari akuu ..
bagi akuu cukup 1-2 orang yang udah ngehianatin persahabatan ..
gak usah ada tambahan ..
inget semboyan kita ..
jangan di khianatinn ..
~Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah sobat sejati~
aku tauu , kalian pengen lari dari (...) ,
tapi gak bissaa ..
aku gak suka kelakuan kalian yang berubah drastis kayak gituu ..
jangan di bawa berturut-turut donkk ..
jangan di apus hari saraph + kenangan-kenangan kitaa ..
~Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau
Kenangan yang terindah dalam hidupku~
jangan terima (...) kalo dia bikin kita misahh ..
ingett , dy cmn bwat kalian temen cadangan ..
~Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang t’lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah~
pngen jauhin kalian ,
tapi gak bissaa ..
aku gak bisa lupain semua kenangan yang indah penuh tawa itu ..
aku pengen kayak dulu lagii ..
pliss dehh ,,
jangan lupain semboyan + kenangan terindah + hari saraph yang selalu bikin sakit perut ..
aku cmn bisa bilang kata 'maaf' kalo aku jauhin kalian ..
~Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah sobat sejati~
Langganan:
Postingan (Atom)
